Pasbana - Ekonomi Indonesia memasuki September 2026 dengan sinyal yang tak sepenuhnya nyaman. Inflasi kembali menembus 3 persen, aktivitas manufaktur tergelincir ke zona kontraksi, sementara neraca perdagangan hanya mampu mencetak surplus tipis. Tiga indikator ini memberi gambaran bahwa daya tahan ekonomi masih ada, tetapi ruang geraknya semakin kompleks.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi IHK Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan (YoY), naik dari 2,88 persen pada Juli dan melampaui konsensus 3,12 persen. Secara bulanan, inflasi mencapai 0,21 persen setelah Juli mengalami deflasi 0,14 persen. Kenaikan terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, termasuk daging ayam ras, cabai rawit, ikan, dan beras.
Tekanan harga juga mulai merambat ke inflasi inti. Angkanya naik menjadi 2,92 persen YoY dari 2,76 persen, sekaligus di atas ekspektasi 2,86 persen. Meski masih berada dalam sasaran Bank Indonesia, tren tersebut perlu dicermati karena inflasi yang bertahan tinggi dapat mempersempit ruang pelonggaran moneter.
Di sektor riil, S&P Global mencatat PMI manufaktur Agustus turun menjadi 49,8 dari 50,2. Produksi dan ketenagakerjaan masing-masing telah terkontraksi dalam lima dari enam bulan terakhir. Persaingan yang makin ketat, lemahnya permintaan, kenaikan harga barang, dan penurunan daya beli menjadi tantangan utama pelaku industri.
Satu kabar positif datang dari perdagangan. Neraca perdagangan Juli berbalik surplus US$0,12 miliar setelah defisit US$450 juta pada Juni. Surplus nonmigas US$3,1 miliar ditopang ekspor pertambangan, terutama batu bara, serta industri pengolahan.
Namun, surplus tersebut belum sepenuhnya mencerminkan penguatan volume ekspor karena kenaikan nilai komoditas utama selama tujuh bulan pertama 2026 lebih banyak ditopang harga, sementara volumenya menurun.
Ke depan, risiko inflasi tetap menjadi perhatian. Potensi penguatan El Nino hingga kuartal IV 2026 dan sikap The Fed yang lebih hawkish dapat meningkatkan tekanan terhadap Bank Indonesia untuk menaikkan BI Rate. Ini berbeda dengan konsensus ekonom dalam survei Bloomberg Agustus yang memperkirakan BI Rate bertahan di 5,75 persen hingga akhir tahun.
Bagi investor, dampaknya tidak seragam. Sektor konsumer berpotensi menghadapi tekanan margin akibat kenaikan biaya bahan baku dan inflasi. Sebaliknya, perbankan relatif lebih menarik karena likuiditas masih terjaga, pertumbuhan kredit mulai menguat, dan kualitas aset tetap solid.
Pada akhirnya, tantangan ekonomi Indonesia bukan sekadar seberapa tinggi inflasi atau seberapa rendah PMI, melainkan bagaimana keduanya berinteraksi dengan daya beli, suku bunga, kredit, dan perdagangan. Di sinilah ketahanan ekonomi diuji: menjaga pertumbuhan tanpa membiarkan tekanan harga menggerus fondasinya. (*)




