Notification

×

Iklan

Iklan

Orang Tua Nyasar, Orang Tua Bayar, dan Orang Tua Sadar

Selasa, 29 September 2026 | 11:36 WIB


 Oleh: Ayah Yonhendril 

Pasbana - Anak merupakan karunia besar yang diberikan Allah SWT kepada pasangan suami istri. Setiap pasangan mengharapkan hadirnya seorang anak sebagai penerus keturunan dan pelengkap kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga.

Kebahagiaan terasa kurang lengkap tanpa hadirnya tangis bayi dan rengekan anak di sebuah keluarga. Namun demikian, banyak pasangan seringkali lupa bahwa memiliki anak memerlukan kesiapan dari berbagai sisi, baik dari sisi materi, fisik, mental maupun spiritual. 

Menurut penelitian dari psikolog anak, disimpulkan bahwa lebih dari 90% permasalahan anak disebabkan oleh kesalahan atau ketidaktahuan orangtua akan cara komunikasi dan penyampaian nilai yang tepat terhadap sang anak. 

Bagi kebanyakan orangtua, sadar maupun tidak sadar, seringkali memperlakukan anak sebagai objek yang harus nurut, sehingga bisa diperintah dan harus menjalankan setiap perintah yang diberikan kepadanya.

Mereka melupakan bahwa seorang anak juga merupakan suatu individu dalam bentuk lebih kecil yang memiliki, pikiran, perasaan, keinginan, dan tindakan yang khas. Mereka membutuhkan perhatian dan kesabaran orang tua dalam menghadapinya. 

Seibu dan sebapak bukan berarti seragam dalam sikap maupun perilaku. Setiap orang tua harus banyak belajar dengan belajar sebanyak mungkin. Berani nikah maka harus berani punya anak, berani memiliki anak berarti harus berani menerima tanggung jawab dalam memeliharanya, mendidiknya dan mengantarkan kemandiriannya. 

Sebagai orang tua kita memiliki tiga pilihan untuk buah hati kita. Pilihan pertama adalah hidup sebagai orang tua nyasar, pilihan kedua adalah hidup sebagai orang tua bayar, dan pilihan ketiga adalah hidup sebagai orang tua sadar. 

Pilihan pertama, Orang tua NYASAR, mendeskripsikan sosok orang tua yang disebut sebagai ayah ataupun ibu dikarenakan pernah melahirkan keturunan, tanpa persiapan ilmu, tanpa mau belajar setelahnya, dan menjadi orang tua hanyalah beban yang tidak kunjung padam.

Kehidupan yang dijalani bukanlah bagian dari apa yang sebenarnya dia inginkan dan rencanakan. Orang tua model ini hanya menjalankan kehidupan sehari-hari dengan perulangan tanpa kemajuan. Penuh kejenuhan, penuh keluhan dan penuh penderitaan. 

Hidup tanpa ilmu, tanpa buku, tanpa pelatihan dan akhirnya dia merasa terperangkap dalam rutinitas yang menjenuhkan tapi tidak berani keluar dari perangkap itu. Dia merasa bosan berkepanjangan sebagai orang tua dan akhirnya kehilangan rasa riang dan nikmat dalam hidup ini. 

Antusiasnya merosot entah kemana dan akhirnya merasa terkucilkan dan merasa tidak berarti. 

Apapun yang dilakukan anak adalah masalah, tangisan anak membuat kehidupan tambah resah, rengekan anak menambah gundah gelisah, dan kenakalan anak adalah musibah. Orang tua nyasar akan mengalami beban mental meskipun berada di tengah-tengah keramaian orang banyak. Dia merasa hidup sepi. 

Pilihan kedua adalah Orang Tua BAYAR, mendeskripsikan kehidupan Orang tua yang hanya menggantungkan pihak ketiga dalam mendidik dan mengembangkan potensi anak. 

Merasa sudah cukup dengan mengirimkan anak pada sekolah favorit, kursus yang mahal, guru privat yang handal, training-training untuk yang menjanjikan tanpa harus merasa perlu terlibat secara aktif pada perkembangan dan kemajuan anak.

Prinsip orang tua BAYAR adalah dengan uang aku bisa lakukan segalanya. Dia bisa protes ada sekolah ketika rapor anak jelek, marah pada guru agama ketika akhlak anak jeblok, menyalahkan guru dan pihak sekolah ketika anak tidak lulus ujian. 

Baginya pengeluaran yang besar harus sebanding lurus dengan prestasi anak. Semakin besar pengeluaran semakin besar tuntutan. Kategori orang tua bayar sebenarnya sama dengan orang tua nyasar, bedanya dia masih peduli mengeluarkan sejumlah uang demi masa depan buah hati karena kebetulan memiliki kekuatan finansial yang cukup. 

Seandainya tidak ada keuangan yang memadai saya pastikan dia lebih layak masuk ke kategori pertama, yaitu orang tua NYASAR plus, yaitu terbantu karena adanya fulus (uang). 

Begitulah gambaran hidup orang tua nyasar. Hati-hati, ketika Anda mengikutsertakan putra-putri Anda ikut pendidikan ataupun kursus apapun yang sifatnya hanya ikut-ikutan, tidak tahu tujuan aktivitas yang sebenarnya, menginginkan hasil instan, dan akhirnya kecewa karena pendidikan tanpa pendampingan orang tua akan pincang. bagaikan handphone tanpa pulsa, bagaikan mobil tanpa bensin atau lebih kerennya bagaikan terang tanpa cahaya. 

Bagi Anda yang merasa dalam golongan ini mudah-mudahan tersadarkan setelah membaca tulisan ini menemukan cara baru dengan sudut pandang baru dan semangat baru. 

Pilihan ketiga adalah Orang Tua SADAR, mendeskripsikan bahwa Orang tua benar-benar tahu dan sadar bahwa dia sedang mengerjakan tugas mulia sebagai penanam dasar-dasar karakter kehidupan buah hati. 

Dia sadar bahwa dia adalah pemain utama dalam pembentukan karakter dan pola laku anak. Orang lain adalah pendukung kemajuan sang anak. Dia menyadari sepenuhnya bahwa Dia mengerjakan perjalanan besar menuju titik finish yang dia gambarkan dalam blue print kesuksesan bagi buah hatinya. 

Orang tua sadar senantisa belajar terus menerus dan selangkah lebih maju dari permasalahan anak. Bagi orang tua sadar, guru adalah patner, sekolah dan tempat kursus adalah mitra dan bukan segalanya. 

Saat ini banyak orang tua yang menjalankan manajemen TAMBAL BAN, ketika ban bocor maka baru mencari tukang tambal terdekat. Biarlah tukang tambal yang mencari lubang bocornya, lalu menambalnya, dan bisa dipastikan dia akan marah besar kalau setelah dipakai beberapa meter kempes kembali. 

Itulah gambaran orang tua yang mengandalkan pendidikan karakter anak pada pihak ketiga, dan marah besar kalau anaknya kurang bermoral karena dia merasa sudah membayar mahal atas harga perbaikan karakter anaknya.(*)

Referensi:
Aris Ahmad Jaya dan Bunda Ucu, 2013 .Teknik Mengelola dan Mengatasi Emosi Buah Hati Menjadi Prestasi

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update