Notification

×

Iklan

Iklan

Film Dokumenter “Silek Sitaralak” Mengangkat Warisan Silat ke Ranah Tari Kontemporer

24 Juli 2026 | 13:58 WIB Last Updated 2026-07-24T12:28:27Z
Poster  Film Silek Sitaralak di JAFF 2023, dok. Istimewa)


Oleh: Yunita Khaerul Khatimah


Pasbana - Angin pesisir berembus pelan di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Di halaman surau, tubuh-tubuh bergerak dalam pola terlatih: tangan terangkat, kaki menyilang, tatapan lurus ke depan, yang tampak bukan amarah, melainkan kendali. Gerak terukur itu dikenal sebagai Silek Sitaralak, salah satu aliran silat Minangkabau yang diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari adat, pendidikan karakter, sekaligus sistem pertahanan diri masyarakat.

Warisan ini direkam dalam film dokumenter Silek Sitaralak karya sutradara Hery Sasongko. Film tersebut tidak hanya mendokumentasikan tradisi, tetapi juga menafsir ulang makna silek di tengah perubahan zaman, ketika jurus-jurus lama perlu menemukan ruang baru agar tetap relevan. 

Warisan yang Tumbuh dari Pesisir

Dalam tradisi Minangkabau, silek adalah jalan pendidikan. Di surau, ia menanamkan disiplin, ketekunan, kesabaran, serta penghormatan pada guru dan adat. Kini, silek menjadi identitas budaya bersama. Berkembang di pesisir barat Sumatera, Silek Sitaralak dikenal agresif dan praktis, dirancang untuk situasi nyata. konsep gerak seperti “ula lalok” dan “tangkok salendang”, dua sifat yang menegaskan kelenturan sekaligus kecermatan. 

Ada pula “pandang harimau” dan “pandang kabau jalang”, yang secara visual tampak seperti sorot mata penuh kewaspadaan. Gerakan-gerakan ini mengajarkan bahwa pertahanan bukan hanya soal kekuatan fisik, melainkan juga ketelitian membaca situasi—nilai yang ditangkap Hery melalui pendekatan dokumenter yang peka dan reflektif.

Pemutaran film Silek Sitaralak di JAFF 2023, dok. Istimewa)


Menghidupkan tradisi lewat kamera
Hery tidak hadir sebagai pengamat luar yang sekadar merekam keunikan budaya. Ia mendekati Silek Sitaralak sebagai ruang hidup—tempat nilai, gerak, dan identitas saling berkaitan. Film ini memperlihatkan para guru dan praktisi yang tetap setia menjaga tradisi di tengah perubahan sosial yang cepat.

Globalisasi, hiburan digital, olahraga modern, hingga sistem pendidikan formal yang semakin padat membuat ruang belajar tradisi kian menyempit. Minat generasi muda terhadap silek pun tidak selalu stabil. Dalam konteks inilah film ini mengambil peran penting sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Namun Hery tidak berhenti pada narasi pelestarian. Ia melangkah lebih jauh dengan menunjukkan bahwa tradisi dapat bertransformasi tanpa kehilangan akarnya.

Dari Jurus ke Panggung

Salah satu fokus utama film ini adalah Ali Sukri, koreografer yang menjadikan Silek Sitaralak sebagai dasar penciptaan tari kontemporer. Di tangannya, jurus-jurus yang lahir dari kebutuhan bertahan hidup diterjemahkan menjadi bahasa tubuh panggung.

Proses ini membutuhkan kepekaan yang tidak sederhana. Ali tidak sekadar memindahkan gerak silek ke atas panggung, tetapi mengolahnya dengan memperhatikan ritme, ruang, intensitas, serta relasi antartubuh dalam komposisi artistik. Ia berupaya menjaga ruh tradisi, sembari membuka ruang tafsir baru.

Kekuatan agresif Silek Sitaralak tetap terasa, tetapi dalam konteks yang berbeda. Jika di gelanggang gerak dirancang untuk melumpuhkan lawan, di panggung ia menjelma menjadi ekspresi, narasi, bahkan refleksi sosial. Strategi memanfaatkan kekuatan lawan berubah menjadi dialog antarpenari. 

Tatapan tajam menjadi simbol kewaspadaan terhadap perubahan zaman. Transformasi ini menegaskan pesan penting film: tradisi tidak harus membeku untuk tetap otentik namun dapat bergerak, beradaptasi, dan menemukan medium baru selama nilai dasarnya tetap dijaga.


Jejak Sinematik Sutradara
Sebagai sineas, Hery Sasongko telah menapaki berbagai panggung festival. Ia pernah terlibat dalam program Light of Asia di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada 2007, sebuah ruang apresiasi bagi sineas Asia dengan perspektif khas dan kuat.

Salah satu karyanya yang menonjol adalah Hanung Ing Larung. Film ini meraih apresiasi di sejumlah ajang selain di JAFF ke-2 pada tahun 2007, antara lain Bali International Film Festival (BIFFEST), Gatra Kencana HUT TVRI , LA Indie Movie tahun 2007 serta masuk nominasi kategori Film Pendek Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2008. Rangkaian pencapaian tersebut memperkaya perspektif artistiknya, terutama dalam membaca hubungan antara narasi personal dan konteks sosial yang lebih luas.

Pengalaman itu terasa kuat dalam Silek Sitaralak. Kamera tidak sekadar menjadi alat dokumentasi, melainkan hadir sebagai bahasa visual yang terarah dan komunikatif. Melalui pengambilan gambar yang tenang dan penuh perhatian pada detail, Hery mengajak penonton menyelami makna di balik setiap gerak.

Dari Komunitas ke Festival

Pada 2023, Silek Sitaralak diputar di JAFF ke-18 melalui program Layar Komunitas dalam subprogram “Focus on Sumatra Island with Kenduri Serumpun Melayu”, kolaborasi JAFF dan Kenduri Serumpun Melayu Film Festival. Program ini menyoroti keragaman budaya Sumatra melalui karya sineas komunitas.

Penayangan tersebut menjadi momentum penting karena film ini tampil sebagai representasi identitas budaya Indonesia di ruang festival. Pada tahun yang sama, film ini juga diputar di Kenduri Serumpun Melayu Film Festival Jambi dan Medan Film Festival (MFF), memperluas jejaring apresiasi antardaerah.

Karya ini menegaskan kekuatan dokumenter budaya dalam membangun wacana identitas dan keberagaman. Tradisi ditampilkan sebagai praktik hidup yang diwariskan, ditafsir ulang, dan tetap relevan mengikuti perkembangan zaman. (*) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update