Padang Panjang, pasbana — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Pituluik Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang menggelar Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) 2026 dengan mengangkat tema “Keterampilan Jurnalistik Melalui Pengelolaan Media Massa Berbasis Website”.
Kegiatan yang berlangsung Senin (7/9/2026) pukul 09.00–16.00 WIB tersebut digelar di Gedung Rektorat Lantai 3 ISI Padangpanjang. PJTD menghadirkan dua narasumber, yakni Muhammad Subhan dan Rizky Alfadly.
Ketua pelaksana kegiatan, Adzkia Dwi Putri, mengatakan pengelolaan media massa berbasis website menjadi salah satu tujuan yang ingin dikembangkan UKM Pers Pituluik ke depan. Menurutnya, kemampuan mengelola media digital menjadi bagian penting dalam pengembangan keterampilan jurnalistik mahasiswa.
Pembimbing UKM Pers Pituluik, Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., mengatakan UKM Pers Pituluik telah berusia 29 tahun dan melahirkan banyak alumni yang kemudian berkiprah di berbagai media.
“Karena itu, teruslah mempertahankan dan menghadirkan kebenaran dalam setiap karya jurnalistik. Keberpihakan pers hanya kepada kebenaran,” ujar Sulaiman.
Ia juga menyampaikan rencana regenerasi pembimbing UKM Pers Pituluik.
Menurutnya, kehadiran pembimbing baru diharapkan dapat menghadirkan suasana dan semangat baru dalam perjalanan organisasi.
“Sudah lama sekali saya menjadi pembimbing. Kini sudah harus ada pembimbing baru,” katanya.
Sementara itu, Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan ISI Padangpanjang, Harben Sani, mengatakan kemampuan jurnalistik tidak hanya berguna bagi mahasiswa yang ingin berkarier sebagai jurnalis.
“Jurnalis tidak hanya menulis artikel berita. Keilmuan jurnalistik itu sendiri dapat menunjang kita di dunia kerja di berbagai bidang,” kata Harben saat membuka kegiatan PJTD 2026.
Pada sesi berikutnya, Founder Sekolah Menulis Elipsis, Muhammad Subhan, menyampaikan materi bertajuk “Jurnalistik Terapan: Kiat Menulis Berita pada Media Berbasis Website.”
Subhan menjelaskan bahwa pers memiliki peran penting di tengah derasnya arus informasi. Kehadiran pers dan media, menurutnya, diperlukan untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang berimbang dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Pers dan media harus ada agar terjadi keberimbangan informasi,” ujarnya.
Ia juga membahas urgensi media massa di tengah perkembangan media sosial. Saat ini, siapa pun dapat dengan mudah memproduksi dan menyebarkan informasi melalui media sosial. Namun, tidak semua informasi tersebut melewati proses kurasi dan verifikasi.
Dalam materinya, Subhan memaparkan empat hal penting dalam praktik jurnalistik, yakni memahami kriteria peristiwa yang layak diberitakan, menguasai teknik penulisan berita, mempersiapkan diri sebelum melakukan liputan, serta memahami cara mengelola berita pada media berbasis website.
Narasumber kedua, Rizky Alfadly, membawakan materi mengenai “Jurnalisme Investigasi”. Ia menjelaskan bahwa jurnalisme investigasi berangkat dari upaya mengungkap fenomena tersembunyi yang berpotensi merugikan kepentingan publik dan menguntungkan pihak tertentu.
“Ada fenomena tersembunyi yang merugikan publik dan menguntungkan beberapa pihak yang kemudian diselidiki dan diungkap. Itulah jurnalisme investigasi,” jelas Rizky.
Menurutnya, riset mendalam menjadi salah satu kunci dalam menghasilkan karya jurnalistik investigasi. Informasi yang disajikan tidak sekadar menjelaskan sebuah persoalan, tetapi juga menggali fakta secara lebih mendalam sehingga dapat menjadi bentuk kritik sosial.
Dalam proses investigasi, wartawan juga tidak boleh hanya mengandalkan satu sumber. Berbagai bukti dan keterangan dari sejumlah narasumber perlu dikumpulkan untuk memperkuat fakta sebelum dituangkan ke dalam sebuah tulisan.
“Dalam investigasi, wartawan tak boleh puas hanya dengan satu narasumber. Bukti-bukti yang kuat juga perlu dikumpulkan sebelum ditulis dengan narasi yang kuat,” tuturnya.
Kegiatan PJTD 2026 kemudian ditutup oleh Sulaiman Juned selaku pembimbing UKM Pers Pituluik. Dalam kesempatan tersebut, ia mengutip penggalan puisi Chairil Anwar sebagai pesan kepada para anggota baru agar terus berkarya dan tidak cepat berpuas diri.
“Kita telah lakukan apa yang kita bisa, tapi kerja belum selesai, belum apa-apa.”
Acara kemudian dilanjutkan dengan pemasangan Pakaian Dinas Harian (PDH) UKM Pers Pituluik secara simbolis kepada anggota baru sebagai bagian dari proses penerimaan dan pengukuhan mereka dalam organisasi.
(Fadhil)








