Oleh: Prof. Dr. Asril Muchtar, S.SKar., M.Hum.
Pasbana - Sulaiman Juned adalah seniman (sastrawan, penyair, teatrawan/dramawan, sutradara), penulis, jurnalis yang pendidik/dosen atau pendidik/dosen yang seniman. Ia menjadi guru bagi banyak anak-anak muda belia untuk belajar bidang seni (teater, monolog, pantomim), dan sastra (puisi, baca puisi, menulis cerpen) hingga belajar menjadi jurnalis. Antara menjadi ‘guru’, dosen, dan seniman dilakoni dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, dan cenderung konsisten. Sulaiman merefleksikan hasrat dan gagasan seninya dari berbagai imajinasi, kontemplasi, pembacaan terhadap fenomena lingkungan, sosial dan budaya melalui karya artistik puisi dan teater. Dalam amatan saya refleksi artistiknya lebih banyak dituangkan ke puisi.
Sulaiman menyadari bahwa untuk mewujudkan karya-karya seni yang bersifat komunal, seperti teater, musikalisasi puisi atau pembacaan puisi dan cerpen dengan pendukungnya, monolog, diperlukan ruang untuk berproses bersama, hingga dapat digunakan untuk proses latihan dan pendidikan. Ia bersama teman-temannya terutama di ASKI/STSI/ISI Padangpanjang mendirikan Komunitas Seni Kuflet yang dijadikan tempat untuk berolah rasa, pikir, dan kreativitas. Sulaiman bersama Muhammad Subhan dana beberapa seniman lainnya menjadi ‘guru’ di komunitas tersebut. Anak-anak muda dari berbagai latar belakang pendidikan menjadi murid-muridnya yang datang dan pergi silih berganti yang telah menyebar ke berbagai daerah. Mereka mengaplikasikan ilmu dan pengalaman belajar di Komunitas Seni Kuflet. Sulaiman bersama teman-teman seniman telah menabur benih ilmu, pengalaman berolah rasa dan kreativitas seni, dan telah dituai oleh banyak orang dari berbagai kalangan institusi dan masyarakat di berbagai daerah.
Perhatian Sulaiman terhadap puisi tidak hanya sebatas mencipta atau menulis puisi, tetapi juga menggagas menulis antologi puisi bersama dan secara perorangan. Misalnya, antologi puisi Air Mata Sumatera (2026), dan saat ini buku kumpulan puisinya berjudul: “Padangpanjang 999” (2026). Buku Kumpulan Puisi “Padangpanjang 999” menghimpun sekitar 70 puisi yang ditulis sejak tahun 2011 hingga 2025. Puisi-puisi yang terdapat dalam buku kumpulan puisi itu memiliki karakter kuat berupa puisi kontemplatif-religius, simbolik, dan emosional yang memadukan suasana batin, simbol alam, dan spiritualitas Islam dalam lanskap, serta budaya Aceh dan Minangkabau. Budaya Aceh merupakan geneologi budaya yang mengalir kuat dalam tubuh Sulaiman yang menjadi budaya induknya. Sementara budaya Minangkabau telah menjadi bagian keseharian Sulaiman dalam kehidupannya, semenjak ia memilih studi seni teater hingga menjadi dosen di almamaternya ASKI/ISI Padangpanjang, dan menetap di Padang Panjang sejak 1997 hingga saat. Dua budaya ini telah membentuk karakter Sulaiman dalam bersosialisasi dan berbudaya, serta menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan karya-karya seninya. Kemudian ia juga sangat responsif dengan alam lingkungan kedua daerah ini yang turut memperkaya inspirasi ciptaan artistiknya.
Sulaiman memilih judul “Padangpanjang 999” yang diambil dari salah satu puisi dalam buku tersebut: “Padangpanjang 999”, yang ditempatkan pada bagian awal. Puisi “Padangpanjang 999” merupakan puisi yang sarat dengan suasana yang bersifat kontemplasi, emosional, dan simbolik. Kota Padang Panjang menjadi simpul berbagai emosional, tempat berkeluh kesan kepada Tuhan, dan tempat memotret kehidupan masyarakat dalam mengarungi kehidupan dengan topografi alam berbukit-bukit dan lembah serta cuaca yang bersifat khas dengan gerimis, kabut, dan hujan. Berikut ini puisi teks puisi “Padangpanjang 999”
di sini
ada cerita tentang wajah
kita mengambang sepanjang lereng bukit dan gunung
rawatlah hati biar sombong pergi dari sukma. Mengubah
bara jadi api di kepala.
di sini
sedang meriwayatkan legenda
mengirimkan matahari, gerimis dan hujan
mengintip bulan sunyi dipikiran. Menghitung
sansai nyeri menyekap sedang rindu
terjaring di kulit
daun.
di sini
membaca suka-sakit-bahagia-getir
walau kabut dan sepi menjemput. Membaca
diri lewat angina berdesur mengabarkan
resah menggoda jiwa sedang malam
menusukkan pekatnya
sampai ke ubun.
di sini
malam dan siang menjamu debu
diperhidangan musim, tetap saja aku basuh
dengan cinta. Sedang gerimis
mengental
di dada.
