Notification

×

Iklan

Iklan

Diantara Sunyi Hutan dan Deru Perahu: Kisah Dokter Yanti, Penjaga Terakhir Harimau Sumatera

23 Februari 2026 | 06:57 WIB Last Updated 2026-02-23T03:03:51Z


Pasbana - Di atas perahu kayu kecil yang mengapung pelan di sungai berwarna kecokelatan, seorang perempuan duduk tenang. Di sampingnya, seekor Harimau Sumatera terbaring tak berdaya, baru saja dibius untuk dievakuasi dari wilayah konflik.

Perempuan itu bukan tentara. Bukan pula pemburu.

Ia adalah dokter hewan.
Namanya drh. Erni Suyanti Musabine—lebih akrab disapa Dokter Yanti. Bagi dunia konservasi, ia bukan sekadar dokter satwa liar. Ia adalah penjaga garis depan bagi salah satu spesies paling terancam di Indonesia: Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Foto momen di atas perahu itu sempat viral beberapa tahun lalu. Namun jauh sebelum menjadi perbincangan publik, Dokter Yanti sudah lama berada di medan sunyi—tempat konflik manusia dan satwa liar menjadi pertaruhan nyawa.

Harimau yang Kian Terdesak


Menurut data dari WWF dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), populasi Harimau Sumatera di alam liar diperkirakan tinggal sekitar 400–600 ekor. Mereka adalah subspesies harimau terakhir yang masih bertahan di Indonesia, setelah Harimau Jawa dan Harimau Bali dinyatakan punah.

Ancaman terbesar mereka bukan sekadar perburuan ilegal, tetapi juga fragmentasi hutan dan konflik dengan manusia. Ketika hutan berubah menjadi kebun atau permukiman, ruang jelajah harimau menyempit. Konflik pun tak terelakkan.
Di sinilah peran Dokter Yanti menjadi krusial.

11 Harimau, 9 Tahun, dan Hutan yang Tak Ramah


Sejak 2002, lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga ini memilih bertugas di wilayah-wilayah terpencil Sumatera—mulai dari Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, hingga Lampung.

Selama sembilan tahun terakhir saja, ia tercatat menyelamatkan sedikitnya 11 ekor Harimau Sumatera dari jeratan pemburu, konflik dengan warga, atau kondisi medis darurat.

“Setiap evakuasi itu tidak pernah mudah,” ujarnya dalam satu kesempatan wawancara.
“Harimau yang terluka bisa sangat agresif. Tapi di sisi lain, mereka adalah korban.”

Sebagian harimau yang ia tangani terjerat kawat baja. Luka jerat sering kali sudah membusuk, terinfeksi, bahkan menyebabkan amputasi. Dalam kondisi seperti itu, tindakan medis harus dilakukan cepat—sering kali dengan fasilitas terbatas di tengah hutan.

Tak jarang, ia harus berjalan berjam-jam menyusuri medan berat hanya untuk mencapai lokasi satwa.

Bekerja dengan Risiko Nyawa


Menangani harimau bukan sekadar soal keahlian medis. Dibutuhkan ketenangan, pengalaman membaca perilaku satwa, dan keberanian menghadapi risiko.

Proses pembiusan saja bisa menjadi situasi paling menegangkan. Dosis harus presisi. Terlalu sedikit, harimau bisa bangkit dan menyerang. Terlalu banyak, risiko kematian meningkat.

Dalam beberapa operasi, Dokter Yanti harus memastikan denyut jantung, suhu tubuh, hingga respons refleks harimau tetap stabil di tengah kondisi lapangan yang jauh dari ideal.

Ia bukan hanya dokter. Ia juga negosiator konflik.

Menjembatani Manusia dan Predator


Konflik manusia-harimau sering kali dipicu oleh ternak yang dimangsa atau ketakutan warga. Dalam situasi panas seperti itu, keputusan cepat diperlukan agar tidak terjadi pembunuhan satwa.

Dokter Yanti aktif terlibat dalam musyawarah penanganan konflik di berbagai provinsi Sumatera. Ia bekerja bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), aparat daerah, hingga tokoh masyarakat.

Pendekatan yang ia usung bukan sekadar penyelamatan fisik, tetapi edukasi.
Karena pada akhirnya, konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan satu individu harimau, melainkan menjaga ekosistem tetap seimbang.

Harimau adalah predator puncak. Kehilangan mereka berarti rantai makanan terganggu. Ekosistem hutan tropis Sumatera bisa kehilangan keseimbangannya.

Kartini di Rimba Sumatera


Di tengah dominasi laki-laki dalam operasi lapangan konservasi satwa liar, kehadiran Dokter Yanti menjadi simbol keberanian perempuan Indonesia.

Banyak kalangan menyebutnya sebagai “Kartini konservasi.” Sebuah sebutan yang mungkin terdengar puitis, tetapi terasa relevan.

Semangatnya mengingatkan pada perjuangan emansipasi ala Raden Ajeng Kartini—bukan dalam ruang kelas atau politik, melainkan di hutan belantara.
Bedanya, yang ia perjuangkan bukan sekadar hak manusia, melainkan hak hidup spesies yang terancam punah.

Lebih dari Sekadar Viral


Viralitas foto di atas perahu itu hanya sekelumit dari perjalanan panjangnya. Yang tidak terekam kamera adalah malam-malam di tenda darurat, hujan lebat di tengah operasi, atau kekhawatiran ketika dana operasional terbatas.

Konservasi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar: keterbatasan anggaran, luasnya wilayah pengawasan, dan jaringan perdagangan satwa ilegal yang masih aktif.
Namun selama masih ada orang-orang seperti Dokter Yanti, harapan belum benar-benar padam.

Menjaga Harapan, Menjaga Hutan


Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Tetapi status itu datang bersama tanggung jawab besar.

Harimau Sumatera bukan sekadar satwa liar. Ia adalah simbol hutan yang tersisa. Simbol keseimbangan alam. Dan simbol pertanyaan besar bagi kita semua: apakah kita ingin menjadi generasi yang menyaksikan kepunahan berikutnya?

Di tengah sunyi rimba, seorang dokter perempuan terus menjawab pertanyaan itu dengan tindakan nyata.
Bukan dengan pidato.

Bukan dengan sorotan kamera.
Melainkan dengan jarum bius, perban luka, dan keberanian yang nyaris tak terdengar.
Dan selama ia masih berjalan di antara pohon-pohon itu, harimau-harimau Sumatera mungkin masih punya kesempatan untuk tetap hidup. Makin tahu Indonesia.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update