Notification

×

Iklan

Iklan

Festival Alang-alang Maukia Langit: Lestarikan Budaya Lewat Permainan

03 Juli 2022 | 20.49 WIB Last Updated 2022-07-03T13:50:28Z
Foto: Dok. Culture Batipuh


Tanah Datar, pasbana - The Culture of Batipuh tahun ini menyelenggarakan acara  Festival Alang-alang Maukia Langit dari Batipuh. Acara digelar di Jorong batang gadih Nagari Batipuh Baruh Kecamatan Batipuh Baruh Kabupaten Tanah Datar, Sabtu (02/07). 


Festival ini bertujuan membangkitkan nilai nilai budaya yang terpendam dan mengajak tokoh-tokoh masyarakat untuk melestarikan kembali.

Hal tersebut disampaikan oleh Chairunnas, S.STP Camat Batipuah. Menurutnya, membuat sebuah iven mandiri bertema Festival Alang-alang Maukia langit, atau dalam bahasa indonesia Festival Layang-layang mengukir langit dari Batipuh memberikan nuansa berbeda dibanding iven lainnya. 


Kegiatan ini diikuti peserta Pabasko (Padang Panjang, Batipuh sapuluh Koto) untuk memper erat hubungan tali silaturahmi PABASKO. 

Chairunnas mengucapkan terimakasih dan mendukung kegiatan seperti Festival ini. Karena kegiatan sejalan dengan program Pemerintah Daerah Tanah Datar, Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Membangkitkan batang taradam nilai-nilai budaya yang lama terlupakan kita tampilkan untuk menarik kunjungan wisata luar kesini, sekarang kita bangkitkan kembali. 




"Harapan kita kedepan Festival Alang-alang Maukia langit ini bisa dipertahankan dijadikan sebuah ikon di Nagari Batipuh baruah. Dengan adanya kegiatan ini akan berdampak positif bagi masyarakat, terutama sekali bagi UMKM mereka bisa berjualan setiap Festival Alang-alang ini," harap Chairunnas. 
 
Wali Nagari Batipuh Baruh Mulyadi BJ, juga menyampaikan Festival Alang-alang baradat ini ada aturan dan kekhasannya, mulai dari kerangka kertas, cat sampai ekor, untuk menandai pemiliknya nama ninik mamak, pangulu suku yang bersangkutan dan daerah agar tidak sama dengan yang lain. 

Setiap lomba diharuskan memakai deta beradat (beradap) karena lomba ini merupakan sebuah prestise bagininik mamak dan suku. 

Tradisi Layang-layang  ini sudah lama ada, merupakan tradisi yang diwariskan turun temurun oleh orang-orang tua kita dahulu. 

"Sebenarnya target dari kegiatan ini bagaimana para pecandu Layang-layang khususnya masyarakat Padang Panjang Batipuh Sepuluh Koto (Pabasko) bisa termenjalin hubungan silaturahmi, karena kita banyak mempunyai kegiatan pertadingan seperti sepak bola, trabas, salah satu  lomba Layang-layang, itu tujuan kami mengadakan kegiatan lomba ini, juga menghidupkan ekonomi masyarakat kita khususnya pelaku UMKM," kata Wali Nagari Mulyadi BJ. 

Sementara itu Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Datuak Rangkai Basa, mengatakan bahwa kegiatan Layang-layang ini adalah tradisi nagari. 

Inisiatif generasi muda Nagari Batipuh Baruah khususnya Jorong Batang Gadih. Ingin mengangkat kembali permainan masyarakat untuk menjadi suatu pembelajaran pendidikan dan hiburan, disegi pendidikan baa raso jo pareso antaro bakawan, (bagaimana rasa periksa antara kita berteman) waktu menaikan Layang-layang saling menjaga. 

Dengan menaikkan Layang-layang rasa kegembiraan itu muncul, maka disinilah terjadi hubungan silaturahmi sehingga bisa mengangkat budayanya. 

" Jadi hobi, perilaku, pembelajaran dan kebersamaan terjalin disini, karena banyak yang kecil-kecil  maupun yang besar, mereka bisa belajar cara bermasyarakat, " jelasnya. 

Permainan layang-layang ini diikuti oleh seluruh masyarakat, baik yang muda maupun yang tua-tua. Untuk memberikan pembelajaran dan kehidupan bermasyarakat, jadi makin tahu Indonesia. (bd/*) 



Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
×
Berita Terbaru Update