Notification

×

Iklan

Iklan

Likuiditas Disuntik Lagi, Himbara Dapat Amunisi Baru untuk Pacu Kredit

27 Juni 2026 | 07:17 WIB Last Updated 2026-06-27T00:17:11Z


Pasbana - Pemerintah kembali mengubah arah kebijakan pengelolaan kas negara. Setelah sempat menarik dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari perbankan, kini pemerintah justru memutuskan menyuntikkan kembali likuiditas ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). 

Langkah ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa menjaga denyut kredit nasional kini menjadi prioritas utama di tengah tekanan likuiditas.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan pemerintah akan menambah penempatan dana SAL di Himbara secara bertahap. Sebelumnya, dana yang tersisa sekitar Rp170 triliun telah dinaikkan menjadi Rp200 triliun untuk penempatan jangka panjang. 

Selanjutnya, pemerintah menyiapkan tambahan Rp100 triliun dengan tenor 3–4 bulan, disusul Rp100 triliun lagi melalui skema yang lebih fleksibel. Jika seluruh rencana terealisasi, total penempatan SAL di Himbara berpotensi mencapai Rp400 triliun.

Kebijakan tersebut sekaligus membalik pernyataan Direktorat Jenderal Kementerian Keuangan beberapa hari sebelumnya yang menyebut penarikan dana SAL dari Himbara dilakukan secara bertahap. Perubahan strategi ini menunjukkan fleksibilitas pemerintah dalam merespons dinamika likuiditas perbankan.

Tambahan likuiditas itu diproyeksikan mampu menjaga pertumbuhan kredit nasional pada kisaran 14–15 persen secara tahunan sepanjang 2026. Menurut Purbaya, tanpa dukungan dana SAL, laju penyaluran kredit berpotensi melambat di bawah pertumbuhan Mei 2026 yang tercatat 11,51 persen, berdasarkan hasil diskusi Kementerian Keuangan dengan para pimpinan Himbara.

Secara ekonomi, injeksi dana pemerintah berfungsi memperkuat pasokan dana murah di perbankan. Ketika likuiditas membaik, biaya penghimpunan dana atau cost of fund dapat ditekan sehingga bank memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan kredit tanpa harus menaikkan suku bunga pinjaman secara agresif. Kondisi ini menjadi penting setelah kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin dalam sebulan terakhir dan tingginya imbal hasil SRBI yang sempat memperketat likuiditas.

Di sisi lain, rasio loan-to-deposit (LDR) Himbara yang sudah relatif tinggi akibat pertumbuhan kredit yang kuat membuat tambahan dana ini menjadi bantalan penting. Dampaknya diperkirakan turut menopang net interest margin (NIM), terutama ketika bank menghadapi persaingan ketat di segmen korporasi dan pemulihan kredit konsumer maupun UMKM yang belum sepenuhnya optimal.

Sentimen positif tersebut langsung tercermin di pasar saham. Hingga penutupan perdagangan Jumat, saham BMRI menguat 2,3 persen, disusul BBRI 2,1 persen, BBNI 2,8 persen, dan BBTN 1,8 persen. 

Respons pasar menunjukkan bahwa kecukupan likuiditas tetap menjadi salah satu faktor utama yang menentukan prospek kinerja sektor perbankan di tengah siklus suku bunga yang masih tinggi. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update