: setiap kepak pasti terbang dan hinggap
Ah!
Puisi ini membangun makna melalui metafora alam, suasana batin, dan refleksi kehidupan yang dibangun melalui hubungan manusia dengan kampung halaman, perjalanan batin, kerinduan, pergulatan hidup, serta usaha menjaga hati dan cinta di tengah kesunyian dan penderitaan. Kata “di sini” yang diulang berkali-kali menunjukkan adanya suatu ruang penting, yang bukan hanya tempat fisik, tetapi juga ruang ingatan, pengalaman hidup, dan perenungan spiritual.
“ada cerita tentang wajah
kita mengambang sepanjang lereng bukit dan gunung
rawatlah hati biar sombong pergi dari sukma”
Larik puisi di atas menggambarkan kehidupan manusia di daerah pegunungan Minangkabau (seperti Marapi, Singgalang, Tandikek, Sago dsb) yang diliputi oleh perjalanan dan pengalaman hidup. Makna simboliknya: lereng bukit dan gunung adalah simbol alam Minangkabau sekaligus perjalanan hidup yang tidak mudah; rawatlah hati bermakna ajakan menjaga moral dan kerendahan hati; bara jadi api di kepala, bermakna kemarahan, ego, atau pikiran yang membakar batin manusia. Sulaiman hendak mengingatkan bahwa hidup harus dijalani dengan hati yang bersih agar kesombongan tidak menghancurkan diri.
“sedang meriwayatkan legenda
mengirimkan matahari, gerimis dan hujan
mengintip bulan sunyi dipikiran”
Larik puisi di atas penuh nuansa kenangan dan kerinduan yang diungkapkan atas beberapa simbol, seperti, matahari yang ditafsir menjadi harapan dan kehidupan; gerimis dan hujan bermakna kesedihan, nostalgia, atau air mata; bulan sunyi bermakna kesepian batin, dan; rindu terjaring di kulit daun bermakna kerinduan yang melekat pada alam dan ingatan. Sulaiman hendak menyampaikan melalui teks itu, seperti sedang mengenang masa lalu, legenda kehidupan, dan pengalaman emosional yang terus hidup dalam ingatan.
“membaca suka-sakit-bahagia-getir
walau kabut dan sepi menjemput”
Pada larik ini kehidupan dipandang sebagai campuran berbagai rasa: suka, sakit, bahagia, dan getir. Simbol kabut bermakna hidup yang ngambang dan tidak jelas; sepi bermakna kesendirian; angin mendesur bermakna kegelisahan; malam menusukkan pekatnya sampai ke ubun-ubun bermakna tekanan psikologis yang sangat dalam. Hidup bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga penderitaan dan kecemasan yang harus dihadapi manusia.
“malam dan siang menjamu debu
diperhidangan musim
tetap saja aku basuh dengan cinta”
Simbol debu bermakna kefanaan hidup manusia, seperti debu yang mudah diterbangkan angin dan disapu oleh air; musim perubahan waktu dan keadaan; basuh dengan cinta bermakna cinta menjadi cara bertahan menghadapi kerasnya hidup. Walaupun hidup penuh luka, perubahan, dan kefanaan, manusia tetap dapat memurnikan dirinya melalui cinta dan kasih sayang.
Makna makna puisi ini mengandung: refleksi kehidupan; hubungan manusia dengan alam; spritualitas dan introspeksi.
Refleksi kehidupan menggambarkan perjalanan hidup manusia yang dipenuhi oleh kerinduan, kesunyian, penderitaan, harapan dan cinta.
Hubungan manusia dengan alam menggambarkan alam tidak hanya menjadi latar, tetapi juga menjadi batin melalui gunung, hujan, kabut, daun, dan angin. Semuanya menjadi simbol emosi manusia. Ini sangat dekat dengan tradisi estetika Minangkabau yang memandang alam sebagai sumber hikmah: “alam takambang jadi guru.”
Spritualitas dan introspeksi, puisi ini ingin mengajak pembaca merawat/menjaga hati, menghilangkan kesombongan, memahami kefanaan hidup, menjaga cinta dari diri.
