Notification

×

Iklan

Iklan

El Nino Mulai Mengerek Harga Beras, Inflasi Pangan Kembali Mengintai

Selasa, 22 September 2026 | 14:23 WIB
 


Pasbana - Harga beras kembali menanjak pada pekan ketiga September 2026. Di balik kenaikan tersebut, ada persoalan yang lebih besar dari sekadar harga di pasar: cuaca ekstrem mulai mengganggu produksi pangan dan berpotensi memperpanjang tekanan inflasi hingga awal 2027.

Pemantauan Satuan Tugas (Satgas) Saber Pangan di 13 provinsi menunjukkan harga beras medium dan premium telah berada di atas harga eceran tertinggi (HET). Penurunan produksi gabah kering panen akibat musim kemarau dan dampak El Nino menjadi salah satu pemicunya.

Badan Pusat Statistik mencatat harga beras medium naik 0,76 persen menjadi Rp14.644 per kilogram. Sementara beras premium meningkat 0,69 persen menjadi Rp16.495 per kilogram. Kenaikan itu juga dibebani biaya kemasan dan distribusi yang meningkat, antara lain dipengaruhi konflik di Timur Tengah.

Tekanan tersebut mulai tercermin dalam inflasi. Inflasi IHK Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan, naik dari 2,88 persen pada Juli. Lebih mencolok, inflasi pangan bergejolak (volatile food) melonjak dari 2,52 persen menjadi 4,06 persen.

Secara sederhana, volatile food menggambarkan kelompok pangan yang harganya mudah berubah akibat pasokan, musim, dan distribusi. Karena itu, perubahan cuaca dapat dengan cepat menjalar dari sawah ke harga pangan, lalu ke angka inflasi.

Risiko pasokan juga belum sepenuhnya mereda. BPS memperkirakan produksi beras nasional pada Agustus-Oktober 2026 turun 0,9 persen secara tahunan, atau sekitar 0,1 juta ton. BMKG memperkirakan 75,1 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah pada September. El Nino bahkan diproyeksikan bertahan hingga awal 2027, meski intensitasnya menurun.

Pemerintah telah menyalurkan bantuan pangan beras tahap kedua pada September kepada lebih dari 33,2 juta keluarga penerima manfaat pada desil 1-4. Kebijakan ini menjadi bantalan penting ketika harga pasar meningkat.

Dampaknya juga merambat ke komoditas lain. Bawang merah dan cabai merah dinilai paling sensitif terhadap El Nino. Sementara sawit berpotensi menghadapi dampak produksi pada 2027, mengingat jeda 12-18 bulan antara kejadian iklim dan respons produksi.

Di tingkat global, indeks harga pangan FAO turut naik dari 130,8 pada Juli menjadi 133,3 pada Agustus 2026.

Bagi ekonomi rumah tangga, pesan dari rangkaian data ini cukup jelas: ancaman pangan tidak selalu datang dalam bentuk kelangkaan. Kadang, ia muncul perlahan melalui harga yang naik sedikit demi sedikit—namun akhirnya ikut menggerus daya beli.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update