Notification

×

Iklan

Iklan

Rupiah Tembus Rp17.850, Saham Apa yang Masih Bisa Bertahan?

29 Mei 2026 | 23:41 WIB Last Updated 2026-05-29T16:41:26Z


Pasbana - Pasar keuangan Indonesia sedang menghadapi ujian berat. Ibarat cuaca mendung yang tak kunjung reda, tekanan terhadap Rupiah akhirnya membawa kurs menembus level Rp17.850 per Dolar AS pada 29 Mei 2026.

Bagi investor saham, angka ini bukan sekadar deretan digit di layar perdagangan. Kurs Rupiah yang melemah bisa mengubah peta “pemenang” dan “pecundang” di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Lalu, apa sebenarnya pemicunya?

Tekanan datang dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari luar negeri, suku bunga tinggi Amerika Serikat masih menjadi magnet utama arus modal dunia. Bank sentral AS, Federal Reserve, belum memberi sinyal pelonggaran agresif.

Akibatnya, investor asing ramai-ramai menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di saat bersamaan, tensi geopolitik di Timur Tengah membuat harga minyak dunia melonjak. Kekhawatiran terhadap membengkaknya subsidi energi pun ikut menghantui pasar domestik.

Belum selesai sampai di situ, pasar saham Indonesia juga terpukul efek rebalancing indeks MSCI. Beberapa saham big caps keluar dari Global Standard Index sehingga memicu aksi jual investor asing dalam jumlah besar.

Dampaknya terasa langsung di pasar saham.

Sektor yang Paling Tertekan

Beberapa sektor menghadapi tekanan besar akibat biaya impor yang melonjak:

• Farmasi dan FMCG
Banyak emiten masih bergantung pada bahan baku impor. Saat Rupiah melemah, biaya produksi ikut naik. Masalahnya, perusahaan tidak mudah menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

• Perbankan
Secara fundamental bank nasional masih cukup solid. Namun, pelemahan Rupiah berpotensi membuat Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Efeknya, pertumbuhan kredit bisa melambat dan risiko kredit bermasalah meningkat.

Sektor yang Justru Ketiban Durian Runtuh


Di tengah badai kurs, ada juga sektor yang menikmati keuntungan:

• Komoditas dan Eksportir
Emiten batu bara, CPO, minyak, dan gas menjadi pihak yang paling diuntungkan. Pendapatan mereka berbasis Dolar AS, sementara sebagian besar biaya operasional menggunakan Rupiah. Saat kurs naik, laba mereka otomatis terdongkrak.

• Pariwisata dan Perhotelan
Rupiah murah membuat Indonesia lebih menarik bagi wisatawan asing. Hotel, destinasi wisata, dan sektor pendukung pariwisata berpotensi menikmati kenaikan kunjungan.

Meski begitu, investor tidak perlu panik berlebihan. Secara makro, ekonomi Indonesia masih tumbuh di kisaran 5 persen dengan inflasi yang relatif terkendali.

Situasi seperti ini justru menjadi momentum untuk melakukan rebalancing portofolio. Investor sebaiknya mulai fokus pada emiten yang memiliki:
kemampuan menaikkan harga tanpa kehilangan konsumen (pricing power),
utang Dolar AS yang rendah,
dan orientasi ekspor yang kuat.

Pada akhirnya, pelemahan Rupiah memang menciptakan volatilitas jangka pendek. Namun di balik gejolak pasar, selalu ada peluang bagi investor yang mampu membaca arah angin lebih cepat.

Literasi finansial dan disiplin investasi tetap menjadi senjata utama agar tidak mudah terseret kepanikan pasar. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update