Notification

×

Iklan

Iklan

Kuflet Hadirkan Redaktur Rakyat Sumbar, Bahas Teknik Penulisan Siaran Pers hingga Feature

02 Mei 2026 | 22:48 WIB Last Updated 2026-05-02T15:48:29Z



Padang Panjang, pasbana — Komunitas Seni Kuflet menggelar diskusi jurnalistik bertema “Teknik Penulisan Siaran Pers” dengan menghadirkan Redaktur Pelaksana Harian Umum Rakyat Sumbar, Jon Kennedy, S.Sos., Sabtu (2/5/2026). 

Kegiatan berlangsung di Sekretariat Kuflet, Padang Panjang, dan diikuti anggota komunitas serta peserta yang tertarik mendalami dunia kepenulisan media.

Ketua Harian Komunitas Seni Kuflet, Nofal, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas literasi media di kalangan pegiat seni dan generasi muda, khususnya dalam memahami tata cara komunikasi publik yang efektif melalui media massa.




“Diskusi ini kami hadirkan agar peserta memahami bagaimana lembaga, komunitas, maupun organisasi dapat menyampaikan informasi secara profesional melalui siaran pers,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Jon Kennedy menjelaskan bahwa siaran pers (press release) merupakan bentuk pemberitahuan resmi dari suatu lembaga yang umumnya disampaikan melalui bagian hubungan masyarakat (humas) kepada media.

“Press release menjadi jembatan antara lembaga dan media massa. Isinya biasanya berupa informasi kegiatan, agenda, pencapaian, ataupun promosi program tertentu,” kata Jon.

Ia menambahkan, siaran pers lazimnya dikirim kepada wartawan sebelum sebuah kegiatan dilaksanakan, agar media memiliki gambaran awal mengenai agenda yang akan berlangsung.

Jon Kennedy juga menekankan pentingnya memahami perbedaan antara siaran pers dan berita jurnalistik.




Menurutnya, siaran pers adalah bahan informasi awal dari lembaga yang masih perlu diolah kembali oleh wartawan dan editor. Sementara berita merupakan produk jurnalistik yang ditulis wartawan berdasarkan data, fakta lapangan, wawancara, dan proses verifikasi sebelum dipublikasikan kepada masyarakat.

“Release itu sifatnya informasi dasar. Sedangkan berita adalah hasil kerja jurnalistik yang telah melalui proses penyuntingan dan verifikasi,” jelasnya.

Ia menyebut, di ruang redaksi media profesional, setiap berita akan melewati tahapan seleksi berjenjang, mulai dari wartawan, editor, redaktur pelaksana, hingga penanggung jawab redaksi. Proses tersebut penting untuk memastikan berita yang terbit memenuhi standar akurasi, keberimbangan, dan kepentingan publik.

Selain materi siaran pers, Jon Kennedy turut membahas praktik jurnalisme investigasi. Menurutnya, liputan investigasi biasanya berkaitan dengan kasus yang memerlukan pengungkapan secara mendalam dan proses penelusuran yang lebih panjang dibanding berita harian biasa. 

“Kesulitan terbesar investigasi sering kali ada pada akses narasumber. Banyak sumber tidak bersedia memberikan keterangan secara terbuka,” ungkapnya.

Dalam situasi tertentu, kata dia, media dapat melindungi identitas narasumber sesuai kaidah etik jurnalistik demi keamanan sumber informasi. Namun, wartawan tetap wajib melakukan verifikasi berlapis agar data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan.




Ia menambahkan, ketelitian membaca pola informasi dan kemampuan analisis wartawan menjadi faktor utama keberhasilan liputan investigasi.

Pada sesi akhir, Jon Kennedy membahas penulisan feature, yakni karya jurnalistik yang dikemas lebih naratif, humanis, dan ringan dibanding hard news.

Menurutnya, feature memberi ruang bagi penulis untuk menggali sisi menarik dari suatu peristiwa, tokoh, budaya, atau fenomena sosial, namun tetap berbasis fakta. 

“Dalam menulis feature, fokuslah pada satu tema agar cerita terasa kuat dan tidak melebar ke mana-mana,” tuturnya.

Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut mendapat sambutan positif dari peserta. Mereka memanfaatkan sesi tanya jawab untuk menggali pengalaman redaksi media, teknik menulis rilis yang efektif, hingga peluang publikasi di media massa.

Kegiatan ini dinilai penting di tengah meningkatnya kebutuhan akan informasi yang akurat dan maraknya penyebaran konten tanpa verifikasi di era digital. Melalui forum seperti ini, Kuflet berharap lahir lebih banyak penulis muda yang memahami etika komunikasi publik serta prinsip dasar jurnalistik profesional. (*/fadhil) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update