Tidak ketika teman mengajaknya mencoba rokok atau narkoba. Tidak saat seseorang menawarkan minuman berbahaya. Tidak pula ketika tekanan pergaulan mendorongnya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai agama dan keselamatan dirinya.
Namun, keberanian berkata tidak tidak tumbuh dalam semalam. Ia perlu ditanamkan sejak dini, terutama melalui keteladanan seorang ayah.
Ayah bukan hanya sosok yang melindungi anak dari bahaya di luar rumah. Ia juga perlu membekali anak dengan kompas moral agar mampu mengambil keputusan ketika tidak ada orang tua yang mengawasi.
Dari Rumah, Anak Belajar Keteguhan
Anak yang merasa aman untuk bercerita lebih berpeluang meminta bantuan ketika menghadapi masalah. Karena itu, ayah perlu membangun komunikasi tanpa ancaman dan penghukuman yang berlebihan.
Dengarkan cerita anak, kenali lingkaran pergaulannya, dan latih ia menolak ajakan berisiko. Misalnya, dengan kalimat sederhana: “Terima kasih, aku tidak mau,” atau “Aku pulang saja kalau harus melakukan itu.”
Anak juga perlu tahu bahwa meninggalkan lingkungan yang berbahaya bukanlah tanda pengecut. Justru, mengenali batas dan berani mempertahankannya merupakan bentuk tanggung jawab.
Keteguhan yang Dicontohkan Generasi Awal Islam
Al-Qur’an mengabadikan keteguhan para pemuda beriman dalam kisah Ashabul Kahfi. Mereka memilih menjauh dari lingkungan yang mengancam keimanan mereka dan memohon perlindungan Allah.
Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 13–14 bahwa mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, lalu Allah menambahkan petunjuk kepada mereka dan meneguhkan hati mereka.
Kisah ini mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu berarti menghadapi bahaya secara terbuka. Terkadang, keberanian justru hadir dalam keputusan untuk tidak ikut-ikutan dan memilih menjauh dari pengaruh buruk.
Teladan lain tampak pada Umar bin Abdul Aziz, seorang tabiin menurut pendapat yang masyhur, yang dikenal dalam sejarah karena komitmennya terhadap keadilan.
Keteladanannya mengingatkan bahwa mempertahankan kebenaran membutuhkan keberanian untuk menolak penyimpangan, termasuk ketika tekanan datang dari lingkungan sendiri.
Dalil untuk Berani Menolak Kemaksiatan
Allah berfirman dalam Surah Luqman ayat 17, yang memuat nasihat Luqman kepada anaknya untuk mendirikan salat, menyuruh berbuat baik, mencegah kemungkaran, dan bersabar atas apa yang menimpanya.
Pesan tersebut relevan bagi ayah dan anak: kebaikan perlu diperjuangkan, sementara tekanan dan konsekuensinya harus dihadapi dengan kesabaran.
Rasulullah saw. juga bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan hatinya.” (HR. Muslim).
Hadis ini mengajarkan tanggung jawab sesuai kemampuan. Bagi anak, menolak ajakan buruk, meninggalkan situasi berbahaya, dan meminta bantuan orang dewasa tepercaya dapat menjadi langkah nyata.
Ayah, Jadilah Tempat Anak Kembali
Pencegahan perilaku adiktif tidak cukup dengan larangan. Anak membutuhkan perhatian, teladan, lingkungan sehat, dan akses bantuan ketika mulai kesulitan mengendalikan kebiasaan.
Ayah dapat memulainya hari ini: luangkan waktu mendengarkan, bicarakan risiko tanpa menghakimi, dan tunjukkan bahwa kasih sayang tidak bergantung pada kesempurnaan anak.
Sebab, ketika seorang anak berani berkata “tidak” kepada ajakan yang merusak, ia sedang belajar mengatakan “ya” kepada masa depan yang lebih baik.
Ayah, jangan hanya ajari anak menjadi berani menghadapi dunia. Ajari pula ia berani menolak hal-hal yang dapat menghancurkan dirinya.
Bagi ayah yang ingin mempraktikkannya, mulailah dengan satu percakapan sederhana malam ini: “Nak, kalau suatu hari teman mengajakmu melakukan sesuatu yang kamu tahu berbahaya atau salah, apa yang akan kamu lakukan? Ayah akan mendengarkan dan membantumu.”(*)




