Padang, pasbana– Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Langkah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, menggelar Festival dan Seminar Teater Indonesia di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya, Selasa (1/7/2026).
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi teater untuk membahas berbagai perspektif mengenai seni pertunjukan, mulai dari konsep pamenan hingga proses kerja kreatif dalam teater.
Ketua UKM Teater Langkah, Maul, mengatakan seminar tersebut menghadirkan tiga narasumber. Mereka adalah dosen teater ISI Padangpanjang, Dr. Sahrul Nazar, S.S., M.Si., yang membawakan makalah berjudul "Konsep Pamenan dalam Teater Modern Sumatera Barat"; Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., dengan makalah "Kerja Kreatif Teater"; serta Pembina UKM Teater Langkah, Dr. Drs. Syafril, M.Si., yang memaparkan materi "Manfaat Teater".
Dalam paparannya, Dr. Sahrul Nazar menjelaskan bahwa pamenan merupakan sesuatu yang dicintai atau memberikan rasa keindahan. Menurutnya, dalam teater terdapat empat bentuk pamenan.
Pertama, Pamenan Mata, yakni visualisasi yang menghadirkan nilai estetika. Kedua, Pamenan Kata, yaitu penggunaan bahasa yang indah dan bernilai artistik. Ketiga, Pamenan Telinga, berupa unsur audio yang memberikan pengalaman estetis.
Sementara yang keempat adalah Pamenan Rasa dan Periksa, yakni keindahan yang dibangun di atas nilai-nilai etika dan kebijaksanaan.
"Keempat unsur tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun pertunjukan teater yang tidak hanya indah secara artistik, tetapi juga bermakna," ujarnya.
Sementara itu, Dr. Sulaiman Juned mengupas konsep Kerja Kreatif Teater yang berangkat dari naskah lakon atau teks pertunjukan. Menurutnya, sutradara merupakan pihak pertama yang harus mampu menafsirkan gagasan dan pesan yang disampaikan pengarang sebelum diwujudkan ke atas panggung.
Ia menjelaskan bahwa seorang kreator bertugas menghidupkan bahasa panggung sebagai bentuk ekspresi artistik yang kemudian diwujudkan menjadi realitas pertunjukan. Dalam proses tersebut, pemeran menerjemahkan teks menjadi konteks melalui transformasi karakter dalam sebuah pementasan.
"Sutradara dan pemeran harus memiliki persepsi kreatif yang sama agar mampu mengendalikan keseluruhan warna artistik pertunjukan. Keselarasan itu penting untuk menjaga perjalanan karakter sehingga mampu menghadirkan emosi visual yang utuh dan kohesif," tutur sastrawan sekaligus sutradara teater tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Pembina sekaligus pendiri UKM Teater Langkah, Dr. Drs. Syafril, M.Si., memaparkan materi mengenai Manfaat Teater. Ia menegaskan bahwa kegiatan teater tidak hanya mengasah kemampuan berkesenian, tetapi juga membentuk karakter serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Menurutnya, secara akademis, berteater mampu mengembangkan kreativitas, kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, serta daya adaptasi. Sementara dari sisi nonakademis, teater membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, rasa percaya diri, empati, jiwa kepemimpinan, serta kemampuan bekerja sama dalam tim.
"Teater bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang efektif untuk membentuk karakter, memperkuat kemampuan sosial, serta mempersiapkan generasi muda menghadapi berbagai tantangan kehidupan," ujarnya.
Seminar yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Teater Indonesia tersebut berlangsung interaktif. Para peserta yang terdiri atas mahasiswa, pegiat seni, dan pencinta teater tampak antusias mengikuti setiap sesi diskusi serta memanfaatkan kesempatan untuk berdialog langsung dengan para narasumber.
(*/Ichsan)








