Pasbana - Ada masa ketika deru lokomotif menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumatera Barat. Dari Padang menuju pedalaman, kereta api bukan sekadar alat transportasi, melainkan penghubung ekonomi, perdagangan, dan denyut kehidupan berbagai daerah.
Kini, setelah puluhan tahun terhenti, gagasan menghidupkan kembali jalur kereta api itu kembali menemukan momentumnya.
Sejarah mencatat, pembangunan jalur kereta api di Sumatera Barat pada masa kolonial Belanda berkaitan erat dengan kebutuhan mengangkut batu bara Ombilin dari Sawahlunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur.
Sejarah mencatat, pembangunan jalur kereta api di Sumatera Barat pada masa kolonial Belanda berkaitan erat dengan kebutuhan mengangkut batu bara Ombilin dari Sawahlunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur.
Jalur yang melintasi Padang Panjang, kawasan Danau Singkarak, Solok, hingga Sawahlunto tersebut menjadi salah satu infrastruktur penting bagi perekonomian Sumatera Barat pada masanya.
Namun, ketika produksi batu bara menurun, sejumlah layanan kereta api akhirnya berhenti beroperasi secara bertahap. Menjelang akhir 1970-an, angkutan kereta api untuk jalur tersebut praktis tidak lagi menjadi pilihan utama. Pengangkutan batu bara kemudian lebih banyak mengandalkan truk melalui jalur darat.
Kini, semangat menghidupkan kembali transportasi berbasis rel mulai masuk dalam perencanaan pembangunan jangka panjang Sumatera Barat hingga 2045. Tidak hanya Padang–Sawahlunto, wacana reaktivasi juga mencakup sejumlah koridor strategis, seperti Naras, Bukittinggi, Payakumbuh, hingga Halaban.
Gagasan ini sesungguhnya menawarkan peluang yang jauh lebih besar daripada sekadar mengembalikan perjalanan kereta api. Jika dirancang dengan tepat, rel dapat menjadi penggerak ekonomi baru.
Bayangkan setiap stasiun memiliki karakter tersendiri. Padang Panjang menjadi simpul wisata sejarah dan kuliner, kawasan Singkarak menawarkan panorama danau, sementara Sawahlunto memperkuat daya tarik wisata warisan tambang. Di sisi lain, petani dan pelaku UMKM dapat memanfaatkan stasiun sebagai titik distribusi hasil pertanian dan produk lokal.
Tentu, pekerjaan rumahnya tidak sederhana. Penataan kembali aset perkeretaapian, bangunan yang telanjur berdiri di sepanjang jalur lama, kebutuhan investasi, hingga kelayakan jumlah penumpang dan barang harus diperhitungkan secara matang. Dialog dengan masyarakat juga penting agar reaktivasi tidak memunculkan konflik sosial.
Karena itu, keberhasilan proyek ini tidak cukup diukur dari berapa kilometer rel yang berhasil dibangun kembali. Konektivitas antardaerah, keterjangkauan tarif, kenyamanan kereta, integrasi dengan transportasi lain, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat harus menjadi ukuran utama.
Sumatera Barat membutuhkan lebih dari sekadar kereta yang kembali berjalan. Daerah ini membutuhkan jalur masa depan yang menghubungkan sejarah, pariwisata, perdagangan, dan kesejahteraan rakyat.
Kini, masyarakat perlu ikut mengawal perencanaan dan pelaksanaannya. Sebab, reaktivasi kereta api bukan hanya proyek infrastruktur pemerintah, melainkan investasi jangka panjang bagi generasi mendatang. Makin tahu Indonesia.(*)




