Pasbana - Angin sore menyapu halaman tua di Kampa. Di antara pohon asam jawa yang telah hidup ratusan tahun, berdiri sebuah bangunan yang seolah menolak dilupakan zaman: Istana Kampa.
Bukan istana megah dengan dinding emas atau menara menjulang. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia berdiri sebagai ingatan yang pernah nyaris hilang.
Di pedalaman Kampar, jauh sebelum jalan raya dan hiruk modernitas masuk ke wilayah itu, Kerajaan Kampa telah hidup sebagai pusat peradaban Melayu. Catatan penjelajah Portugis, Tomé Pires, pada 1515 menyebut adanya kerajaan penting di kawasan dekat Limo Koto.
Itu berarti, sejak abad ke-15, Kampa bukan daerah sunyi. Ia adalah simpul perdagangan, adat, dan agama yang tumbuh di tepian sungai-sungai Sumatra.
Namun sejarah sering kejam pada bangunannya sendiri.
Istana asli Kampa roboh pada 1950. Tidak banyak foto tersisa. Tidak ada kemewahan yang dapat dipamerkan kepada generasi baru. Yang bertahan justru fragmen-fragmen kecil: cap mohor kerajaan dari perak, peninggalan tua di Masjid Kubro Kampa, serta cerita para Ninik Mamak yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Di banyak tempat, kehilangan seperti itu biasanya berakhir menjadi debu sejarah. Tetapi masyarakat Kampa memilih jalan berbeda.
Pada 2019, pemerintah daerah bersama tokoh adat melakukan rekonstruksi Istana Kampa. Bangunan yang berdiri hari ini memang bukan struktur asli abad ke-15. Namun ia dibangun bukan untuk memalsukan masa lalu. Ia dibangun agar anak cucu masih punya tempat untuk menunjuk dan berkata: “Di sinilah leluhur kami pernah berdiri.”
Ada detail kecil yang sering luput diperhatikan pengunjung. Pohon asam jawa tua di sekitar kawasan istana dipercaya telah menyaksikan pergantian generasi selama ratusan tahun. Ia diam, tetapi menjadi saksi hidup ketika kerajaan bangkit, runtuh, lalu dikenang kembali.
Istana Kampa juga menyimpan jejak penting tentang identitas masyarakat Kampar: adat bersandi syarak. Nilai adat yang berjalan bersama ajaran agama itu membentuk cara hidup masyarakat setempat selama berabad-abad. Sebab kerajaan di masa lalu bukan sekadar soal takhta dan perang, melainkan cara manusia mengatur martabat, hukum, dan kehidupan bersama.
Kini, di tengah dunia yang bergerak cepat dan mudah melupakan akar sejarahnya sendiri, Istana Kampa berdiri dengan pesan yang sunyi tetapi kuat: sebuah peradaban bisa runtuh secara fisik, tetapi belum tentu hilang dari ingatan kolektifnya.
Lalu pertanyaannya, di zaman ketika banyak warisan budaya perlahan ditinggalkan, masihkah kita mau menjaga jejak masa lalu sebelum semuanya benar-benar menjadi cerita yang tak lagi memiliki rumah?
Makin tahu Indonesia.
(*)




