Notification

×

Iklan

Iklan

IHSG Ambruk 40%, Ini 3 Pelajaran Warren Buffett agar Investor Bertahan

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:56 WIB
 


Pasbana — Dalam investasi saham, kemampuan bertahan sering kali lebih berharga daripada kemampuan menebak kapan pasar mencapai titik terendah. Sebab, investor yang kehabisan modal atau terpaksa menjual saham saat harga jatuh justru berisiko kehilangan kesempatan ketika pasar mulai pulih.

Situasi tersebut relevan dengan kondisi Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2026. Hingga 16 Oktober, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 40,04% sejak awal tahun, bahkan sempat menyentuh level 5.185,11. Tekanan ini menjadikan pasar saham Indonesia salah satu yang berkinerja paling lemah di dunia.

Di tengah ketidakpastian tersebut, prinsip investasi Warren Buffett dari krisis pasar Amerika Serikat pada 1973–1974 layak kembali diperhatikan: fokus pada nilai bisnis, bukan kepanikan pasar.

Belajar dari Strategi Warren Buffett
Ketika pasar saham Amerika mengalami tekanan hebat pada 1973–1974, ekonomi menghadapi stagflasi, krisis minyak, dan ketidakpastian politik akibat skandal Watergate.

Buffett tetap berorientasi pada kualitas bisnis dan nilai jangka panjang. Dalam surat pemegang saham Berkshire Hathaway 1974, ia mencatat penurunan nilai pasar Berkshire sebesar 48,7%, sementara indeks S&P 500 turun 26,4%. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa bahkan investor berpengalaman tidak kebal terhadap gejolak pasar.

Ada tiga pelajaran penting yang dapat diterapkan investor Indonesia.

1. Bertahan lebih penting daripada memprediksi pasar
Tidak seorang pun bisa memastikan kapan IHSG mencapai titik terendah. Karena itu, investor perlu menjaga likuiditas, menghindari utang konsumtif untuk investasi, serta membatasi penggunaan margin atau fasilitas pinjaman saham.

Menyiapkan cadangan kas untuk kebutuhan hidup dan investasi beberapa bulan ke depan juga penting. Dana darurat sebaiknya dipisahkan dari modal trading agar investor tidak terpaksa menjual saham ketika harga sedang tertekan.

2. Bedakan harga saham dan nilai bisnis
Saham yang turun 40% belum tentu murah. Bisa saja penurunan harga mencerminkan memburuknya fundamental perusahaan.
Investor perlu mengevaluasi pertumbuhan pendapatan, laba bersih, arus kas operasional, utang, ROE, serta prospek bisnis. Perusahaan berkualitas dengan valuasi menarik dan margin of safety atau jarak pengaman antara harga beli dan nilai intrinsik layak masuk radar.

3. Siapkan amunisi sebelum peluang datang
Jangan menghabiskan seluruh dana hanya karena harga saham terlihat murah. Pasar masih bisa turun setelah pembelian.
Strategi pembelian bertahap, diversifikasi, dan disiplin menentukan harga masuk dapat membantu mengendalikan risiko. Setiap keputusan harus didasarkan pada analisis, bukan sekadar harapan bahwa IHSG segera rebound.

2027, Momentum atau Ujian Baru?
Tekanan pasar Indonesia pada 2026 juga dipengaruhi persoalan transparansi, kekhawatiran investor global, dan evaluasi MSCI terhadap aksesibilitas pasar modal Indonesia. Reuters melaporkan kekhawatiran tersebut turut memperbesar tekanan jual di pasar domestik.

Karena itu, tahun 2027 tidak boleh diasumsikan otomatis menjadi periode pemulihan. Investor perlu mencermati perkembangan reformasi pasar modal, arus dana asing, nilai tukar rupiah, suku bunga, dan kinerja emiten.

Pelajaran terbesar dari Warren Buffett bukanlah keberanian membeli ketika semua orang takut, melainkan kesiapan menghadapi risiko sebelum peluang muncul.
Pada akhirnya, investasi bukan perlombaan siapa paling cepat membeli saham saat harga jatuh. Ini adalah perjalanan panjang tentang menjaga modal, memilih bisnis berkualitas, dan tetap rasional ketika pasar kehilangan arah.

Jangan hanya bersiap mencari keuntungan. Bersiaplah juga untuk bertahan.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update