Notification

×

Iklan

Iklan

KKN ISI Padangpanjang dan Devata Studio Gelar Screening Film “Nan Tatingga Jadi Cerita”

Senin, 07 September 2026 | 19:09 WIB
 


Padang Panjang, pasbana— Suasana malam di Lapangan Belakang Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang terasa berbeda pada Sabtu (5/9/2026). Layar lebar menjadi pusat perhatian dalam kegiatan screening film bertajuk “Nan Tatingga Jadi Cerita” yang digelar Kelompok 38 KKN ISI Padangpanjang di Nagari Sungai Nyalo, Kecamatan Batang Kapas.

Kegiatan yang berlangsung pukul 20.00–22.00 WIB tersebut menayangkan sejumlah film, di antaranya karya Devata Studio “Puti dan Batu Batikam” dan “Si Dep”, serta karya mahasiswa TV dan Film ISI Padangpanjang berjudul “Lockey”.

Pemutaran film ini menjadi puncak rangkaian program kerja Kelompok 38 KKN ISI Padangpanjang selama menjalankan kegiatan pengabdian di Nagari Sungai Nyalo.



Ketua Kelompok KKN 38 Sungai Nyalo, Rahmat Kurniayudi, mengatakan gagasan menggelar malam puncak tersebut sebenarnya telah lama direncanakan oleh anggota kelompok. Namun, pelaksanaannya sempat ditunda karena situasi duka yang dialami keluarga besar KKN.

“Awalnya direncanakan Agustus, tapi sempat tertunda karena kami sedang berduka atas kepergian salah satu rekan dari Kelompok 41,” ujar Rahmat.

Sementara itu, Koordinator Acara, Riyadh Ahmad Edra, menjelaskan kolaborasi dengan Devata Studio bermula dari adanya ajakan terbuka dari studio tersebut kepada kelompok KKN yang ingin mengadakan kerja sama.

“Kami mendaftar dan alhamdulillah disetujui. Diskusi berjalan lancar dan kami sepakat menggelar kegiatan di ISI Padangpanjang. Harapannya, setelah ini silaturahmi tetap terjaga,” kata Riyadh.
Salah satu film yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah “Puti dan Batu Batikam”, karya Devata Studio yang lolos seleksi Dana Indonesiana 2025, yang kini bertransformasi menjadi Dana IndonesiaRaya.

Sutradara film, Radev Muhammad Aziz, menceritakan proses awal lahirnya karya tersebut. Menurutnya, film itu berangkat dari keinginan untuk mengangkat kekayaan budaya lokal Sumatra Barat ke dalam karya film.



“Awalnya kami berembuk untuk mengangkat budaya lokal Sumatra Barat. Dari ide itu kami ikut sayembara Dana Indonesiana 2025 dan berhasil ke tahap produksi,” jelas Radev.

Produksi film tersebut melibatkan kru dari berbagai daerah dengan keahlian yang beragam, mulai dari modelling, rigging, dubbing, hingga animasi. Sebagian besar kru direkrut melalui jejaring yang telah dibangun sebelumnya.

Radev berharap kolaborasi dan hubungan baik yang terjalin melalui produksi maupun pemutaran film tersebut dapat terus berlanjut di masa mendatang.
“Harapannya silaturahmi tidak berhenti di sini. Siapa tahu 10 atau 20 tahun lagi kita bisa kerja sama lagi,” ujarnya.

Produser sekaligus Project Manager acara, Natasha Khairunissa, mengatakan film tersebut memperoleh dana hibah dari Kementerian Kebudayaan untuk ditayangkan di lima daerah.




“Kami berkolaborasi, terutama di wilayah Sumatra Barat yang sedang menjalankan KKN,” ungkap Natasha.

Antusiasme terhadap film dan kegiatan tersebut juga terlihat dari keterlibatan mahasiswa ISI Padangpanjang. Event Manager sekaligus Finance Manager, Gina Sonia, mengatakan pemutaran “Puti dan Batu Batikam” bukan kali pertama dilakukan.

“Sebelumnya sudah dua kali di Padang. Kebetulan film ini mengangkat budaya lokal sehingga proses rekrutmen kru juga banyak melibatkan mahasiswa ISI,” katanya.

Gina juga mendorong mahasiswa untuk lebih aktif memanfaatkan berbagai peluang pendanaan bagi karya seni dan film.

“Saya sarankan teman-teman lebih banyak mendaftar ke Dana Indonesiana karena banyak karya mahasiswa ISI yang belum banyak diketahui orang,” ujarnya.
Respons positif juga datang dari para peserta. Andri Dermawan, mahasiswa Program Studi Animasi angkatan 2024, menilai kegiatan tersebut menarik dan layak digelar kembali.



“Keren. Kalau bisa diadakan tiap minggu,” katanya.

Sementara itu, Malwina Prystawko, peserta asal Polandia yang mengikuti Program Beasiswa Darmasiswa, mengaku mendapatkan pengalaman dan wawasan baru dari kegiatan tersebut.

“Ini acara pertama yang saya kunjungi di sini. Orang lokal sangat ramah. Saya suka komunitas di sini,” kata Malwina.
Meski demikian, Malwina berharap pemutaran film berikutnya dapat dilengkapi dengan teks terjemahan atau subtitle, sehingga penonton dari luar Indonesia juga dapat menikmati film dengan lebih mudah.

“Bahasa Indonesia saya masih sedikit, jadi subtitle akan sangat membantu,” ujarnya.
Malam pemutaran film itu akhirnya bukan sekadar menjadi penutup rangkaian kegiatan KKN Kelompok 38. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa, sineas, komunitas, dan penonton untuk merayakan cerita, budaya lokal, serta membuka kemungkinan kolaborasi baru di masa mendatang.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update