TANAH DATAR, pasbana — Ada penantian yang berlangsung lebih lama daripada satu musim tanam. Di Nagari Tanjung Barulak, Kabupaten Tanah Datar, persoalan air selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan petani. Sawah ada, tanah tersedia, tetapi air tak selalu datang ketika dibutuhkan.
Kini, cerita itu mulai berubah.
Air dari Batang Manganan mulai dialirkan menuju persawahan masyarakat melalui pompanisasi berbasis tenaga surya. Infrastruktur yang diresmikan pada Minggu (6/9/2026) itu diproyeksikan mampu mengairi sekitar 400 hektare lahan pertanian.
Program tersebut merupakan bagian dari TJSL PT PLN (Persero) UID Sumatera Barat melalui PLN Peduli bertajuk Sumbar Tumbuh, Sumbar Tangguh. Sistemnya sederhana tetapi strategis: energi matahari menggerakkan pompa untuk mengangkat air, kemudian mengalirkannya melalui jaringan pipa sepanjang sekitar empat kilometer menuju lahan pertanian.
Bagi petani, manfaatnya jauh lebih besar daripada sekadar sebuah instalasi baru. Selama ini sebagian lahan Tanjung Barulak masih bergantung pada hujan. Ketika air terbatas, musim tanam pun ikut terbatas.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah berharap ketersediaan air tersebut dapat mengubah pola tanam masyarakat. Jika sebelumnya sebagian lahan hanya bisa ditanami sekali setahun, ke depan diharapkan dapat meningkat hingga tiga kali.
Harapan itu datang pada momentum yang tepat. Pemerintah sendiri tengah mempercepat pompanisasi sebagai salah satu strategi menghadapi risiko kekeringan dan menjaga produksi pangan.
Kementerian Pertanian bahkan menyiapkan puluhan ribu pompa air pada 2026 untuk memperkuat pasokan air ke lahan pertanian.
Yang membuat Tanjung Barulak berbeda adalah sumber energinya. Tenaga matahari dipilih untuk menjalankan pompa. Selain mendukung ketersediaan air, teknologi irigasi tenaga surya dinilai dapat menjadi alternatif yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan.
Program ini lahir dari kolaborasi PLN, Universitas Andalas, pemerintah daerah, kelompok tani, pemerintah nagari, serta sejumlah pihak lainnya. Bukan hanya soal membangun pompa, tetapi bagaimana air yang sudah mengalir dapat terus memberi kehidupan.
Sebab, bagi sekitar 1.700 kepala keluarga atau sekitar 5.000 warga Tanjung Barulak, air bukan sekadar urusan irigasi. Air adalah kesempatan untuk menanam lebih sering, memanen lebih banyak, dan menata masa depan dengan sedikit lebih pasti.
Kini, matahari tak hanya menerangi sawah Tanjung Barulak. Energinya ikut membantu menghidupkan harapan para petani.(*)




