Notification

×

Iklan

Iklan

Songket Silungkang, Merajut Warisan Menjadi Elegansi Masa Kini

Minggu, 06 September 2026 | 09:03 WIB


Sawahlunto, pasbana - Di atas panggung, benang-benang emas Songket Silungkang seolah menemukan kehidupan baru. Kain yang selama ini lekat dengan tradisi dan seremoni adat itu menjelma menjadi busana modern, bergerak mengikuti zaman tanpa harus meninggalkan akar sejarahnya.

Pemandangan itu hadir dalam Fashion Show Day Sawahlunto International Songket Silungkang Carnaval (SISSCa) 2026, Jumat, 4 September 2026. Ketua Dekranasda Kota Sawahlunto Ny. Yori Gemitia Riyanda bersama Wakil Ketua Dekranasda Sumatera Barat Ny. Dianita Maulin Vasco membuka peragaan yang mempertemukan desainer lokal dan Sumatera Barat.




Lima desainer Sawahlunto—Mezaf Ethnic, Ellen Songket, Unici Songket, Filma x Olo, dan Dollas Songket—menampilkan interpretasi mereka terhadap kain kebanggaan Silungkang. Dari tingkat provinsi, Fomalhaut Zamel turut membawa perspektif baru dalam mengolah songket ke dalam desain kekinian.

Di sinilah pesan penting SISSCa terasa: melestarikan budaya tidak selalu berarti membekukannya dalam bentuk lama.
Songket Silungkang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 362/M/2019. Karena itu, tantangannya bukan sekadar menjaga teknik menenun atau motif yang diwariskan, tetapi memastikan kain tersebut tetap menemukan tempat di tengah perubahan selera generasi baru.




Upaya itu kini mendapat ruang yang semakin nyata. Pada Mei 2026, Sawahlunto meresmikan Sentra Tenun Silungkang yang diarahkan menjadi pusat kreativitas, inovasi, pembinaan, dan pemberdayaan perajin. 

SISSCa pun bergerak dalam jalur yang sama. Event yang berlangsung 4–6 September 2026 tersebut mengusung tema “Songket Innovation in Luxury”, dengan fashion show, pameran UMKM, demonstrasi menenun, hingga seminar tentang inovasi dan modernisasi songket. 




Bagi Ny. Yori, pengembangan SISSCa bukan hanya perkara kemeriahan acara. Ada pekerjaan yang lebih panjang: membuka pasar, meningkatkan nilai produk, dan memberi ruang lebih luas kepada UMKM serta desainer lokal.

Sebab kain tradisional akan benar-benar hidup ketika ia tidak hanya dikenang, tetapi dipakai, dikembangkan, dibeli, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Songket Silungkang kini sedang menenun babak baru. Bukan untuk meninggalkan masa lalu, melainkan membawa keindahannya berjalan lebih jauh.




Bagi pembaca, inilah saatnya melihat kain tradisional bukan sekadar sebagai simbol budaya, tetapi juga sebagai karya kreatif yang layak dikenakan dan didukung.

Untuk konteks historis dan ekonomi, SISSCa memang semakin diarahkan bukan sekadar sebagai festival budaya, tetapi sebagai ruang promosi UMKM dan penggerak ekonomi lokal. Pada SISSCa 2025, Pemkot Sawahlunto mencatat dampak ekonomi bagi UMKM, pedagang, dan pengrajin songket. Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update