Notification

×

Iklan

Iklan

Cahyo Dwi Nugroho, Pemuda Solok Selatan yang Membawa Internet ke Wilayah Blankspot

Minggu, 01 November 2026 | 15:14 WIB
 


Solok Selatan, pasbana - Di tengah dunia yang semakin terhubung, akses internet masih menjadi kemewahan bagi sebagian masyarakat di pelosok. Bagi anak-anak sekolah, keterbatasan jaringan bukan sekadar persoalan sinyal, tetapi juga hambatan untuk memperoleh informasi dan kesempatan belajar.

Kenyataan itulah yang menggerakkan Cahyo Dwi Nugroho, pemuda berusia 29 tahun dari Nagari Talunan Maju, Kecamatan Sangir Balai Janggo, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Alih-alih hanya mengeluhkan sulitnya jaringan, ia memilih mencari jalan keluar. Dari sebuah gagasan sederhana, Cahyo ikut membuka akses internet bagi masyarakat yang selama ini berada di wilayah blankspot.

Atas kontribusinya tersebut, Cahyo menerima penghargaan sebagai pemuda berprestasi dari Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10/2026). Penghargaan diserahkan Wakil Bupati H. Yulian Efi dalam upacara di halaman Kantor Bupati Solok Selatan.

Berawal dari Pengetahuan, Tumbuh Menjadi Gerakan


Perjalanan Cahyo dimulai pada November 2022. Saat itu, ia memperoleh pemahaman mengenai penyediaan layanan internet melalui kegiatan yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Solok Selatan bersama PT Indonesia Comnets Plus (ICON+) Padang.

Pengetahuan tersebut tidak dibiarkan berhenti sebagai wawasan. Cahyo yang menjabat Direktur BUMNag Talunan Maju melihat peluang untuk mengembangkan layanan internet sebagai unit usaha nagari.

Langkah ini menarik karena menghadirkan dua manfaat sekaligus: memperluas konektivitas masyarakat dan membuka potensi sumber pendapatan ekonomi desa.
Ia juga mengajak pemuda di Kecamatan Sangir Balai Janggo dan Sangir Batang Hari untuk terlibat dalam penyediaan layanan internet, terutama bagi kawasan yang belum menikmati jaringan telekomunikasi secara memadai.

Internet Gratis, Membuka Kesempatan Belajar


Salah satu sisi paling menyentuh dari inisiatif Cahyo adalah kepeduliannya terhadap pendidikan. Ia turut menyediakan akses internet gratis bagi pelajar dari keluarga kurang mampu.

Bantuan tersebut bukan sekadar fasilitas teknologi. Di tengah pembelajaran yang semakin membutuhkan sumber digital, koneksi internet dapat membantu siswa mengakses materi pelajaran, mencari referensi, dan memperluas pengetahuan.

UNESCO dalam berbagai kajiannya tentang teknologi pendidikan mengingatkan bahwa teknologi digital dapat memperluas kesempatan belajar, tetapi manfaatnya sangat bergantung pada pemerataan akses dan kualitas penggunaannya.

Pemuda Jangan Hanya Menjadi Penonton


Kisah Cahyo memberikan pelajaran bahwa pembangunan tidak selalu harus menunggu proyek besar. Pengetahuan, keberanian mengambil inisiatif, dan kemampuan membangun kolaborasi dapat menjadi awal perubahan di tingkat nagari.

Model seperti ini layak dikembangkan melalui penguatan BUMNag, pelatihan keterampilan digital, kemitraan dengan penyedia jaringan, serta dukungan pemerintah terhadap infrastruktur telekomunikasi.

Tentu, keberlanjutan layanan, kualitas jaringan, biaya terjangkau, dan pemeliharaan infrastruktur tetap harus menjadi perhatian.

Pada akhirnya, semangat Sumpah Pemuda bukan hanya tentang mengenang sejarah persatuan. Semangat itu juga hidup ketika anak muda berani menjawab persoalan di lingkungannya.

Cahyo telah menunjukkan bahwa dari sebuah nagari di Solok Selatan, perubahan bisa dimulai dari satu hal sederhana: menghadirkan sinyal agar lebih banyak orang memiliki kesempatan untuk terhubung dengan dunia. Makin tahu Indonesia.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update