Jika diamati dari perspekstif estetika, puisi ini menunjukkan gaya khas Sulaiman bahwa:
puitik dan metaforis (makna tidak langsung dijelaskan, tetapi disampaikan melalui simbol alam);
kontemplatif (puisi lebih bersifat renungan batin daripada cerita naratif);
dekat dengan lanskap Minangkabau (gunung, gerimis, kabut, dan lereng menghadirkan suasana khas Sumatera Barat)
bernuansa teaterikal (dramatik dan penuh suasana emosional)
Alam Minangkabau dijadikan metafora untuk menggambarkan pergulatan batin manusia. Puisi ini tidak hanya berbicara tentang sebuah tempat, tetapi juga tentang kondisi jiwa manusia yang terus mencari makna hidup.
Angka 999 dalam konteks lebih luas terhadap buku kumpulan puisi ini dapat dimaknai secara simbolik, metaforis, bahkan sufistik. Angka ini tidak sekadar penanda numerik, tetapi menjadi “kode puitik” yang membuka lapisan makna tentang kota, ingatan, spiritualitas, dan identitas budaya.
Angka 999 dapat menjadi sebagai simbol tentang “kesempurnaan/tujuan/capaian yang belum tuntas”. Angka, 9 sering dipahami sebagai angka tertinggi dalam deretan satu digit. Ia melambangkan: puncak perjalanan, kematangan batin, kebijaksanaan, sekaligus akhir dari sebuah siklus. Ketika angka 9 diulang menjadi 999, maknanya menjadi intens. Misalnya, tentang kesunyian yang berulang, pencarian yang tak selesai, atau kerinduan yang terus-menerus. Bagi Sulaiman Juned, Padang Panjang bukan hanya kota geografis, tetapi ruang batin yang terus dipanggil dan dikenang.
Angka 999 dapat pula menjadi simbol atau sebagai kode mistikal dan sufistik. Melalui pendekatan sufistik, angka 999 dapat dibaca sebagai: perjalanan menuju penyempurnaan jiwa, proses fana (melebur diri), dan pencarian cahaya Ilahi. Dalam tradisi tasawuf, pengulangan sering dipakai sebagai bentuk dzikir simbolik. Maka 999 bisa dibayangkan seperti: doa yang berulang, gema batin, atau denyut spiritual yang tak pernah berhenti. Padangpanjang dalam puisi menjadi semacam: “ruang suluk,” tempat penyair bertafakur, tempat kabut, hujan, dan dingin berubah menjadi metafora perjalanan ruhani. Dari beberapa puisi dalam buku kumpulan puisi ini, ditemukan kata-kata yang mengarah ke suasana sufi yang sedang dirasakan dan dialami oleh Sulaiman, dan seperti ia hendak menuju menjadi orang yang relijius.
Angka 999 bisa jadi sebagai lambang ambang antara dunia nyata dan imajinasi. Angka 999 terasa tidak “selesai” menuju 1000. Secara puitik: 1000 melambangkan kepenuhan, sedangkan 999 adalah keadaan “hampir sampai.” Puisi ini dapat dimaknai sebagai: kerinduan yang belum lunas, perjalanan identitas yang belum selesai, atau nostalgia yang terus menggantung. Penyair seolah sengaja berhenti di 999 agar ruang tafsir tetap terbuka.
Angka 999 bukan sekadar judul, tetapi “pintu simbolik” untuk memasuki dunia batin penyair: antara kabut kota, ingatan budaya, dan pencarian makna hidup.
Salah satu puisi berbicara tentang kehidupan, bahwa kehidupan manusia seperti komposisi penderitaan dan kerinduan yang dimainkan dalam suasana kabut batin. Kabut bukan sekadar fenomena alam, tetapi metafora psikologis dan spiritual. Sulaiman menulis puisi dengan judul, “Orkestra Kabut”; judul yang mengelitik, metaforik, dan simbolik.
Puisi ini dibangun oleh tiga kondisi batin penyair: sakit, rindu, dan spiritualitas. Suasana puisi terasa muram, sunyi, dan penuh tekanan batin, tetapi sekaligus menghadirkan pencarian ketenangan religius. Kabut pilihan diksi metaforik yang mengandung makna ketidakjelasan, kesedihan, kegelisahan, kondisi batin yang suram. “Orkestrasi Kabut” dapat dimaknai bahwa kehidupan manusia seperti komposisi penderitaan, dan kerinduan yang dimainkan dalam suasana kabut batin. Kabut bukan sekadar fenomena alam, tetapi metafora psikologis dan spiritual.
