Notification

×

Iklan

Iklan

Isra’ Mi’raj: Ketika Iman Diuji, Shalat Dihadiahkan

16 Januari 2026 | 15:54 WIB Last Updated 2026-01-16T11:08:10Z


Pasbana- Ada peristiwa dalam sejarah Islam yang tak sekadar dicatat, tetapi juga menggugah kesadaran iman lintas zaman. Isra’ dan Mi’raj adalah salah satunya. Sebuah perjalanan spiritual yang melampaui nalar, namun justru menjadi fondasi keimanan umat Islam hingga hari ini.

Dalam satu malam, Rasulullah Muhammad SAW diperjalankan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Yerusalem, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Perjalanan ini bukan dongeng, bukan pula alegori. Al-Qur’an mengabadikannya secara tegas, membuka ruang tafakur sekaligus ujian keyakinan.

Allah SWT berfirman:
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…
(QS. Al-Isra’: 1)

Ayat ini dibuka dengan kata Subhanallah, seolah mengingatkan sejak awal: jika logika mulai kewalahan, maka tasbih adalah jawabannya.

Perjalanan yang Mengguncang Akal Sehat


Bagi masyarakat Quraisy abad ke-7, kisah perjalanan Makkah–Syam dalam satu malam terdengar mustahil. Saat itu, jarak tersebut biasa ditempuh berminggu-minggu dengan unta. Tak sedikit yang meragukan, bahkan ada yang memilih meninggalkan Islam karena tak sanggup menerima kabar tersebut.

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul Bari mencatat, Isra’ Mi’raj menjadi batu uji keimanan paling keras di fase awal dakwah Islam. Iman diuji: apakah tunduk pada keterbatasan akal, atau percaya penuh pada kekuasaan Allah?

Di sinilah sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq mendapat gelar kehormatan. Tanpa ragu ia berkata, Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu pasti benar.” Sebuah keyakinan yang tak goyah oleh hitungan jarak dan waktu.

Disaksikan Langsung, Diabadikan Langit


Peristiwa Mi’raj juga ditegaskan dalam Surah An-Najm ayat 13–18. Rasulullah SAW menyaksikan langsung malaikat Jibril dalam wujud aslinya di Sidratul Muntaha—sebuah titik kosmik yang menjadi batas pengetahuan makhluk.

Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.”
(QS. An-Najm: 18)

Para ulama tafsir seperti Imam Ath-Thabari dan Ibnu Katsir sepakat, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar pengalaman batin, melainkan perjalanan nyata dengan jasad dan ruh, atas kehendak Allah SWT.

Masjidil Aqsha dan Mata Rantai Kenabian


Isra’ Mi’raj juga menegaskan posisi Masjidil Aqsha sebagai simpul penting risalah tauhid. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, Rasulullah SAW memimpin shalat para nabi. Sebuah simbol kuat bahwa Islam bukan agama baru, melainkan kelanjutan dari ajaran para nabi sebelumnya.

Masjidil Aqsha bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah tanah yang diberkahi, sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an dan hadits. Rasulullah SAW bersabda:
Syam adalah bumi tempat berkumpul dan dibangkitkannya manusia, dan para malaikat membentangkan sayap-sayapnya di atasnya.”
(HR. Ath-Thabrani, dinilai shahih oleh Al-Hakim)

Palestina adalah bumi para nabi. Maka, mengenang Isra’ Mi’raj tanpa kepedulian terhadap Masjidil Aqsha dan penderitaan rakyat Palestina, sejatinya adalah peringatan yang kehilangan ruhnya.

Dua Perjalanan, Dua Pelajaran


Para ulama membedakan Isra’ Mi’raj sebagai rihlatut tasyrif—perjalanan penghormatan, di mana semua disiapkan oleh Allah. Berbeda dengan hijrah Nabi ke Madinah yang merupakan rihlatut taklif—perjalanan penuh strategi, risiko, dan pengorbanan.

Pesannya jelas: iman tidak menafikan ikhtiar. Pertolongan Allah hadir, tetapi usaha manusia tetap wajib dilakukan. 

Oleh-Oleh Terbesar: Shalat Lima Waktu


Dari seluruh keajaiban Isra’ Mi’raj, satu hal dibawa pulang ke bumi: shalat. Ibadah yang awalnya diwajibkan 50 waktu, lalu diringankan menjadi lima, namun dengan pahala yang tetap berlipat.

Shalat bukan sekadar ritual. Ia adalah mi’raj-nya orang beriman—jalur komunikasi langsung dengan Sang Pencipta. Maka, peringatan Isra’ Mi’raj sejatinya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum evaluasi:

Seberapa kokoh iman kita terhadap perkara ghaib?

Sejauh mana kepedulian kita pada Masjidil Aqsha?

Apakah shalat kita benar-benar mencegah dari keji dan mungkar?

Doa Nabi Ibrahim AS menjadi penutup yang relevan untuk direnungkan:
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat.”
(QS. Ibrahim: 40)

Isra’ Mi’raj mengajarkan satu hal penting: ketika iman diuji, shalatlah yang menguatkan. Dan di situlah, perjalanan langit itu menemukan maknanya di bumi.(*) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update