Pasbana - Persaingan memperebutkan gelar pencetak gol terbanyak di Piala Dunia 2026 semakin memanas. Ketajaman Erling Haaland bersama Norwegia dan Kylian Mbappe yang menjadi andalan Prancis membuat perebutan Sepatu Emas menjadi salah satu sorotan utama sejak fase grup dimulai.
Produktivitas kedua penyerang elite tersebut bahkan memunculkan perbincangan bahwa Haaland seolah "memberi pelajaran" kepada Mbappe dalam urusan efektivitas mencetak gol. Keduanya kini sama-sama berada di jalur persaingan yang diprediksi akan terus berlanjut hingga fase gugur turnamen.
Haaland tampil impresif dengan torehan empat gol untuk Norwegia, menyamai koleksi Mbappe yang juga telah mencetak empat gol bersama Prancis. Ketajaman keduanya menjadi bukti bahwa Piala Dunia edisi 2026 menghadirkan atmosfer berbeda, terutama dengan meningkatnya produktivitas gol sejak awal kompetisi.
Hingga pertengahan fase grup, total 132 gol telah tercipta dari 44 pertandingan, atau rata-rata tiga gol setiap laga. Angka tersebut melampaui rata-rata Piala Dunia 2022 yang berada di kisaran 2,69 gol per pertandingan.
Di tengah persaingan Haaland dan Mbappe, Lionel Messi masih memimpin daftar pencetak gol sementara dengan lima gol dalam dua pertandingan. Kapten Argentina itu juga telah mengukuhkan diri sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Persaingan para bomber papan atas turut membuka peluang lahirnya rekor baru. Catatan legendaris 13 gol dalam satu edisi Piala Dunia milik Just Fontaine yang bertahan sejak 1958 kini kembali menjadi perhatian.
Mbappe dinilai memiliki peluang besar karena tampil konsisten sepanjang kariernya di Piala Dunia dengan rasio gol yang mengesankan. Sementara itu, Haaland mengandalkan naluri mencetak gol yang sangat tajam, meski langkah Norwegia menuju babak akhir diperkirakan tidak akan semudah Prancis maupun Argentina.
Belum ada pernyataan resmi dari Haaland maupun Mbappe terkait rivalitas tersebut. Namun performa keduanya di lapangan telah menjadi "jawaban" atas persaingan menuju status striker paling produktif di Piala Dunia 2026.
Dengan format baru yang menghadirkan lebih banyak pertandingan, kesempatan memecahkan rekor Fontaine kini terbuka lebih lebar. Meski demikian, konsistensi hingga partai final tetap menjadi tantangan terbesar bagi setiap penyerang yang ingin mengukir sejarah baru di panggung sepak bola dunia. (*)




