Pasbana - Bayangkan sebuah rumah sakit tanpa tumpukan film radiologi, tanpa harus memindahkan hasil pemeriksaan menggunakan berkas fisik, dan tanpa dokter menunggu terlalu lama untuk mengakses citra medis.
Di balik sistem yang tampak sederhana itu, ada teknologi, jaringan, perangkat medis, dan tentu saja tenaga Elektromedis yang memastikan semuanya bekerja sebagaimana mestinya.
Transformasi digital kesehatan kini bergerak lebih jauh. Mesin CT Scan, ultrasonografi, Cathlab hingga berbagai perangkat imaging tidak lagi berdiri sebagai perangkat yang bekerja sendiri.
Data pemeriksaan harus dapat mengalir ke sistem informasi rumah sakit, tersimpan dengan aman, dan dapat diakses oleh tenaga kesehatan yang berwenang.
Di sinilah PACS (Picture Archiving and Communication System), RIS (Radiology Information System), HIS (Hospital Information System), serta Software as a Medical Device (SaMD) menjadi semakin penting.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan interoperabilitas sebagai salah satu fondasi penting ekosistem kesehatan digital. Sistem kesehatan modern tidak cukup hanya “digital”, tetapi harus mampu bertukar data secara terstandar, aman, dan bermakna.
Dari Mesin Menjadi Ekosistem Data
Perubahan terbesar dalam teknologi kesehatan bukan semata-mata hadirnya mesin yang semakin canggih. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mesin tersebut berkomunikasi dengan sistem lain.
Dalam ekosistem imaging, misalnya, PACS berfungsi mengelola penyimpanan dan distribusi citra medis, sementara RIS membantu mengelola informasi serta alur kerja radiologi. Keduanya kemudian dapat terhubung dengan sistem rumah sakit dan rekam medis elektronik.
WHO bahkan memasukkan sistem radiologi, medical imaging, PACS, serta perangkat lunak dalam perangkat medis ke dalam kategori sistem digital kesehatan diagnostik.
Artinya, seorang Elektromedis masa kini tidak cukup hanya memahami cara mengoperasikan atau melakukan pemeliharaan sebuah perangkat.
Ia juga perlu memahami bagaimana perangkat tersebut berkomunikasi dengan sistem digital di sekitarnya.
Pengetahuan tentang jaringan, integrasi sistem, keamanan data, standar komunikasi perangkat medis, hingga perkembangan AI menjadi semakin relevan.
Ketika AI Masuk ke PACS
Perkembangan berikutnya bahkan lebih menarik: kecerdasan buatan mulai masuk ke dalam alur kerja medical imaging.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa integrasi AI dengan PACS berpotensi membantu proses deteksi kelainan, segmentasi citra, prioritas kasus, hingga efisiensi workflow radiologi. Sebuah tinjauan yang diterbitkan di PubMed pada 2025 menyoroti potensi AI-enhanced PACS dalam meningkatkan workflow dan mendukung analisis citra medis.
Namun AI bukan berarti menggantikan tenaga kesehatan atau Elektromedis.
Justru sebaliknya. Semakin kompleks teknologi, semakin penting manusia yang memahami bagaimana teknologi tersebut dipasang, diintegrasikan, diuji, dipelihara, dan digunakan secara aman.
Kajian mengenai integrasi AI dalam workflow radiologi juga menekankan pentingnya interoperabilitas berbasis standar agar teknologi AI dapat terintegrasi dengan sistem imaging secara aman dan efektif.
Dengan kata lain, masa depan medical equipment bukan hanya tentang hardware yang semakin pintar, tetapi tentang hubungan antara hardware, software, jaringan, data, dan manusia.
Elektromedis di Tengah Perubahan
Perubahan inilah yang membuat peningkatan kompetensi Elektromedis menjadi semakin strategis.
IKATEMI DKI Jakarta bersama Lembaga Diklat IKATEMI menghadirkan Workshop Nasional ULTIMATE 2026 dengan tema “Transformasi Teknologi Kesehatan di Era Digital melalui Integrasi Modality Imaging Peralatan Kesehatan Cathlab, CT Scan, Ultrasonografi dengan Software as Medical Device (SaMD), PACS, RIS, dan HIS.”
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 7–9 Oktober 2026 di Hotel Aston Priority Simatupang & Conference Center, Jakarta.
Workshop menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur Kementerian Kesehatan, rumah sakit, perguruan tinggi, industri healthcare, perusahaan kalibrasi, dan institusi teknologi kesehatan.
Selain materi workshop, peserta juga mendapatkan e-sertifikat SKP Kementerian Kesehatan yang disebut sebesar 18,75 SKP, serta fasilitas lain seperti pelatihan kit, kunjungan Hospital EXPO 2026, gala dinner, dan door prize.
Bukan Sekadar Belajar Mesin
Yang menarik dari perkembangan ini adalah perubahan cara pandang terhadap profesi Elektromedis.
Dulu, kompetensi sering kali identik dengan kemampuan menangani perangkat keras. Kini batasnya semakin luas. Elektromedis perlu memahami bagaimana sebuah CT Scan menghasilkan data, bagaimana data tersebut dikirim, bagaimana PACS menyimpan citra, bagaimana RIS mengelola workflow, bagaimana HIS mengintegrasikan informasi, serta bagaimana software yang berkaitan dengan fungsi medis harus dikelola secara tepat.
WHO sendiri menekankan bahwa sistem kesehatan digital yang kuat membutuhkan interoperabilitas, standar data, keamanan, tata kelola, dan sumber daya manusia yang kompeten.
Karena itu, transformasi digital seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi profesi Elektromedis.
Sebaliknya, inilah peluang untuk memperluas kompetensi.
Ketika perangkat medis semakin terkoneksi, kebutuhan terhadap tenaga profesional yang mampu menjembatani dunia engineering, medical device, software, jaringan, dan pelayanan kesehatan justru semakin besar.
Bagi para Elektromedis yang ingin mengikuti perkembangan tersebut, workshop seperti ULTIMATE 2026 dapat menjadi salah satu ruang untuk memperbarui wawasan, membangun jejaring, sekaligus melihat ke mana arah teknologi peralatan kesehatan Indonesia bergerak.
Sebab pada akhirnya, masa depan rumah sakit bukan hanya tentang mesin yang semakin canggih.
Masa depan rumah sakit adalah tentang bagaimana semua mesin itu dapat berbicara satu sama lain—dan bagaimana Elektromedis memastikan percakapan tersebut berlangsung dengan aman, akurat, dan bermanfaat bagi pasien.
(*)




