Notification

×

Iklan

Iklan

Membaca Orderbook Saham: Cara Melihat “Medan Perang” Bandar dan Retail secara Real-Time

11 Januari 2026 | 23:00 WIB Last Updated 2026-01-11T16:00:08Z


Pasbana - Di pasar saham, grafik harga sering dianggap sebagai peta utama. Tapi bagi trader yang ingin naik level, orderbook adalah medan perangnya.

Di sanalah pertarungan antara pembeli dan penjual berlangsung detik demi detik, lengkap dengan strategi, tipuan, dan manuver psikologis.

Artikel ini akan membantu Anda memahami cara membaca orderbook dengan bahasa sederhana, dikaitkan dengan praktik Bandarmology, serta dilengkapi panduan praktis yang bisa langsung dipakai, baik untuk trader harian maupun investor swing.

Apa Itu Orderbook dan Mengapa Penting?


Orderbook (papan harga) adalah daftar antrian beli (Bid) dan antrian jual (Offer/Ask) suatu saham pada berbagai level harga.

Jika grafik ibarat rekaman masa lalu, maka orderbook adalah situasi saat ini.

Bagi pengguna aplikasi trading seperti milik Bursa Efek Indonesia atau platform populer seperti Stockbit, orderbook adalah fitur standar yang sering dilihat—namun belum tentu dipahami dengan benar.

Anatomi Dasar Orderbook (Versi Mudah Dipahami)


Orderbook terbagi dua sisi utama:

Bid (kiri) → Antrian beli
Orang-orang yang ingin membeli saham di harga tertentu (biasanya ingin murah).

Offer / Ask (kanan) → Antrian jual
Orang-orang yang siap menjual sahamnya.

Hukum Dasarnya sederhana:
Ingin langsung beli sekarang → beli di harga Offer teratas (istilah pasar: Hajar Kanan).

Ingin langsung jual sekarang → jual ke harga Bid teratas (Hajar Kiri).

Di sinilah banyak pemula berhenti. Padahal, justru perang psikologinya baru dimulai.

Jebakan Psikologi Orderbook ala Bandarmology


Dalam pendekatan Bandarmology, orderbook bukan hanya soal angka, tapi soal niat dan ilusi.

1. Mitos “Bid Tebal = Aman”
Bayangkan Anda melihat antrian beli sangat besar—puluhan ribu lot—di satu harga.

Logika pemula:
“Wah, support kuat. Banyak yang mau beli. Aman.”

Logika bandar:
Sering kali itu Fake Bid—ganjalan palsu.
Tujuannya membuat investor ritel merasa aman, ikut beli, lalu antrian dicabut dan harga diguyur.

Waspada:
Jika Bid sangat tebal tapi Offer tipis, harga justru sering turun.

2. Offer Tebal Bukan Selalu Tanda Bahaya

Sekarang kebalikannya. Offer tampak menumpuk tebal.

Logika pemula:
“Waduh, banyak yang jual. Harga susah naik.”

Logika bandar:
Bisa jadi itu Fake Offer. Harga sengaja “ditahan” agar ritel bosan dan menjual murah.
Barang murah itu lalu ditampung bandar.

Petunjuk penting:
Jika Offer tebal terus dimakan (di-HK) dan volumenya menyusut cepat, itu tanda breakout sedang disiapkan.
Harga saham selalu bergerak menuju likuiditas.
Saat tembok likuiditas habis, harga bisa meloncat.

Menentukan Entry yang Tepat dari Orderbook


Orderbook bukan untuk dipandangi, tapi dipakai mengambil keputusan.

Skenario A: Saham Sedang Lari Kencang (Scalping)


Ciri: volume naik, harga bergerak cepat.

Langkah praktis:
Fokus ke kolom Offer.
Cari harga dengan tumpukan lot besar (tembok).

Amati: apakah tembok itu cepat berkurang?
Jika iya → Entry (HK) sebelum tembok habis.

📌 Catatan penting:
Di saham yang sedang “running”, antri di Bid sering ditinggal naik.

Skenario B: Saham Santai / Swing (Nabung Bertahap)


Ciri: harga sideways atau koreksi ringan.

Langkah praktis:
Lihat 3–5 baris Bid teratas.
Cari Bid yang volumenya cukup tebal dan wajar.

Pasang buy limit 1–2 tick di atasnya (istilah pasar: titip sandal).

Pastikan itu gabungan banyak order, bukan satu pihak saja (cek order detail).
Ibaratnya, Anda berdiri di depan bantalan, bukan tepat di bawahnya.

Ringkasan Cepat: Cheat Sheet Membaca Orderbook


Kondisi OrderbookMakna (Bandarmology)Tindakan

Bid tipis, Offer tebal
Bandar tahan harga & akumulasiCicil beli, sabar

Bid tebal, Offer tipis
Potensi distribusiJangan agresif

Offer tebal dimakan
Mark-up hargaIkut HK cepat

Bid & Offer sama-sama tipis
Likuiditas keringHindari


Orderbook Itu Seperti Pasar Tradisional


Bayangkan Anda di pasar sayur:
Banyak pembeli pura-pura antre → belum tentu benar-benar beli.

Penjual menumpuk barang di depan lapak → bisa untuk bikin harga “terlihat mahal”.
Trader yang cerdas bukan yang paling cepat bereaksi, tapi yang paling paham niat di balik antrean.

Pertanyaan Penting untuk Diri Sendiri


Sebelum mendalami orderbook lebih jauh, jujurlah pada diri sendiri:
Apakah Anda punya waktu memantau pasar seharian (cocok untuk scalping)?
Atau hanya bisa cek sesekali karena bekerja (lebih cocok swing)?

Strategi terbaik bukan yang paling canggih, tapi yang paling sesuai dengan ritme hidup Anda.

Membaca orderbook adalah keterampilan penting setelah memahami teori Bandarmology.

Ia tidak menjamin selalu benar, tapi memberi konteks nyata tentang apa yang sedang terjadi di pasar.

Teruslah belajar, perbanyak jam terbang, dan tingkatkan literasi finansial agar tidak mudah terjebak ilusi pasar.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update