Pasbana - Di tengah sorotan terhadap kesejahteraan pekerja ekonomi digital, langkah GoTo Gojek Tokopedia memangkas potongan tarif ojek online menjadi hanya 8% bisa menjadi titik balik penting bagi industri ride-hailing nasional.
Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, mengumumkan bahwa pengemudi layanan GoRide nantinya akan menerima hingga 92% dari tarif perjalanan—naik signifikan dibanding skema sebelumnya yang mencapai potongan 20%. Kebijakan ini secara khusus berlaku bagi pengemudi roda dua, sementara skema bagi hasil layanan mobil daring GoCar masih belum berubah.
Namun keputusan tersebut belum langsung berlaku. Implementasi penuh menunggu terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 27 Tahun 2026 yang tengah disiapkan pemerintah sebagai payung regulasi baru ekosistem transportasi online.
Secara ekonomi, kebijakan ini mencerminkan perubahan paradigma bisnis platform digital. Selama satu dekade terakhir, perusahaan teknologi berbasis aplikasi bertumpu pada pertumbuhan agresif dan efisiensi skala. Kini, fokus mulai bergeser menuju keberlanjutan ekosistem—terutama menjaga loyalitas mitra pengemudi sebagai tulang punggung layanan.
Menariknya, GoTo menegaskan bahwa penurunan potongan tarif tidak akan berdampak pada harga perjalanan bagi konsumen maupun menghapus promo yang selama ini menjadi daya tarik pengguna. Artinya, perusahaan mencoba menyeimbangkan tiga kepentingan sekaligus: kesejahteraan mitra, daya beli konsumen, dan stabilitas bisnis.
Langkah lain yang tak kalah strategis adalah penghentian skema langganan GoRide Hemat yang sebelumnya dibebankan kepada mitra pengemudi. Penghapusan model ini memperlihatkan upaya penyederhanaan struktur biaya bagi driver di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya biaya operasional harian.
Dalam perspektif lebih luas, kebijakan ini menunjukkan fase baru ekonomi gig Indonesia: dari sekadar ekspansi pengguna menuju model yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Jika implementasinya berjalan efektif, keputusan ini berpotensi menjadi preseden bagi industri platform digital lain—bahwa pertumbuhan teknologi tak lagi hanya soal aplikasi, tetapi juga distribusi nilai ekonomi yang lebih adil.(*)