Dalam puisi ini ada penekanan berupa pengulangan pada frasa “menyeberangi sakit” yang berarti, membawa membawa penderitaan melewati suatu fase, upaya bertahan, atau perjalanan spiritual menuju ketabahan. Sakit di sini bukan hanya sakit fisik, tetapi: luka batin, trauma, kehilangan, dan kesepian.
Sementara kondisi rindu, dalam baris teks puisi: “rindu—kasih sayang terhidang di perjamuan kabut”, merupakan metafora yang sangat puitik. Teks ini menyampaikan maksud pada cinta dan kasih hadir, tetapi berada dalam suasana kabut, sehingga kebahagiaan terasa samar dan tidak utuh. Perjamuan biasanya melambangkan kebersamaan, namun di sini justru dipenuhi oleh kabut. Hubungan manusia dipenuhi kerinduan dan keterasingan.
Adapun teks, “senyum menyembunyikan luka”, hendak menggambarkan bahwa manusia yang tampak tenang, tetapi sebenarnya menyimpan penderitaan. Ini menunjukkan dimensi psikologis yang dalam, bahwa manusia sering memakai senyum sebagai topeng sosial.
Ada yang menarik disampaikan oleh penyair, melalui, “aku sedang meluruskan hati yang bungkuk.” “Hati yang bungkuk” berarti, hati yang terluka, hati yang menyimpang, boleh jadi juga berati jiwa yang lelah karena penderitaan. Kemudian baris lain teks dituliskan, “meluruskan hati”, penyair mengajak pembaca introspeksi, pemurnian diri, pertobatan spiritual.
Salah satu metafora paling kuat dalam puisi ini adalah “rindu berbalut kafan.” Teks ini menggambarkan rindu dikaitkan dengan kematian, kehilangan, atau sesuatu yang tidak mungkin kembali. Sementara “kafan” menandakan, kefanaan manusia, kesedihan mendalam, sekaligus pengingat religius tentang akhir kehidupan.
Sulaiman rindu dengan pengalaman ritual ketika masih berada di kampung halamannya tentang aktivitas rateb. Ia menulis dalam puisi ini “rateb menyentuh langit keilahian.” Rateb atau berzikir memberikan makna bahwa doa, zikir, penghambaan spiritual sebagai jalan keluar dari penderitaan dengan mendekat diri kepada Tuhan.
Meskipun hidup di Padang Panjang Bersama keluarga kecilnya, Sulaiman tidak bisa memendam rindu akan kampung halamannya. Ia menulis puisi: “Merindui Gampong”. Puisi ini lebih lembut dan nostalgik dibanding “Orkestrasi Kabut”. Gampong dari bahasa Aceh berarti kampung atau desa. Rindu terhadap kampung halaman juga rindu dengan suasana relijius dan kehidupan spritual masyarakat Aceh yang islami.
Suasana relijius dan spiritual masyarakat dipraktikkan melalui aktivitas keagamaan seperti zikir mendekatkan diri kepada Tuhan dengan harapan membersihkan segala noda dosa yang diungkapkan melalui teks, “semoga hati tak jadi hitam”. Teks ini sebagai symbol moral dan relijius menghendaki jauh dari dosa, kesombongan, dan kekosongan spritual. Puisi ini mengandung doa agar manusia tetap bersih secara batin. Suasana relijius yang dirindui oleh penyair adalah Ramadhan, melalui teks “Ramadhan semakin dekat”. Ramadhan dihadirkan bukan sekadar bulan agama, tetapi ruang kerinduan, ruang spiritual, ruang kebersamaan budaya.
Berbagai aktivitas religi dan pengalaman spiritual hingga kuliner khas Aceh menjadi kerinduan penyair terhadap kampung. Penyair menghadirkan memori melalui simbol budaya seperti meunasah surau atau tempat ibadah tradisional Aceh, tadarus di meunasah semalam suntuk sebagai wujud kebersamaan spiritualitas komunal dalam bulan puasa, kanji ie bu makanan tradisional Aceh saat Ramadhan, dan lambai on peugaga kuliner khas Aceh berbahan daun pegagan.
Puisi-puisi yang ditulis oleh Sulaiman Juned memuat berbagai suasana hati, emosional, kontemplasi, simbolik, metaforik, religius, reflektif, restrosfektif, dan sangat dekat dengan budaya lokal. Puisi-puisinya tidak hanya berbicara tentang individu, tetapi juga identitas budaya, spiritualitas Islam, dan hubungan manusia dengan kampung, Tuhan, serta luka batinnya. Tampaknya karena usia sudah menuju senja, penyair ingin lebih dekat dengan Tuhan sehingga beberapa puisinya cenderung sufistik dan relijius.(*)
Kampung Jambak, 17 Mei 2026.





