Notification

×

Iklan

Iklan

Mengapa Kita Tak Pernah Merasa Cukup? Pelajaran dari "Dopamine Nation"

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:13 WIB
 


Pasbana - Pernahkah Anda membuka ponsel "sebentar saja", lalu sadar satu jam telah berlalu? Atau makan camilan padahal tidak lapar, hanya karena ingin merasa lebih baik? Menurut Dr. Anna Lembke, psikiater dari Universitas Stanford dan penulis Dopamine Nation: Finding Balance in the Age of Indulgence, ini bukan sekadar kurang disiplin. Ada ilmu di baliknya.

Otak yang Mencari Keseimbangan


Lembke menjelaskan bahwa otak kita memiliki "timbangan" antara kesenangan dan rasa sakit. Ketika kita melakukan sesuatu yang menyenangkan, seperti menonton video, berbelanja, atau menikmati makanan manis, timbangan itu condong ke arah kesenangan. Namun otak selalu berusaha kembali seimbang. Ia menurunkan sisi kesenangan dan menaikkan sisi rasa sakit.

Akibatnya, setelah euforia reda, kita tidak kembali ke titik netral. Kita justru jatuh sedikit lebih rendah: gelisah, hampa, dan ingin lagi. Jika terus diulang, kita butuh dosis yang lebih besar hanya untuk merasa normal. Inilah akar kecanduan.

Zaman Serba Berlebihan


Dulu, kesenangan itu langka. Kini, dunia penuh dengan "dopamin siap pakai": media sosial, belanja daring, makanan cepat saji, tayangan tanpa akhir. Semuanya tersedia di genggaman. 

Menurut Lembke, kita hidup di era yang membuat otak kewalahan karena terlalu banyak rangsangan, sehingga kemampuan menikmati hal sederhana pun menurun.

Puasa Dopamin: Jeda untuk Memulihkan


Solusi yang ditawarkan Lembke sederhana namun menantang: berpuasa dari kebiasaan yang membuat kita kecanduan selama sekitar empat minggu. 

Dalam masa jeda ini, otak punya kesempatan mereset diri. Pada awalnya terasa tidak nyaman, tetapi lambat laun kemampuan kita menikmati hal-hal kecil, seperti secangkir teh atau obrolan hangat, akan pulih.

Rasa Sakit yang Menyembuhkan


Gagasan paling menarik dalam buku ini adalah bahwa kita perlu berdamai dengan ketidaknyamanan. Lembke mencontohkan manfaat mandi air dingin dan olahraga berat. Tantangan kecil yang disengaja justru melatih otak memproduksi kesenangan secara sehat.

Kejujuran sebagai Obat


Lembke juga menekankan pentingnya kejujuran radikal. Mengakui secara terbuka kebiasaan yang merugikan, kepada diri sendiri maupun orang terdekat, sering menjadi langkah pertama menuju pemulihan. Berbohong menjaga kecanduan tetap hidup, sedangkan kejujuran membuka jalan untuk berubah.

Pesan untuk Kita


Buku ini tidak melarang kita menikmati hidup. Pesannya adalah keseimbangan: kesenangan sebaiknya menjadi bumbu, bukan menu utama. Mulailah dari langkah kecil. Taruh ponsel satu jam sebelum tidur, kurangi gula, atau luangkan waktu tanpa layar. Ketika kita berhenti mengejar kesenangan tanpa henti, hidup yang sederhana ternyata terasa jauh lebih cukup.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update