Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Asal Diskon! Bahaya “Menangkap Pisau Jatuh” yang Sering Menjebak Investor Saham Pemula

04 Mei 2026 | 18:10 WIB Last Updated 2026-05-04T11:10:00Z


Pasbana - Di pasar saham, ada satu istilah klasik yang sering terdengar di kalangan investor: “menangkap pisau jatuh” (falling knife)

Kedengarannya dramatis, tapi gambaran ini sangat nyata. Ibarat melihat barang mahal diskon besar di toko, banyak investor langsung tergoda membeli saham yang harganya anjlok tajam.

Masalahnya, tidak semua diskon adalah peluang. Kadang justru itu awal kerugian panjang.

Artikel ini membantu investor pemula memahami kenapa saham murah belum tentu menarik, sekaligus bagaimana menghindari jebakan yang sering terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kenapa Investor Mudah Terjebak?


Banyak investor value investing fokus pada angka murah tanpa membaca “cerita” di balik perusahaan.

1. Terpaku pada masa lalu
Investor melihat rasio seperti PER (Price to Earnings Ratio) atau PBV (Price to Book Value) rendah. 

Secara teori murah. Namun pasar sering sudah mengantisipasi masalah bisnis: penurunan industri, utang besar, atau model usaha yang mulai usang.

Analoginya sederhana: membeli mobil bekas murah tanpa tahu mesinnya rusak total.

2. Efek Psikologi Jangkar (Anchoring)
Saham dulu Rp5.000, sekarang Rp1.000 terasa murah. Padahal harga lama tidak lagi relevan jika fundamental perusahaan berubah.

3. Mengabaikan tren dan sentimen pasar
Harga jatuh sering bukan sekadar koreksi, tetapi perubahan struktural—misalnya teknologi baru yang membuat bisnis lama kehilangan pasar.

Fenomena “Value Trap” di Pasar Indonesia


Kasus ini cukup sering muncul di BEI:
Saham komoditas terlihat murah saat harga batu bara atau CPO turun, padahal siklus global belum menyentuh titik bawah.

Saham gocap (Rp50) sering diburu investor pemula karena dianggap tidak bisa turun lagi. Faktanya, saham bisa kehilangan likuiditas atau bahkan masuk pengawasan khusus (FCA).

Menurut laporan edukasi investor dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan berbagai riset sekuritas nasional, banyak kerugian investor ritel terjadi bukan karena salah memilih sektor, tetapi karena terlalu cepat membeli saham yang masih dalam tren turun.

Cara Aman Menghindari “Pisau Jatuh”


1. Cari katalis, bukan sekadar murah
Tanya: apa yang bisa membuat harga naik kembali?
Manajemen baru? Produk inovatif? Pemulihan ekonomi?

2. Gunakan Margin of Safety
Istilah dari investor legendaris Benjamin Graham: beli saat harga jauh di bawah nilai wajar agar ada bantalan risiko.

3. Periksa Cash Flow
Laba bisa terlihat bagus di laporan, tetapi arus kas menunjukkan kesehatan nyata perusahaan.

4. Tunggu harga menemukan “lantai”

Lebih baik membeli sedikit lebih mahal saat tren mulai stabil daripada menebak titik terendah.

Value investing bukan berarti membeli saham yang jatuh paling dalam. Investor cerdas memakai “sarung tangan baja” berupa riset fundamental, kesabaran, dan disiplin manajemen risiko.

Karena di pasar saham, yang terlihat murah belum tentu bernilai — bisa jadi hanya sedang sekarat.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update