Notification

×

Iklan

Iklan

M. Sjafei: Dari Guru Seni Menjadi Pejuang Kemerdekaan dan Pendidikan

26 Februari 2024 | 11:25 WIB Last Updated 2024-02-26T05:01:43Z
Foto M. Sjafei


pasbana - M. Sjafei adalah sosok penting dalam sejarah pendidikan di Sumatera Barat. Ia dikenal sebagai pendiri INS Kayu Tanam, sekolah menengah pertama yang didirikan oleh pribumi di Sumbar. 

M. Sjafei, nama yang mungkin tidak setenar pahlawan nasional lainnya, namun kiprahnya dalam pergerakan kemerdekaan dan pendidikan Indonesia patut diperhitungkan. Lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, tahun 1893 (atau 1896), Sjafei dibesarkan oleh ayah angkatnya, Ibrahim Marah Soetan, seorang intelektual Minangkabau ternama.

Sejak muda, Sjafei menunjukkan bakat seni dan musik. Setelah menyelesaikan pendidikan di Kweekschool (Sekolah Raja) Bukittinggi, ia melanjutkan studi di Batavia dan mempelajari seni lukis. Sjafei kemudian mendapat kesempatan mengajar di sekolah rendah di Belanda, sambil aktif dalam organisasi pelajar De Indische Vereeniging.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Sjafei melanjutkan ke Belanda untuk memperdalam ilmu pendidikan. Di negeri kincir angin itu, Sjafei aktif dalam organisasi pelajar Indonesia. Ia juga sempat mengajar di sekolah dasar di Rotterdam. 

Pada 1925, Sjafei kembali ke Tanah Air dan mendirikan Indonesische NederlandSchool (INS) Kayu Tanam di Bukittinggi. INS adalah wujud dari cita-cita Marah Soetan untuk mendirikan sekolah modern oleh dan untuk pribumi. Sjafei menjadi kepala sekolah pertama INS. Ia mendidik para siswa tidak hanya dalam bidang akademik, tapi juga karakter dan kepribadian.

Selain sebagai pendidik, Sjafei juga aktif dalam politik pra-kemerdekaan. Ia terlibat dalam partai politik seperti Indische Partij dan Partai Insulinde. Setelah Indonesia merdeka, Sjafei menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Pengajaran dalam Kabinet Sjahrir.

Semangat Sjafei tak hanya terbatas pada pendidikan. Ia aktif dalam pergerakan politik, bergabung dengan Indische Partij dan Partai Insulinde. Di masa pendudukan Jepang, ia bahkan memimpin Chuo Sang In cabang Sumatera Tengah dan membacakan Proklamasi Kemerdekaan di Bukittinggi.

Karir politik Sjafei berlanjut setelah kemerdekaan. Ia diangkat menjadi Residen Sumatera Barat, Menteri Pendidikan dan Pengajaran Republik Indonesia, dan kemudian Menteri Pendidikan dan Kesehatan PRRI.

Meskipun pergolakan politik mewarnai perjalanan hidupnya, Sjafei tak pernah melupakan komitmennya pada pendidikan. Ia kembali membangun INS Kayu Tanam yang sempat terlantar akibat perang.

Pada tahun 1969, Sjafei menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di kompleks INS Kayu Tanam, di samping makam ibu angkatnya, Andung Chadijah.

M. Sjafei adalah sosok inspiratif. Guru seni yang bertransformasi menjadi pejuang kemerdekaan dan pendidikan. Dedikasi dan semangatnya patutlah dicontoh oleh generasi penerus bangsa.

Pemikiran pendidikan M. Sjafei berpusat pada beberapa konsep kunci, yaitu:


1. Pendidikan Kemerdekaan: Sjafei menekankan pentingnya pendidikan yang membebaskan anak-anak dari penjajahan, baik secara fisik maupun mental. Ia ingin menciptakan pendidikan yang memungkinkan anak-anak untuk berkembang secara merdeka dan mandiri.
2. Pendidikan Kebangsaan: Sjafei percaya bahwa pendidikan haruslah menumbuhkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme pada anak-anak. Ia ingin anak-anak Indonesia memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk membangun bangsa yang merdeka dan sejahtera.
3. Pendidikan Karakter: Sjafei menekankan pentingnya pendidikan karakter dalam membentuk pribadi yang berbudi luhur. Ia ingin anak-anak Indonesia memiliki nilai-nilai moral yang kuat, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin.
4. Pendidikan Alam: Sjafei percaya bahwa pendidikan haruslah memanfaatkan alam sebagai sumber belajar. Ia ingin anak-anak Indonesia memiliki hubungan yang erat dengan alam dan belajar menghargai sumber daya alam.
5. Pendidikan Keterampilan: Sjafei menekankan pentingnya pendidikan keterampilan untuk mempersiapkan anak-anak Indonesia dalam menghadapi dunia kerja. Ia ingin anak-anak Indonesia memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi mandiri dan berkontribusi pada pembangunan bangsa.

