Solok, pasbana - Angin bertiup pelan di Puncak Garunun Bidadari Payo. Dari ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, hamparan Kota Solok terlihat kecil, sementara birunya Danau Singkarak membentang tenang di kejauhan.
Di titik inilah, alam dan adrenalin bertemu—menawarkan pengalaman yang tak sekadar indah dipandang, tetapi juga menggetarkan.
Puncak Garunun Bidadari Payo bukan sekadar tempat menikmati panorama. Lokasi ini dikenal sebagai salah satu titik lepas landas paralayang favorit di Sumatera Barat.
Saat cuaca cerah, payung-parasut berwarna-warni menghiasi langit, melayang mengikuti arah angin, membawa pilot dan penumpangnya menjelajahi udara Kota Solok dari sudut pandang yang berbeda.
Bagi pengunjung yang belum memiliki pengalaman, tak perlu khawatir. Tersedia layanan paralayang tandem, di mana wisatawan bisa terbang bersama instruktur berlisensi dan berpengalaman. Aktivitas ini menjadi pintu masuk yang aman bagi pemula untuk merasakan sensasi terbang bebas.
Dengan tarif yang relatif terjangkau, tergantung penyedia jasa dan kondisi cuaca—pengalaman ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi wisatawan muda dan pencinta petualangan.
Namun, Garunun Bidadari Payo tak melulu soal adrenalin. Banyak pengunjung datang hanya untuk duduk santai, menikmati angin pegunungan, atau berburu foto saat matahari tenggelam.
Senja di puncak ini dikenal dramatis: langit perlahan berubah jingga, siluet perbukitan menggelap, dan danau memantulkan cahaya terakhir hari. Momen sederhana, tetapi sulit dilupakan.
Di pagi hari, kawasan ini juga kerap dimanfaatkan warga untuk joging dan olahraga ringan. Udara yang sejuk dan panorama terbuka membuat aktivitas fisik terasa lebih menyenangkan. Tak heran jika tempat ini menjadi ruang publik favorit, baik bagi wisatawan maupun masyarakat lokal.
Secara akses, Puncak Garunun Bidadari Payo terbilang mudah dijangkau. Lokasinya berada di Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, hanya sekitar enam kilometer dari pusat Kota Solok.
Pembangunan infrastruktur jalan yang terus dilakukan membuat perjalanan semakin nyaman, bahkan untuk kendaraan roda dua dan roda empat.
Menariknya, tidak ada tiket masuk untuk menikmati kawasan ini. Dengan modal waktu dan rasa ingin tahu, pengunjung sudah bisa membawa pulang pengalaman alam yang berkelas.
Garunun Bidadari Payo membuktikan bahwa pesona wisata tak selalu harus mahal—kadang, ia hanya menunggu untuk ditemukan, dari ketinggian. Makin tahu Indonesia.(*)






