Notification

×

Iklan

Iklan

IHSG Anjlok Hampir 8%, Jangan Panik: Teguran MSCI Jadi Alarm Keras agar Pasar Saham Indonesia Lebih Sehat

28 Januari 2026 | 13:47 WIB Last Updated 2026-01-28T06:59:16Z


Pasbana - Hari ini banyak investor terbangun dengan perasaan tidak nyaman. IHSG rontok hampir 8%, layar perdagangan memerah, dan kepanikan cepat menyebar. Dan di sesi kedua, BEI memberlakukan Trading Halt selama 30 menit. 


Namun sebelum buru-buru menyimpulkan ekonomi Indonesia sedang runtuh, ada satu hal penting yang perlu dipahami: ini bukan krisis ekonomi, melainkan krisis kepercayaan pasar.

Pemicu utamanya datang dari MSCI (Morgan Stanley Capital International), lembaga penyusun indeks global yang menjadi rujukan utama investor institusi dunia. Dalam pernyataan terbarunya, MSCI menyampaikan keraguan serius terhadap kejujuran pembentukan harga saham di Indonesia. Bahasanya lugas, bahkan cenderung keras.

Apa yang Dipersoalkan MSCI?


Ada dua sorotan utama:

1. Struktur kepemilikan saham yang tidak transparan

MSCI menilai data kepemilikan saat ini—yang dikelola KSEI—belum cukup detail untuk membedakan mana saham yang benar-benar beredar di publik (free float) dan mana yang dikendalikan kelompok tertentu. Bagi investor global, ini masalah besar karena menyangkut likuiditas dan risiko.

2. Indikasi transaksi terkoordinasi

MSCI mencium adanya pergerakan harga yang tidak wajar, alias tidak murni karena permintaan dan penawaran. Dalam bahasa sederhana: ada dugaan “permainan” yang merusak harga wajar saham.

Sebagai respons awal, MSCI menjatuhkan Interim Treatment—ibarat pasar saham Indonesia masuk “ruang isolasi”.

Dampaknya jelas:
  • Tidak ada saham baru yang bisa masuk indeks MSCI
  • Tidak ada kenaikan kelas dari Small Cap ke Standard Index
  • Tidak ada penambahan bobot meski perusahaan melakukan right issue atau private placement

Inilah alasan investor asing memilih outflow dan bersikap wait and see.

Dua Jalan Menuju Mei 2026


MSCI memberi tenggat hingga Mei 2026 bagi otoritas—BEI, OJK, dan KSEI—untuk berbenah. Ada dua skenario besar:

Skenario positif:
Jika transparansi kepemilikan dibuka lebih jelas dan pengawasan manipulasi harga diperketat, kepercayaan global bisa pulih. Pasar berpeluang rebound, kali ini dengan fondasi yang lebih sehat.

Skenario negatif:
Jika perbaikan diabaikan, Indonesia berisiko turun kasta dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Konsekuensinya serius: dana asing besar bisa keluar secara paksa karena profil risiko dianggap lebih tinggi. Ini bukan sekadar sentimen, tapi aturan investasi global.

Jadi, Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor?


Dalam fase “mandi bersih” ini, langkah praktis berikut patut dipertimbangkan:

  • Jangan terburu-buru serok
  • Tunggu hingga arus dana asing (foreign flow) mulai stabil.
  • Hindari saham low free float. Terutama yang kenaikannya dulu sulit dijelaskan secara fundamental. Fokus ke saham blue chip yang transparan dan likuid.
  • Pantau tiga bulan ke depan. Perhatikan regulasi baru soal keterbukaan data dan pengawasan pasar.
Ibarat bisul, pasar memang harus “dipecahkan” agar sembuh. Sakit di awal, tetapi menyelamatkan di kemudian hari.

Jika progres perbaikan nyata terlihat sebelum Mei 2026, sentimen bisa berbalik cepat.

Tetap tenang, jaga likuiditas, dan tingkatkan literasi finansial. Pasar modal yang sehat selalu lahir dari transparansi dan disiplin.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update