Beberapa pemikiran pendidikan M. Sjafei yang konkret:

  • Sekolah Kerja: Sjafei mendirikan INS Kayutanam, sebuah sekolah yang menerapkan sistem pendidikan kerja. Di INS Kayutanam, anak-anak diajarkan berbagai keterampilan, seperti bertani, bertukang, dan berdagang.
  • Pendidikan Kepanduan: Sjafei aktif dalam gerakan kepanduan dan percaya bahwa kepanduan dapat membantu anak-anak untuk mengembangkan karakter dan kepemimpinan.
  • Pendidikan Bahasa Indonesia: Sjafei merupakan salah satu tokoh yang memperjuangkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan.
Pemikiran pendidikan M. Sjafei memberikan pengaruh yang besar pada perkembangan pendidikan di Indonesia. Gagasan-gagasannya tentang pendidikan kemerdekaan, pendidikan kebangsaan, pendidikan karakter, pendidikan alam, dan pendidikan keterampilan masih relevan hingga saat ini.
INS Kayu Tanam, didirikan oleh Mohammad Syafei pada tahun 1926, memainkan peran penting dalam melahirkan tokoh-tokoh nasional Indonesia. Sekolah ini menjadi wadah bagi para pemuda untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan menumbuhkan semangat nasionalisme.

Beberapa faktor yang berkontribusi pada peran INS Kayu Tanam:

  • Sistem Pendidikan: INS Kayu Tanam menerapkan sistem pendidikan yang berfokus pada pengembangan karakter, kepemimpinan, dan kemandirian. Para siswa didorong untuk berpikir kritis, kreatif, dan berani bertindak.
  • Kurikulum: Kurikulum INS Kayu Tanam tidak hanya fokus pada mata pelajaran akademis, tetapi juga pada keterampilan praktis dan pengetahuan tentang budaya dan sejarah Indonesia.
  • Lingkungan: INS Kayu Tanam memiliki lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran dan pengembangan diri. Para siswa didorong untuk saling bertukar ide dan bekerja sama dalam berbagai kegiatan.
  • Guru: INS Kayu Tanam memiliki guru-guru yang berkualitas dan inspiratif. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing para siswa dan menumbuhkan semangat nasionalisme.

Beberapa tokoh nasional yang pernah bersekolah di INS Kayu Tanam:

  • Mohammad Hatta: Wakil Presiden pertama Indonesia
  • Sutan Sjahrir: Perdana Menteri pertama Indonesia
  • Agus Salim: Diplomat dan pejuang kemerdekaan
  • Burhanuddin Harahap: Perdana Menteri Indonesia
  • Mohammad Natsir: Perdana Menteri Indonesia
  • Chairil Anwar: Penyair ternama Indonesia

Selain melahirkan tokoh-tokoh nasional, INS Kayu Tanam juga berkontribusi pada:

  • Perkembangan pendidikan di Indonesia: INS Kayu Tanam menjadi model bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia dalam menerapkan sistem pendidikan yang berfokus pada pengembangan karakter dan kepemimpinan.
  • Pergerakan kemerdekaan Indonesia: Para alumni INS Kayu Tanam banyak yang terlibat dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.
  • Pembangunan Indonesia: Para alumni INS Kayu Tanam banyak yang berkiprah di berbagai bidang dan memberikan kontribusi pada pembangunan Indonesia.
INS Kayu Tanam telah memainkan peran penting dalam melahirkan tokoh-tokoh nasional dan berkontribusi pada perkembangan pendidikan, pergerakan kemerdekaan, dan pembangunan Indonesia.(x/bd)

Sumber:
  • Chaniago, Harun. 2010. "M. Sjafei: Pejuang Pergerakan dan Pendidikan." Dalam Ensiklopedi Sumbar. Padang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Barat.
  • Singgalang. 2014. "Ibrahim Marah Soetan: Pelopor Pendidikan dan Kebangkitan Nasional." 19 Oktober.
×
Kaba Nan Baru Update