Notification

×

Iklan

Iklan

Menolak Punah, Mahasiswa Pascasarjana Seni Rupa Lestarikan Catur Harimau Lewat Mural di Ruang Publik

14 Juli 2026 | 23:37 WIB Last Updated 2026-07-14T16:37:32Z
 


Bukittinggi, pasbana— Di tengah pesatnya perkembangan permainan digital yang semakin digemari anak-anak dan remaja, keberadaan permainan tradisional perlahan mulai tersisih. Kondisi ini mendorong Bayu Rahmat Risyah, mahasiswa Pascasarjana Seni Rupa, untuk menghadirkan cara kreatif dalam mengenalkan kembali warisan budaya Minangkabau kepada generasi muda melalui media mural.

Karya mural yang dibuat di Sekolah Alam Bukittinggi pada 13–14 Juni 2026 tersebut mengangkat Catur Harimau, salah satu permainan tradisional Minangkabau yang kini mulai jarang dikenal masyarakat. Melalui pendekatan visual yang ilustratif, Bayu tidak sekadar mendokumentasikan permainan tersebut, tetapi mentransformasikannya menjadi karya seni publik yang komunikatif, ramah, dan mudah dipahami oleh masyarakat, khususnya anak-anak.

Menurut Bayu Rahmat Risyah, Catur Harimau diperlakukan sebagai objek budaya yang layak dibaca ulang menggunakan bahasa visual masa kini. Pendekatan ini dipilih agar permainan tradisional tidak hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup, relevan, dan dekat dengan kehidupan generasi sekarang.

"Permainan tradisional bukan hanya sekadar hiburan. Di dalamnya terdapat ingatan kolektif, strategi sosial, hingga nilai-nilai pewarisan antargenerasi yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak," ujarnya.




Ia menjelaskan, anak-anak saat ini memang tidak bisa dipaksa meninggalkan permainan digital yang dianggap lebih menarik. Namun, tanpa disadari, permainan berbasis gawai cenderung membuat mereka lebih pasif. Sebaliknya, permainan tradisional seperti Catur Harimau mampu melatih kemampuan berpikir strategis, keterampilan motorik, kecerdasan emosional, kecekatan, sekaligus membangun interaksi sosial antaranak.

"Mereka belajar bekerja sama, menyusun strategi, bersabar, sekaligus bergerak aktif. Nilai-nilai seperti inilah yang mulai berkurang ketika anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar," paparnya.

Bayu menambahkan, mural yang ditempatkan di lingkungan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersebut sengaja menghadirkan berbagai simbol budaya Minangkabau sebagai bagian dari komposisi visualnya. Rumah Gadang, warna marawa (hitam, merah, dan kuning), deta, tingkuluak tanduak, hingga lanskap pegunungan dihadirkan bukan sekadar sebagai ornamen, melainkan untuk memperkuat identitas visual sekaligus konteks budaya permainan Catur Harimau.




Menurutnya, sebagai karya seni publik yang hadir di ruang terbuka, mural memiliki peran sebagai media edukasi dan komunikasi yang dapat diakses secara langsung oleh masyarakat, terutama anak-anak.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Alam Bukittinggi, Yulia Utari, mengaku sangat mengapresiasi kehadiran mural tersebut. Selain memperindah lingkungan sekolah, karya seni itu juga menjadi sarana pembelajaran yang mampu memperkenalkan kembali budaya lokal kepada para siswa.

"Lukisan mural ini sangat menarik perhatian anak-anak. Ketika mereka kembali masuk sekolah setelah libur, banyak yang langsung bertanya mengenai apa itu Catur Harimau. Selama ini mereka mungkin hanya mengenal permainan catur modern. Lewat mural ini, mereka memperoleh pengetahuan baru tentang permainan tradisional yang kini mulai jarang ditemui oleh generasi muda," tuturnya.

Yulia menambahkan, sekolah merasakan dampak yang sangat positif dari kegiatan tersebut. Ia berharap semakin banyak permainan tradisional Minangkabau yang dapat diangkat dan divisualisasikan melalui karya seni di lingkungan pendidikan sehingga anak-anak semakin dekat dengan budaya daerahnya sendiri.




Di akhir keterangannya, Bayu berharap mural tersebut dapat menjadi jembatan untuk mengenalkan seni rupa sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai budaya lokal di tengah masyarakat.

"Melalui mural ini, saya ingin memperkenalkan seni rupa kepada generasi muda sekaligus mengajak mereka kembali mengenal permainan tradisional. Seni mural memiliki karakter yang lebih fleksibel karena hadir langsung di ruang publik dan berinteraksi dengan masyarakat. 

Harapannya, karya ini dapat menjadi pemantik agar anak-anak kembali bermain di ruang terbuka, bersosialisasi dengan lingkungannya, serta mengenal kembali kekayaan budaya Minangkabau melalui Catur Harimau," pungkasnya. (*/Soerya)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update