Pasbana - Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika seorang tamu asing berdiri terpaku di sebuah kota kecil di kaki Gunung Marapi. Ia bukan pejabat kolonial, bukan pula perwira militer. Hanya seorang pedagang cerutu dari Amsterdam yang kebetulan memiliki mata seorang penulis.
Namanya Justus van Maurik.
Dalam perjalanan keliling Hindia Belanda tahun 1896, ia singgah beberapa hari di Padang Panjang—dan justru di kota kecil inilah ia menemukan sesuatu yang tidak ia duga: kehidupan yang terasa hangat, hidup, dan hampir romantis.
Padang Panjang baginya seperti kota yang disembunyikan alam. Kabut turun setiap pagi, lalu perlahan tersibak memperlihatkan Marapi menjulang megah. Tidak ada hutan besar atau kemegahan kota pelabuhan. Yang ada hanyalah lembah tenang, udara sejuk pegunungan, dan sapi-sapi merumput di lereng landai yang mengingatkannya pada Swiss.
Namun denyut kota sesungguhnya ada di pasar.
Di persimpangan jalur menuju Padang, Fort de Kock, dan Solok, Padang Panjang menjadi titik temu perdagangan. Pasar dipenuhi orang Melayu dari berbagai nagari. Warna-warna pakaian berpendar seperti perayaan tanpa akhir. Para perempuan tampil anggun dengan kalung emas bertumpuk, gelang di pergelangan, hingga anting panjang yang menarik daun telinga mereka—sesuatu yang asing bagi mata Eropa, tetapi terasa selaras dengan budaya setempat.
Kota kecil ini juga hidup karena garnisun militer. Para prajurit tidak menimbun gaji; mereka membelanjakannya di warung dan pasar, menggerakkan ekonomi lokal. Maurik mencatat ironi menarik: seorang letnan di Hindia hidup lebih layak dibanding rekan mereka di Belanda yang sering hanya menyewa kamar sempit dengan penghasilan pas-pasan.
Di sebuah sekolah pribumi, ia justru menemukan kejutan terbesar. Seorang guru Melayu berpakaian putih mengajar anak-anak tentang dunia, Eropa, dan pengetahuan modern. Murid-murid menyalin huruf Arab dan Latin dengan tekun, bersih, sehat, dan penuh rasa ingin tahu.
Maurik bahkan membandingkan mereka dengan anak-anak miskin di Eropa yang sering datang ke sekolah dalam keadaan lapar dan kedinginan.
Catatannya memperlihatkan paradoks kolonial: kekuasaan asing hadir bersama peluang pendidikan, ekonomi, sekaligus ketimpangan yang tak selalu terlihat oleh pengunjung singkat.
Malam di Padang Panjang dingin. Di hotel kecil milik seorang bernama Ritzberg, ia meminta selimut wol—sesuatu yang tak pernah ia bayangkan di daerah tropis. Tidurnya nyenyak, hingga pagi berikutnya sebuah kejadian kecil menutup kunjungannya.
Ia berulang kali mendengar sapaan ramah dari belakang. Ketika menoleh, tak ada siapa-siapa.
Ternyata seekor beo di sangkar hotel sedang mempermainkannya, menirukan suara manusia dengan sempurna—bahkan mengeluh, “Piringku kosong!”
Momen sederhana itu menjadi kenangan paling hidup dari Padang Panjang: kota kecil yang dingin, ramah, dan penuh kejutan.
Seratus tiga puluh tahun kemudian, banyak hal telah berubah. Jalan beraspal menggantikan jalur kuda, pasar modern berdiri, dan dunia bergerak jauh lebih cepat.
Namun pertanyaannya tetap sama:
Apakah kita hari ini masih mampu melihat kota kita sendiri dengan rasa takjub seperti seorang pengelana yang baru pertama kali tiba?
Apakah kita hari ini masih mampu melihat kota kita sendiri dengan rasa takjub seperti seorang pengelana yang baru pertama kali tiba?
Makin tahu Indonesia.
(*)
(*)






