Pasbana - Bayangkan menanam pohon mangga. Tahun pertama belum berbuah, tahun kedua mulai berbuah kecil, dan tahun-tahun berikutnya buahnya makin banyak.
Kurang lebih seperti itulah konsep dividend growth stocks—saham perusahaan yang rutin membagikan dividen dan nilainya terus bertumbuh dari waktu ke waktu.
Periode 2021–2025 menjadi ujian berat bagi strategi ini. Pasar saham global dan domestik harus melewati fase pasca pandemi, lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga, hingga gejolak geopolitik.
Namun justru di masa penuh tekanan inilah, saham dividen yang tumbuh konsisten menunjukkan daya tahannya.
Apa yang Diteliti?
Dalam kajian ini, disaring saham-saham di pasar Indonesia dengan kriteria ketat sepanjang 2021–2025:
Dividen dibagikan setiap tahun (tidak pernah putus)
Dividen cenderung meningkat (boleh turun satu kali)
Hasilnya, terpilih 49 saham dividend growth. Lalu, bagaimana performanya dibandingkan pasar secara keseluruhan, yang direpresentasikan oleh IHSG di Bursa Efek Indonesia?
1. Capital Gain Lebih Stabil
Secara rata-rata, saham-saham ini mencatat CAGR (pertumbuhan tahunan majemuk) capital gain 12,9%, lebih tinggi dari IHSG yang hanya 7,7%.
Menariknya, saat IHSG terkoreksi cukup dalam pada 2024 (-2,7%), return saham dividend growth masih positif (+4,3%). Ini menunjukkan karakter defensif: naik saat pasar bullish, tapi lebih “empuk” saat pasar jatuh.
2: Dividen Jadi Penyangga Return
Dividend yield rata-rata meningkat signifikan, dari 3,1% (2021) menjadi 6,0% (2025). Artinya, investor tidak hanya berharap dari kenaikan harga saham, tetapi juga menerima “uang sewa” rutin.
Jika capital gain dan dividen digabung, total return saham dividend growth selalu mengalahkan IHSG setiap tahun. Di tahun pasar lesu seperti 2023–2024, dividen berperan sebagai shock absorber—penahan guncangan ketika harga saham bergerak datar.
3: Sejalan dengan Laba Bersih
Selama lima tahun, laba bersih rata-rata perusahaan dalam sampel meningkat 90,3% dibanding tahun 2020. Pertumbuhan laba ini sejalan dengan kenaikan dividen, menandakan manajemen yang disiplin dan arus kas yang sehat.
Menariknya, kenaikan harga saham masih lebih lambat dibanding pertumbuhan laba. Ini memberi ruang valuasi yang relatif rasional—bukan sekadar euforia pasar.
Apa Artinya bagi Investor?
Dividend growth stocks berada di “titik tengah” antara growth investing dan income investing. Cocok bagi investor jangka panjang yang ingin pertumbuhan sekaligus arus kas. Namun catatannya jelas: ini bukan strategi buy and forget.
Analisis ini mengandung survivorship bias—hanya saham yang bertahan hingga 2025 yang dihitung. Karena itu, evaluasi fundamental dan konsistensi dividen wajib dilakukan secara berkala.
Bagi investor ritel, pelajaran besarnya sederhana: dividen yang tumbuh konsisten bukan sekadar bonus, melainkan bagian penting dari strategi membangun kekayaan jangka panjang.
(*)




