Oleh: Dr. Sulaiman Juned, M.Sn. *)
Pasbana - Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang bersama Majalah Digital elipsis.com acap peduli pada kondisi bencana alam di negeri ini. Ini terbukti pada tahun 2017 menerbitkan Antologi Puisi Penyair Nusantara bertajuk "Aceh 5:03 6,4 SR" Gempa Pidie Jaya dengan memuat 200 penyair yang dikuratori Sulaiman Juned, Salman Yoga S dan Muhammmad Subhan.
Kemudian pada Desember 2023 Komunitas Seni Kuflet bekerja sama dengan Pemda Kota Padang Panjang menerbitkan 125 Puisi Pilihan penyair Nusantara bertajuk "Puisi Cinta untuk Palestina" yang dikurasi oleh Sulaiman Juned dan Muhammad Subhan sekaligus melakukan donasi.
Selanjutnya pada November 2024 bersama Majalah Digital elipsis menerbitkan antologi puisi yang memuat 100 penyair Indonesia bertajuk "Negeri Bencana" dengan Kurator Riri Satria, Sulaiman Juned dan Muhammad Subhan.
Kini Januari 2025 memuat 150 penyair Nusantara atas bencana di Sumatera terkhusus Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara diuji oleh banjir bandang, angin kencang, dan tanah longsor diberi judul "Air Mata Sumatera" dengan Kurator Sulaiman Juned, Muhammad Subhan dan Jarwansah.
Ini sebagai wujud empati dan keprihatinan, dan ikhtiar untuk merawat ingatan visual selain sebagai ruang ekspresi estetik dalam bentuk puisi. Tentu ini ditujukan juga untuk penggalangan donasi yang akan diteruskan kepada penyintas bencana. Puisi-puisi dari 150 penyair nusantara ini diharapkan dapat menjadi jembatan rasa dan aksi sebab kata-kata tak hanya berhenti pada kepedihan, luka dan air mata namun mampu bergerak terhadap kepedulian nyata.
Kami yakin, puisi yang muncul ke ranah publik dapat dilihat lewat nilai estetik dan pesan moral. Selanjutnya wujud itu menjelma catatan atas peristiwa yang mendera tiga wilayah di Sumatera ini. Penyair menjadi juru berita atas realitas yang ada. Realitas musibah, kerugian harta benda, korban jiwa dan tangis para korban. Penyair lewat puisinya mampu menangkap getar kemanusian yang lahir dari peristiwa itu; kehilangan--ketakutan--ketahaban--kekuatan dan harapan.
Sementara kekuatan estetik dapat ditakar lewat pilihan diksi, keutuhan imaji, keberanian metafora, kepadatan makna juga kejujuran puitik dari 150 penyair Nusantara yang termuat dalam buku ini. Para penyair merebut realitas sosial menjadi realitas sastra (puisi) tentu tidak terjebak pada ratapan klise semata, namun menghadirkan pengalaman batin yang hidup dan menggugah.
150 penyair dengan 150 puisi dalam buku "Air Mata Sumatera" tidak hanya merekam ketidakberdayaan manusia dihadapan alam tetapi juga mencerminkan kebijaksanaan yang muncul dari pengalaman pahit. Puisi-puisi itu juga menyalakan kembali ingatanntentang semangat gotong royong, ketahanan dan kebersamaan yang menjadi identitas bangsa ini.
Jadi, ditengah berbagai bencana yang mendera, anak bangsa dan negeri ini harus tetap berdiri tegak tentu berkat solidaritas masyarakat yang bahu membahu termasuk para penyair dalam melawan kehancuran. Kumpulan Puisi ini dengan lirisme yang kuat mengajak anak bangsa untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam dan Tuhannya yang telah menciptakan sekaligus menantang peradaban manusia. Bravo!
*) Penulis adalah Sastrawan, Esais, Kolomnis, Sutradara Teater, Pendiri/Penasihat Seni Kuflet Padang Panjang, Ketua Panitia Pendirian Kampus ISBI Aceh (2012/2015), Dosen Seni Teater ISI Padangpanjang, Pendiri Sanggar Cempala Karya Banda Aceh (1986), Pendiri UKM-Teater NOL Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (1990), Pendiri UKM PersMa Pituluik ISI Padangpanjang (1997), Penerima Pin Emas bidang Seni Budaya dan Adat Istiadat dari Pemda Kota Padang Panjang (2020), Ketua Umum Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Sumatera Barat).






