Notification

×

Iklan

Iklan

Birokrasi Kehilangan Pesona

13 Juli 2026 | 07:39 WIB Last Updated 2026-07-13T00:39:08Z


Pasbana - Dulu, menjadi pegawai negeri adalah tiket menuju masa depan yang dianggap paling aman. Kini, bagi sebagian anak muda, status itu justru terasa seperti kursi nyaman yang membuat sesak napas.

Data Badan Kepegawaian Negara (Semester I 2026) menunjukkan 2.722 aparatur sipil negara memilih mengundurkan diri atas kemauan sendiri. 

Yang paling mencolok, lebih dari separuh berasal dari kelompok pegawai dengan masa kerja nol hingga lima tahun. Angka itu bukan sekadar statistik perpindahan kerja, melainkan sinyal bahwa birokrasi sedang kehilangan daya pikatnya.

Generasi baru tidak lagi hanya menghitung besaran gaji atau jaminan pensiun. Mereka menimbang ruang untuk bertumbuh, kesempatan berkompetisi secara adil, dan lingkungan kerja yang sehat. 

Ketika promosi lebih ditentukan oleh kedekatan daripada kemampuan, meritokrasi berubah menjadi slogan yang dipajang di dinding, bukan prinsip yang dijalankan.

Persoalan menjadi lebih serius jika muncul praktik-praktik yang mengusik integritas, seperti dugaan manipulasi administrasi atau penyusunan pertanggungjawaban anggaran yang tidak sesuai aturan. 

Bagi pegawai muda yang datang dengan idealisme, situasi semacam itu bukan sekadar tekanan pekerjaan, melainkan dilema moral. Tidak semua orang bersedia menukar ketenangan batin dengan kenyamanan status.

Ada yang buru-buru menilai generasi sekarang terlalu mudah menyerah. Penilaian itu terdengar sederhana, tetapi mengabaikan pertanyaan yang lebih penting: mengapa mereka yang berpotensi justru memilih pergi lebih cepat? 

Jangan-jangan masalahnya bukan pada ketangguhan individu, melainkan pada organisasi yang gagal memberi ruang bagi kompetensi dan integritas.

Pemerintah memang terus menggaungkan penguatan manajemen talenta sebagai bagian dari reformasi birokrasi. Namun, reformasi tidak akan hidup hanya melalui regulasi atau presentasi yang rapi. Ia baru bermakna ketika budaya kerja berubah, ketika profesionalisme mengalahkan patronase, dan ketika integritas tidak terasa sebagai beban.

Kalau tidak, birokrasi akan tetap mampu merekrut talenta terbaik, tetapi semakin kesulitan mempertahankannya. Dan kehilangan orang-orang baik, sesungguhnya, adalah biaya paling mahal yang jarang tercatat dalam laporan keuangan negara. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update