Notification

×

Iklan

Iklan

Rel yang Tak Pernah Tiba: Ketika Solok Selatan Masuk Peta Besar Sejarah Sumatra

22 Januari 2026 | 06:48 WIB Last Updated 2026-01-22T00:37:30Z


Pasbana -Pada awal abad ke-20, ketika hutan masih rapat dan sungai menjadi jalan utama, sebuah rencana besar diam-diam disusun di meja para insinyur kolonial Belanda. Rencana itu ambisius: membelah rimba Sumatra Tengah dengan rel kereta api.

Tujuannya jelas—menghubungkan kekayaan alam pedalaman dengan dunia luar.

Dokumen bertajuk Verslag eener spoorwegverkenning in Midden-Sumatra (1920) karya Ir. W.J.M. Nivel menjadi saksi bisu betapa seriusnya rencana itu. Dari lembaran laporan teknis tersebut, terkuak satu fakta penting: Solok Selatan, Rantau Ikil, dan Kerinci bukan wilayah pinggiran, melainkan jantung ekonomi masa depan—setidaknya menurut hitungan kolonial.

Rantau Ikil, Titik Simpul yang Diperebutkan


Dalam laporan halaman 66, Rantau Ikil disebut sebagai knooppunt—titik simpul. Istilah ini bukan sembarang kata. Di dunia perkeretaapian, knooppunt berarti pusat pertemuan jalur, denyut nadi lalu lintas barang dan manusia.

Belanda merencanakan rel dari Jambi akan bercabang dua di sini: satu menuju Muara Bungo, satu lagi menanjak ke Solok Selatan. Jika terwujud, Rantau Ikil akan menjelma kota stasiun—ruang temu pedagang, buruh, dan modal asing.

Solok Selatan dan Daya Tarik “Harta Karun”


Tak ada rel tanpa muatan. Di halaman 65, laporan Nivel mencatat keberadaan tambang emas dan mineral di Abai, Sungai Pagu, dan Sapé. Kawasan ini dianggap layak dibiayai mahal karena menjanjikan keuntungan jangka panjang.

Sementara itu, halaman 71 memuji wilayah Liki dan Sangir sebagai tanah vulkanis subur—ideal untuk kopi dan teh, komoditas yang kala itu menjadi tulang punggung ekspor Hindia Belanda.

Rel Sangir: Jalur yang Hampir Menjadi Sejarah


Rute kereta bahkan sudah dirancang rinci. Dari Rantau Ikil, kereta akan menanjak ke Bidar Alam, melewati Padang Air Dingin, dan berakhir di Lubuk Gadang. Stasiun terakhir ini disiapkan sebagai pusat pengumpulan hasil bumi sebelum dikirim ke pelabuhan.

Bayangan kereta uap menyusuri Batang Sangir bukanlah khayalan—ia pernah hampir menjadi kenyataan.

Kerinci, Lumbung yang Menopang Sistem


Dalam halaman 75, Kerinci disebut sebagai voorraadschuur—lumbung pangan. Beras dari dataran tinggi ini dirancang untuk menyuplai ribuan pekerja tambang dan perkebunan di Jambi serta Pantai Timur Sumatra. Sebuah sistem ekonomi regional yang tertata rapi.

Angka yang Mengubah Cara Pandang


Data sensus ekonomi 1920 (halaman 125) mencatat 5.500 pekerja resmi telah bekerja di wilayah Muara Labuh dan Sangir, dengan potensi produksi mencapai 10.000 ton hasil bumi

Angka ini menegaskan bahwa kawasan ini sudah hidup dan produktif jauh sebelum Indonesia merdeka.

Sejarah yang Terhenti, Bukan Gagal


Rencana rel akhirnya terkubur oleh krisis ekonomi global awal 1930-an. Malaise memaksa Belanda menghentikan proyek-proyek besar. Rel tak pernah datang, stasiun tak pernah berdiri.

Namun sejarah meninggalkan pesan penting:
wilayah ini pernah diproyeksikan sebagai pusat, bukan pinggiran.

Hari ini, ketika kita kembali bicara tentang konektivitas, hilirisasi, dan pembangunan berkelanjutan, arsip 1920 itu terasa relevan. Ia mengingatkan bahwa potensi besar pernah diakui dunia—dan masih menunggu untuk dikelola dengan cara yang lebih adil dan bijak.

Karena sejarah tidak pernah benar-benar berlalu. Ia hanya menunggu untuk dibaca ulang. Makin tahu Indonesia. 
(*) 

Referensi:
Nivel, W.J.M. (1920). Verslag eener spoorwegverkenning in Midden-Sumatra. Arsip Kolonial Hindia Belanda.

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update