Pasbana - Bayangkan Anda sedang berada di pasar tradisional yang ramai. Ada pedagang yang mengambil untung tipis, tapi berulang kali. Bukan menunggu harga melonjak tinggi, melainkan cepat membeli, cepat menjual, lalu pindah ke transaksi berikutnya.
Kurang lebih, itulah gambaran scalping saham—atau yang di kalangan trader ritel sering disebut “copet saham.”
Artikel ini akan membantu Anda memahami scalping dengan bahasa sederhana: apa tujuannya, bagaimana caranya, saham seperti apa yang cocok, hingga risiko yang perlu diwaspadai. Cocok untuk pemula yang ingin tahu sebelum terjun lebih jauh ke dunia pasar modal.
Apa Itu Scalping atau “Copet Saham”?
Scalping adalah strategi jual beli saham dalam waktu sangat singkat, biasanya dalam hitungan menit hingga jam, dan semua transaksi ditutup di hari yang sama. Karena itu, scalping termasuk kategori day trading.
Tujuannya bukan mencari keuntungan besar dalam sekali transaksi, melainkan:
Mengambil untung kecil
Dilakukan berulang kali
Memanfaatkan pergerakan harga harian
Prinsipnya sederhana: sering benar kecil-kecil, bukan sekali besar.
Saham Seperti Apa yang Cocok untuk “Dicopet”?
Tidak semua saham cocok untuk scalping. Saham yang ideal biasanya memiliki momentum kuat, yaitu:
Ramai diperdagangkan (volume besar)
Likuid, mudah dibeli dan dijual
Pergerakan harga cepat
Bagi pemula, biasanya disarankan memilih saham yang sudah dikenal luas dan sering menjadi perhatian pasar, sehingga pergerakannya relatif aktif.
Catatan penting: Penyebutan contoh saham hanya untuk edukasi, bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu.
Kapan Waktu yang Paling Sering Digunakan untuk Scalping?
Trader scalping umumnya memilih jam-jam ketika pasar paling ramai, yaitu:
Saat pasar baru dibuka
Menjelang penutupan pasar
Di waktu-waktu ini, aktivitas transaksi meningkat dan harga cenderung bergerak lebih agresif—memberi peluang bagi trader jangka sangat pendek.
Bagaimana Cara Melakukan Scalping Secara Sederhana?
Untuk pemula, alurnya bisa diringkas seperti ini:
Beli saham saat harga terlihat mulai bergerak naik
Jual cepat ketika sudah mendapat keuntungan kecil
Jika harga bergerak berlawanan dari rencana, segera keluar
Dalam scalping, keputusan harus cepat. Tidak ada ruang untuk ragu terlalu lama.
Cut Loss: Aturan Wajib yang Tidak Boleh Diabaikan
Penting untuk diingat: tidak semua transaksi scalping akan untung. Justru, kunci bertahan ada pada kemampuan membatasi kerugian.
Di sinilah peran cut loss, yaitu:
Menjual saham saat harga turun sampai batas yang sudah ditentukan
Mencegah kerugian kecil berubah menjadi besar
Tanpa cut loss, strategi “copet saham” bisa berubah menjadi “kehilangan dompet.”
Risiko Scalping Saham untuk Pemula
Meski terlihat sederhana, scalping punya risiko nyata:
Kerugian cepat jika terlalu sering salah ambil posisi
Biaya transaksi (fee beli-jual) bisa menggerus keuntungan
Emosi mudah terpancing karena pergerakan harga yang cepat
Tanpa aturan dan disiplin yang jelas, modal bisa terkikis perlahan tanpa terasa.
Apakah Scalping Cocok untuk Semua Orang?
Jawabannya: tidak.
Scalping lebih cocok untuk mereka yang:
Bisa fokus memantau pasar
Disiplin mengikuti rencana
Mau belajar dari kesalahan kecil
Sebaliknya, bagi investor yang berorientasi jangka panjang atau tidak punya banyak waktu memantau pasar, strategi ini kurang ideal.
Bukan Jalan Pintas, Tapi Proses Belajar
Scalping atau “copet saham” bukan cara cepat kaya. Ini adalah strategi jangka pendek yang menuntut latihan, disiplin, dan pengendalian emosi.
Bagi pemula, gunakan modal yang siap risiko, pahami aturan main pasar di Bursa Efek Indonesia, dan patuhi prinsip kehati-hatian yang selalu diingatkan regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan.
Jika dilakukan dengan pemahaman yang benar, scalping bisa menjadi sarana belajar membaca pasar. Jika dilakukan asal-asalan, risikonya justru lebih besar dari potensi untungnya.
(*)




