Notification

×

Iklan

Iklan

Oksimeter Nadi Berbasis Android: Ketika Teknologi Elektromedis Mendekatkan Monitoring Kesehatan

Kamis, 03 September 2026 | 15:38 WIB
 
Foto Ilustrasi ( Doc. Instructable)


Pasbana - Ada masa ketika mengetahui kadar oksigen dalam darah membutuhkan perangkat medis yang hanya ditemukan di fasilitas kesehatan. Kini, sebuah prototipe oksimeter nadi mencoba membawa fungsi pemantauan itu lebih dekat—bahkan ke layar ponsel.

Gagasan tersebut dikembangkan Anugerah Madya Putra dan Vita Nurdinawati dari Poltekkes Kemenkes RI Jakarta 2 melalui rancangan oksimeter nadi berbasis MAX30102 dan ESP32 yang terhubung dengan aplikasi Android melalui Bluetooth.

Di balik perangkat kecil itu terdapat persoalan besar dalam layanan kesehatan modern: bagaimana membuat pemantauan tanda vital menjadi semakin portabel, praktis, terhubung, dan responsif.

Oksimeter nadi atau pulse oximeter bekerja secara noninvasif untuk memperkirakan saturasi oksigen perifer atau SpO₂, sekaligus membaca frekuensi denyut jantung. Teknologi ini memanfaatkan prinsip fotopletismografi (PPG), yakni membaca perubahan karakteristik cahaya yang berkaitan dengan aliran darah pada jaringan.

Dalam penelitian tersebut, sensor MAX30102 berperan menangkap sinyal optik. Data kemudian diproses oleh mikrokontroler ESP32 sebelum ditampilkan pada layar OLED dan dikirimkan ke aplikasi Android yang dikembangkan menggunakan Kodular.

Hasil pengujian menunjukkan angka yang cukup menjanjikan. Prototipe mencatat tingkat akurasi 98,15 persen untuk SpO₂ dan 90,21 persen untuk BPM, ketika dibandingkan dengan perangkat referensi yang telah dikalibrasi.
Namun, angka akurasi tidak seharusnya menjadi akhir cerita.

Dari ujung jari ke layar ponsel


Integrasi Bluetooth membuat fungsi oksimeter berkembang dari sekadar perangkat pembaca menjadi bagian dari sistem pemantauan digital.

Data yang sebelumnya hanya terlihat beberapa detik di layar perangkat kini dapat diteruskan ke aplikasi. Secara konseptual, pendekatan seperti ini membuka peluang untuk pengembangan sistem monitoring jarak dekat, dokumentasi hasil pengukuran, hingga integrasi dengan ekosistem kesehatan digital.

Peneliti juga menambahkan fitur alarm ketika SpO₂ berada di bawah 95 persen. Fitur tersebut dapat menjadi mekanisme peringatan awal, tetapi bukan berarti setiap angka di bawah ambang tersebut otomatis menunjukkan kondisi gawat.

Interpretasi SpO₂ harus mempertimbangkan kondisi klinis, karakteristik pasien, kualitas sinyal, serta keterbatasan alat.

Di sinilah seorang elektromedis maupun tenaga kesehatan memiliki peran penting: perangkat harus dibaca bersama konteks klinis, bukan sekadar angka pada layar.

Angka akurasi bukan berarti tanpa kelemahan


Penelitian ini menemukan persoalan yang sangat familiar dalam teknologi pulse oximetry: gerakan dan posisi jari dapat memengaruhi pembacaan sensor.

Secara teknis, hal tersebut berkaitan dengan kualitas sinyal PPG. Gerakan dapat menghasilkan motion artifact yang mengganggu pemisahan sinyal fisiologis dari noise. Literatur menunjukkan bahwa gerakan memang dapat menyebabkan kesalahan pembacaan, kehilangan data, bahkan alarm palsu pada pulse oximetry. 

Artinya, desain perangkat portabel tidak berhenti pada pemilihan sensor. Algoritma pemrosesan sinyal, desain mekanik sensor, kualitas kontak dengan jari, filtrasi noise, hingga validasi terhadap berbagai kondisi pengguna ikut menentukan performanya.
Ada pula persoalan lain yang semakin mendapat perhatian dalam penelitian pulse oximetry: pigmentasi kulit.

Sejumlah tinjauan sistematis menemukan bahwa pulse oximeter dapat cenderung memberikan estimasi SpO₂ lebih tinggi pada individu dengan pigmentasi kulit lebih gelap, terutama ketika saturasi sebenarnya rendah. Besarnya dampak klinis masih menjadi bahan penelitian, tetapi isu tersebut menunjukkan pentingnya validasi perangkat pada populasi yang beragam. 

Dengan kata lain, membuat alat yang bekerja baik pada kondisi laboratorium belum otomatis menjadikannya perangkat yang siap digunakan secara luas.

Masa depan oksimeter ada pada validasi


Prototipe berbasis MAX30102 dan ESP32 memperlihatkan satu arah menarik perkembangan teknologi elektromedis: miniaturisasi sensor, konektivitas nirkabel, dan aplikasi digital dapat dipadukan menjadi sistem monitoring yang lebih mudah diakses.

Tetapi perjalanan dari prototipe menuju perangkat medis yang benar-benar andal membutuhkan tahapan lebih panjang. Pengujian perlu diperluas pada jumlah dan karakteristik subjek yang lebih beragam, kondisi perfusi yang berbeda, gerakan, variasi posisi sensor, pencahayaan lingkungan, serta pembanding klinis yang sesuai.

Literatur terbaru juga menegaskan bahwa akurasi pulse oximetry dipengaruhi banyak faktor, termasuk gerakan, perfusi rendah, temperatur, lokasi sensor, interferensi cahaya, dan karakteristik kulit. 

Karena itu, penelitian semacam ini bukan sekadar tentang membuat “oksimeter yang terhubung ke Android”. Lebih jauh, ia menunjukkan bagaimana ilmu elektromedis, sensor, pemrosesan sinyal, mikrokontroler, dan teknologi informasi dapat bertemu untuk menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan.

Pada akhirnya, nilai sebuah perangkat medis bukan hanya terletak pada kecanggihannya, melainkan pada seberapa akurat, aman, teruji, mudah digunakan, dan bermakna bagi keputusan kesehatan.
Dari sebuah sensor kecil di ujung jari, teknologi sedang belajar melakukan sesuatu yang jauh lebih besar: membawa data fisiologis lebih dekat kepada manusia—tanpa melupakan bahwa di balik setiap angka, selalu ada tubuh dan kehidupan yang harus dipahami.

Bagi pengembang perangkat elektromedis, penelitian seperti ini dapat menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh: bukan hanya mengejar konektivitas dan fitur, tetapi memperkuat validasi klinis, kualitas sinyal, keamanan, dan keandalan agar teknologi benar-benar siap memberi manfaat bagi pelayanan kesehatan. (*)

Sumber: https://jurnal.ikatemi.or.id/elc/article/view/15

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update