Notification

×

Iklan

Iklan

Kaya Itu Soal Waktu: Mengapa Anak Muda Punya Keunggulan Besar di Pasar Saham

22 Januari 2026 | 07:27 WIB Last Updated 2026-01-22T00:29:03Z
 


Kekayaan terbesar anak muda bukanlah saldo rekening, melainkan waktu yang mereka miliki.

Pasbana - Pernahkah kamu merasa iri melihat orang berusia 40 atau 50 tahun yang tampak mapan secara finansial?

Rumah sudah ada, mobil berganti model, aset tersebar di mana-mana. Sementara kamu—anak muda yang baru merintis—masih harus menghitung sisa saldo sebelum gajian berikutnya. Kata “investasi” terdengar seperti kemewahan yang belum waktunya dipikirkan.

Padahal, ada satu aset yang kamu miliki dalam jumlah melimpah, yang bahkan tidak bisa dibeli oleh orang-orang kaya sekalipun: waktu.

Mari kita bahas mengapa waktu adalah senjata utama anak muda dalam investasi saham, bagaimana cara memanfaatkannya secara realistis, dan mengapa investasi bukan soal cepat kaya, melainkan soal bertahan dan bertumbuh.

Uang vs Waktu: Aset Terbesar Anak Muda


Dalam dunia investasi, ada dua “bahan bakar” utama: modal (uang) dan durasi (waktu).

Orang yang sudah mapan biasanya unggul di modal, tetapi waktu mereka terbatas. Sebaliknya, anak muda mungkin hanya mampu menyisihkan Rp100.000–Rp200.000 per bulan. Angka itu terlihat kecil—bahkan terasa tidak berarti. Namun di pasar saham, waktu adalah pengali paling kuat.

Bayangkan dua orang:
Orang pertama mulai investasi di usia 25 tahun, rutin Rp200.000 per bulan.
Orang kedua baru mulai di usia 45 tahun, tapi langsung menanam modal besar.

Dengan asumsi imbal hasil rata-rata pasar saham 10–12 persen per tahun, uang kecil yang diinvestasikan lebih awal bisa tumbuh lebih besar dibanding uang besar yang masuk terlambat. Inilah efek bunga berbunga—ibarat bola salju kecil yang menggelinding pelan dari puncak bukit, tapi makin lama makin besar.

Pesannya sederhana: jangan menunggu kaya untuk mulai investasi. Mulailah karena kamu punya waktu.

Bekerja Keras Saja Tidak Cukup


Hampir semua anak muda hari ini adalah pekerja keras. Bangun pagi, berjuang di jalan atau transportasi umum, bekerja hingga sore, bahkan lembur sampai malam. Masalahnya, kerja keras saja tidak menjamin keamanan finansial di masa depan.

Coba perhatikan sekitar kita. Banyak orang bekerja keras seumur hidup, tetapi di masa tua tetap kesulitan. Penyebab utamanya bukan karena malas, melainkan karena uang yang mereka hasilkan tidak diberi kesempatan untuk berkembang.

Musuh senyapnya bernama inflasi. Harga kebutuhan pokok naik setiap tahun. Data resmi menunjukkan inflasi Indonesia rata-rata berada di kisaran 3 persen per tahun. 

Artinya, uang Rp10 juta hari ini nilainya akan lebih kecil beberapa tahun ke depan jika hanya disimpan di rekening biasa.

Investasi saham bukan sekadar mencari untung tambahan. Ia adalah alat perlindungan nilai agar kerja keras hari ini tidak habis dimakan waktu. 

Dengan kata lain, investasi adalah cara “menyuruh uang bekerja”, agar suatu hari nanti kamu tidak harus bekerja sekeras sekarang.

Saham: Alat Bisnis, Bukan Meja Judi


Banyak anak muda ragu masuk pasar saham karena cerita-cerita horor: uang habis, saham nyangkut, atau bangkrut. Ketakutan ini wajar—terutama jika saham diperlakukan seperti arena tebak-tebakan harga.

Mari kita luruskan cara pandangnya.
Membeli saham berarti membeli kepemilikan bisnis.

Saat kamu membeli saham bank besar atau perusahaan makanan konsumen, kamu sedang memiliki sebagian kecil dari bisnis nyata yang produknya dipakai jutaan orang setiap hari. Ketika perusahaan untung, kamu berhak atas bagian keuntungan itu—baik dalam bentuk dividen maupun kenaikan nilai saham.

Sebagai pemegang saham, tugasmu bukan menatap layar setiap menit. Tugasmu adalah:
Memilih perusahaan yang bisnisnya jelas dan sehat.
Membeli di harga yang masuk akal.
Bersabar memberi waktu agar bisnis itu tumbuh.

Pendekatan inilah yang selama puluhan tahun dianjurkan oleh banyak investor legendaris dunia: jadilah pemilik bisnis, bukan penjudi harga.

Tips Praktis Memulai Investasi Saham untuk Anak Muda


Agar tidak berhenti di teori, berikut langkah sederhana yang bisa langsung diterapkan:

Mulai kecil, tapi konsisten. Nominal kecil jauh lebih penting daripada menunggu uang besar.

Pilih saham perusahaan yang produknya kamu pahami. Jika kamu menggunakannya sehari-hari, bisnisnya biasanya nyata.

Investasi rutin. Anggap seperti “menabung versi cerdas” setiap bulan.

Belajar dari sumber tepercaya. Gunakan data dan laporan resmi dari Bursa Efek Indonesia dan edukasi dari Otoritas Jasa Keuangan.

Sabar. Waktu adalah sekutu terbesarmu, bukan musuh.

Waktu Adalah Kemewahan yang Harus Dimanfaatkan


Anak muda sering merasa tertinggal karena belum punya banyak uang. Padahal, mereka sedang memegang kartu paling mahal dalam investasi: waktu yang panjang. Dengan disiplin kecil hari ini, kamu sedang membeli ketenangan di masa depan.

Pasar saham bukan jalan pintas untuk cepat kaya, tetapi jalan panjang untuk membangun kebebasan finansial secara rasional.

Teruslah belajar, perbanyak literasi finansial, dan jangan ragu membaca artikel-artikel ekonomi dan investasi lainnya agar keputusan keuanganmu makin matang. 

Karena pada akhirnya, kekayaan sejati bukan soal seberapa besar uangmu hari ini, melainkan seberapa cerdas kamu memanfaatkan waktumu sejak sekarang.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update