Notification

×

Iklan

Iklan

Tambiluak dan Tragedi Situjuah 1949: Ketika Sejarah Terjebak dalam Stigma

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:11 WIB
 


Pasbana - Di antara ingatan tentang perjuangan mempertahankan Republik dan luka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, nama Tambiluak menyimpan pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab. Benarkah ia pengkhianat dalam Peristiwa Situjuah 1949, atau justru korban dari prasangka yang tumbuh di tengah kekacauan revolusi?

Setiap 15 Januari, tragedi di Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, kembali mengingatkan masyarakat pada harga mahal kemerdekaan. Namun, di balik kisah para pejuang yang gugur, tersimpan cerita seorang lelaki yang namanya telanjur dilekatkan pada tuduhan pengkhianatan.

Kisahnya mengajak kita melihat sejarah bukan hanya dari siapa yang gugur, tetapi juga dari bagaimana sebuah tuduhan menjadi warisan ingatan.

Dari Tukang Pangkas hingga Pusaran Revolusi


Kamaluddin, yang dikenal dengan julukan Tambiluak, berasal dari Padang Panjang. Sebelum namanya terseret dalam kontroversi sejarah, ia menjalani kehidupan sebagai tukang pangkas rambut di Payakumbuh. Ia juga aktif bermain sepak bola dan ikut dalam dinamika pemuda setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Menurut sumber sejarah yang ada, Tambiluak pernah mengikuti Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta pada 10 November 1945 bersama dua pemuda Payakumbuh lainnya. Ia kemudian bergabung dengan Batalyon Singa Harau, bertugas di bagian perlengkapan dan pengangkutan.

Hidupnya berubah ketika Belanda kembali melancarkan agresi militer dan tekanan terhadap Republik semakin kuat. Pada malam 14 Januari 1949, sejumlah tokoh sipil dan militer berkumpul di Situjuah Batua untuk membahas strategi perjuangan.

Menjelang subuh, pasukan Belanda mengepung lokasi. Serangan mendadak itu menewaskan puluhan orang. Tulisan tersebut menyebut 69 korban jiwa, termasuk sejumlah pemimpin perjuangan.

Kegagalan menjaga kerahasiaan pertemuan kemudian memunculkan kecurigaan. Nama Tambiluak ikut terseret, hingga ia dituduh membocorkan informasi kepada Belanda.

Antara Tuduhan dan Bukti Sejarah

Kecurigaan terhadap Tambiluak tidak lahir tanpa latar. Kesaksian Syamsul Bahar, sebagaimana dikutip dalam sejumlah tulisan sejarah, menjadi salah satu sumber tuduhan. Namun, kesaksian itu tidak serta-merta membuktikan bahwa Tambiluak membocorkan lokasi pertemuan kepada Belanda.

Sejarawan Mestika Zed, sebagaimana diberitakan dalam sejumlah tulisan tentang kontroversi tersebut, menilai tidak ada bukti kuat yang cukup untuk menetapkannya sebagai pengkhianat. Penjelasan lain juga menyebut pasukan Belanda telah mengawasi kawasan Situjuah sebelum serangan terjadi.

Nasib Tambiluak sendiri berakhir tragis. Setelah menjadi sasaran kecurigaan dan mengalami kekerasan, ia akhirnya tewas dalam situasi pelarian. Ia tidak pernah memperoleh kesempatan untuk membela diri melalui proses pengadilan yang dapat menguji tuduhan terhadapnya.

Kisah ini memperlihatkan betapa kerasnya masa revolusi: keputusan kerap diambil dalam situasi genting, ketika informasi terbatas, emosi memuncak, dan keselamatan menjadi taruhan.

Merawat Ingatan, Menguji Kebenaran


Membaca ulang kisah Tambiluak bukan berarti mengecilkan pengorbanan para pejuang yang gugur di Situjuah. Justru sebaliknya, penghormatan terhadap mereka perlu berjalan beriringan dengan keberanian menguji setiap tuduhan melalui bukti.

Penelitian Yuni dan Hardi dalam Jurnal Kronologi (2021) menunjukkan bahwa kontroversi tentang Kamaluddin Tambiluak merupakan bagian dari perdebatan historiografi—cara sejarah ditulis, ditafsirkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagi generasi sekarang, ada pelajaran penting: jangan terburu-buru menjadikan cerita yang diwariskan sebagai kebenaran mutlak. Periksa sumbernya, bandingkan kesaksian, dan pahami konteks zamannya.
Sebab, sejarah bukan sekadar daftar nama pahlawan dan pengkhianat. Ia adalah ikhtiar memahami manusia di tengah pilihan-pilihan sulit.

Sudahkah kita mengenang Peristiwa Situjuah sekaligus berani meninjau kembali cerita yang selama ini kita yakini? Merawat sejarah berarti menghormati para korban, membuka ruang penelitian, dan mewariskan kebenaran yang terus diuji—bukan sekadar stigma yang diwariskan tanpa Makin tahu Indonesia.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update