Pasbana - Suatu hari, anak mungkin bertanya: mengapa jalan di depan rumah rusak, mengapa harga kebutuhan naik, atau mengapa ada orang yang bisa mengambil keputusan untuk banyak orang? Pertanyaan sederhana itu sebenarnya membuka pintu menuju satu hal yang sering dianggap tabu dalam keluarga: politik.
Sebagian orang tua memilih menjauhkan anak dari pembicaraan politik. Alasannya cukup masuk akal. Politik kerap dipenuhi pertengkaran, saling hujat, fanatisme, hingga kebencian antarkelompok. Orang tua tentu tidak ingin anak tumbuh dengan cara pandang seperti itu.
Namun, menjauhkan anak dari pembicaraan politik bukan berarti menjauhkan mereka dari pengaruh politik. Di tengah derasnya informasi digital, anak tetap akan bersentuhan dengan isu kekuasaan, kebijakan publik, dan persaingan kepentingan. Bedanya, mereka mungkin menemukannya tanpa pendampingan orang tua.
Di sinilah keluarga memiliki peran penting. Pendidikan politik bukan tentang mengarahkan anak memilih partai atau mengidolakan tokoh tertentu. Lebih mendasar dari itu, pendidikan politik adalah mengajarkan bagaimana kehidupan bersama diatur, hak masyarakat dilindungi, dan kekuasaan seharusnya dijalankan secara bertanggung jawab.
Anak perlu memahami bahwa keputusan pemerintah bukan sesuatu yang jauh dari kehidupannya. Kebijakan pendidikan menentukan kualitas sekolah, kebijakan kesehatan memengaruhi akses pengobatan, sementara keputusan tentang lingkungan turut menentukan kualitas hidup generasi mendatang.
Karena itu, ayah dan ibu bisa memulai dari percakapan sederhana. Mengapa anggaran negara harus digunakan secara transparan? Mengapa hutan perlu dilindungi? Mengapa setiap warga negara memiliki hak yang sama di hadapan hukum?
Dari pertanyaan tersebut, anak belajar berpikir kritis, bukan sekadar menerima jawaban.
Tantangan berikutnya datang dari ruang digital. Media sosial memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat, termasuk propaganda, disinformasi, dan konten yang sengaja membangkitkan emosi. UNESCO melalui program literasi media dan informasi juga menekankan pentingnya kemampuan masyarakat mengakses, mengevaluasi, serta menggunakan informasi secara kritis.
Maka, jangan biarkan anak hanya menjadi konsumen informasi. Ajarkan mereka memeriksa sumber, mencari bukti, membandingkan sudut pandang, dan membedakan fakta dari opini. Biasakan bertanya: siapa yang membuat informasi ini, apa kepentingannya, dan apakah ada bukti yang mendukungnya?
Yang tidak kalah penting, ayah harus menjadi teladan. Berani mengkritik tanpa menghina, berbeda pendapat tanpa bermusuhan, serta bersikap objektif meskipun kebijakan yang dikritik berasal dari tokoh yang disukai.
Pendidikan politik yang sehat tidak melahirkan pengikut fanatik. Ia membentuk warga negara yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan keberanian moral.
Jadi, jangan takut membicarakan politik bersama anak. Mulailah dari persoalan sehari-hari, gunakan bahasa sesuai usia, dan berikan ruang bagi mereka untuk bertanya.
Sebab, tugas orang tua bukan menyiapkan anak menjadi pembenci atau pengikut kekuasaan, melainkan menjadi manusia merdeka yang mampu berpikir, menilai, dan bertanggung jawab. Jangan sampai ketika orang tua memilih diam, propaganda justru lebih dahulu mengambil peran sebagai guru.(*)




