Notification

×

Iklan

Iklan

Songket Silungkang Naik Kelas, Dari Warisan Tradisi ke Panggung Fesyen

Senin, 07 September 2026 | 08:45 WIB
 


Sawahlunto, pasbana - Di antara bangunan tua dan jejak sejarah Sawahlunto, 72 peserta berjalan membawa satu cerita: Songket Silungkang tidak ingin hanya dikenang sebagai kain tradisional.

Sabtu, 5 September 2026, kawasan Pasar Remaja hingga Terminal Sawahlunto berubah menjadi panggung fesyen. Warna, corak, dan desain busana berbahan Songket Silungkang hadir dalam karnaval puncak Sawahlunto International Songket Silungkang Carnaval (SISSCa) 2026 bertema Songket in Innovation and Luxury.

Karnaval itu dibuka Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra bersama Sekretaris Deputi Bidang Penyelenggaraan Iven Kementerian Pariwisata Titik Lestari dan Kepala Bappeda Sumatera Barat Zefnihan yang mewakili Gubernur Sumbar.



Yang menarik bukan semata kemeriahan karnaval. Di balik parade busana tersebut tersimpan upaya mengubah cara memandang songket.

Kain yang selama ini lekat dengan tradisi dan acara adat mulai dieksplorasi menjadi bagian dari fesyen masa kini. Corak dan warna dikembangkan, desain diperluas, sementara penggunaannya tidak lagi terbatas pada konteks tertentu.

Di sinilah SISSCa menemukan maknanya.
Sebagai salah satu Kharisma Event Nusantara (KEN), kegiatan ini mendapat dukungan Kementerian Pariwisata untuk memperkuat pelestarian sekaligus promosi Songket Silungkang. Kreativitas menjadi jembatan agar warisan budaya tetap memiliki tempat di tengah perubahan selera pasar.



Sebab, melestarikan budaya tidak selalu berarti membekukannya dalam bentuk lama. Ada kalanya tradisi justru bertahan karena diberi ruang untuk tumbuh.
Bagi penenun dan pelaku UMKM, ruang itu berarti peluang ekonomi. SISSCa mempertemukan budaya, fesyen, pariwisata, dan ekonomi kreatif dalam satu panggung.

Penyelenggaraannya juga mendapat dukungan anggota DPRD Sumatera Barat Masrisal melalui dana pokok pikiran, APBD Kota Sawahlunto 2026, serta berbagai sponsor.

Riyanda menegaskan Pemko Sawahlunto ingin warisan budaya seperti Songket Silungkang tidak sekadar lestari, tetapi juga memberi nilai ekonomi lebih besar bagi penenun dan UMKM.



Pada akhirnya, masa depan songket mungkin tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat kita menjaga masa lalunya, tetapi juga seberapa berani membawanya menuju masa depan.

SISSCa 2026 menunjukkan satu kemungkinan: ketika tradisi diberi ruang untuk berinovasi, budaya bukan hanya hidup—tetapi juga dapat menghidupi. Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update