Agam, pasbana - Di balik lekuk hijau Pegunungan Bukit Barisan, terdapat sebuah wilayah yang jarang disorot namun menyimpan kekayaan alam dan sejarah luar biasa: Palupuh, Kecamatan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Bagi sebagian orang, Palupuh mungkin sekadar nama di peta. Namun bagi pencinta alam dan budaya, kawasan ini adalah permata tersembunyi Minangkabau.Salah satu daya tarik utama Palupuh berada di Jorong Batang Palupuh.
Kawasan ini dikenal sebagai habitat alami Rafflesia arnoldii, bunga terbesar di dunia, sekaligus tempat tumbuh Amorphophallus titanum atau bunga bangkai raksasa.
Kehadiran dua flora langka ini menjadikan Palupuh sebagai laboratorium alam hidup yang menarik perhatian peneliti botani internasional sekaligus wisatawan pencinta ekowisata.Tak jauh dari sana, Desa Wisata Pesona Pagadih mencuri perhatian nasional setelah masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Berada di ketinggian 900–1.300 meter di atas permukaan laut, Pagadih menawarkan udara sejuk, gua purba, air terjun alami, hingga arena panjat tebing yang memacu adrenalin.Jejak sejarah juga hidup di Palupuh melalui Masjid Tua Nurul Hikmah Sipisang di Nagari Nan Tujuah. Berdiri sejak 1815, masjid beratap tiga tingkat ini menjadi saksi perkembangan Islam di pedalaman Minangkabau.
Arsitekturnya mencerminkan perpaduan nilai adat dan spiritual yang masih terawat hingga kini.Di sektor ekonomi, Nagari Pagadih dikenal sebagai sentra perkebunan gambir—komoditas khas Sumatera Barat yang sejak masa kolonial telah menjadi bahan ekspor penting untuk industri farmasi, penyamakan kulit, hingga kosmetik alami.
Dengan lanskap perbukitan hijau, udara sejuk, dan suasana pedesaan yang autentik, Palupuh menawarkan pengalaman wisata yang berbeda: tenang, alami, dan sarat cerita.
Di tengah tren wisata massal, Palupuh justru hadir sebagai pengingat bahwa keindahan sejati sering tersembunyi di tempat yang belum ramai disorot dunia. Makin tahu Indonesia. (*)






