Notification

×

Iklan

Iklan

Awas, Jangan Tertipu Pemenang! Mengurai Bias Kesuksesan dalam Dunia Bisnis dan Investasi

28 Agustus 2025 | 09:54 WIB Last Updated 2025-08-28T02:54:31Z


Pasbana - Dalam beberapa dekade terakhir, rak-rak toko buku diisi dengan karya-karya populer tentang rahasia sukses. 

Dari Good to Great karya Jim Collins hingga In Search of Excellence karya Tom Peters, kita disuguhi kisah-kisah perusahaan raksasa yang dianggap punya "formula kemenangan".

Namun, David Lockwood dalam bukunya Fooled by the Winners (2020) memberikan peringatan keras: jangan buru-buru percaya. 

Menurutnya, banyak narasi kesuksesan yang justru menjerumuskan karena didasarkan pada bias penyintas (survivorship bias).

Apa Itu Bias Penyintas?


Bayangkan Anda ingin tahu resep sukses membangun restoran. Anda hanya mewawancarai restoran-restoran besar yang masih eksis, seperti McDonald’s atau Starbucks. 

Dari situ Anda menyimpulkan bahwa lokasi strategis, pelayanan ramah, dan menu khas adalah kunci keberhasilan.

Masalahnya, Anda tidak pernah mendengar cerita ratusan restoran lain yang juga punya resep lezat dan pelayanan prima, tapi akhirnya gulung tikar.

Karena mereka sudah "hilang dari radar", datanya tidak pernah masuk analisis. Inilah yang disebut bias penyintas: hanya melihat yang berhasil, mengabaikan yang gagal.

Bahaya Meniru "Formula Sukses"


Lockwood mengingatkan bahwa kesuksesan dalam bisnis sering kali bukan hanya soal strategi cemerlang, tapi juga keberuntungan, momentum, dan kondisi pasar. Meniru perusahaan besar tanpa memahami konteks bisa berakhir fatal.

Korelasi bukan sebab-akibat: Apple punya kantor keren, tapi bukan berarti kantor keren yang membuat Apple sukses.

Keberuntungan sering diabaikan: Banyak perusahaan lahir di momen yang tepat, misalnya Amazon yang tumbuh saat e-commerce baru berkembang pesat di era 1990-an.

Konteks berbeda, hasil berbeda: Strategi perusahaan teknologi di Silicon Valley belum tentu cocok diterapkan pada pabrik manufaktur di Jawa Barat.

Di pasar saham, fenomena ini juga terlihat. Banyak investor pemula tergoda meniru strategi "saham pemenang" seperti Tesla atau Nvidia di AS, atau BCA dan Telkom di Indonesia. 

Padahal, keberhasilan emiten tersebut tidak hanya karena strategi internal, tetapi juga karena momentum ekonomi dan faktor eksternal lain.

Pelajaran Praktis bagi Pebisnis dan Investor


Alih-alih terjebak pada "resep instan", Lockwood menyarankan pendekatan yang lebih realistis dan bisa diterapkan sehari-hari:

Berpikir kritis
Setiap kali membaca buku atau artikel sukses, tanyakan: bagaimana dengan mereka yang mencoba hal yang sama tapi gagal?

Fokus pada prinsip, bukan trik
Prinsip dasar seperti manajemen keuangan yang sehat, pemahaman pasar, dan adaptabilitas akan jauh lebih berguna ketimbang meniru kebiasaan CEO tertentu.

Belajar dari kegagalan
Banyak startup gagal bukan karena ide buruk, tapi karena pengelolaan arus kas yang lemah. Analisis kegagalan bisa jadi panduan berharga untuk menghindari kesalahan serupa.

Hargai faktor acak
Tidak semua hal bisa dikendalikan. Investor yang bijak tahu bahwa volatilitas pasar adalah keniscayaan. 

Oleh karena itu, penting membangun portofolio yang terdiversifikasi agar tetap aman meski ada ketidakpastian.


Relevansi dengan Pasar Saham Saat Ini


IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sepanjang tahun 2025 memperlihatkan fluktuasi yang tajam. Sektor teknologi dan perbankan menjadi motor penggerak, sementara beberapa saham konsumer sempat tertahan akibat daya beli yang melemah.

Banyak investor ritel terburu-buru masuk ke saham yang sedang naik, hanya karena ingin meniru "pemenang pasar". Namun, jika tidak memahami risiko dan konteks, strategi ini justru bisa berbalik menjadi kerugian.

Seperti kata Warren Buffett, "Anda hanya akan tahu siapa yang berenang telanjang ketika air laut surut." 

Artinya, strategi instan yang meniru pemenang sering kali terbongkar rapuhnya ketika pasar berubah arah.

Jangan Cari Peta Harta Karun, Belajarlah Membaca Kompas


Buku Fooled by the Winners adalah pengingat penting bahwa dunia bisnis dan investasi penuh ketidakpastian. Alih-alih mencari peta harta karun berupa "10 langkah sukses pasti jadi miliarder", lebih baik kita belajar membaca kompas berupa prinsip dasar: disiplin finansial, adaptasi terhadap perubahan, dan kesadaran akan risiko.

Bagi investor dan pelaku bisnis, kuncinya adalah tidak terjebak ilusi kesuksesan orang lain, tapi membangun strategi berdasarkan realita diri sendiri dan kondisi pasar yang nyata.

Jadi, lain kali Anda membaca tips sukses seorang miliarder atau strategi perusahaan raksasa, jangan langsung ditelan bulat-bulat. 

Ingatlah selalu pertanyaan ini: berapa banyak orang lain yang melakukan hal sama, tapi tidak pernah terdengar karena mereka gagal? (*) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update