Notification

×

Iklan

Iklan

Belajar dari Dapur Silicon: Saat Indonesia Menyiapkan 15.000 Otak untuk Industri Chip

24 Februari 2026 | 11:15 WIB Last Updated 2026-02-24T04:15:01Z


Jakarta, pasbana - Indonesia tampaknya tak mau sekadar jadi pasar teknologi. Kali ini, pemerintah memilih masuk ke “dapur”-nya: desain chip.

Istana Kepresidenan mengumumkan Danantara resmi meneken framework kerja sama dengan Arm Ltd., raksasa semikonduktor global, untuk melatih 15.000 engineer Indonesia dalam desain chip. Ini bukan kursus biasa. Targetnya jelas: membangun kekuatan intellectual property (IP) nasional di enam sektor strategis—otomotif, internet of things, data center, peralatan rumah tangga, autonomous vehicle, hingga quantum computing.

Mengapa desain chip? Karena di era ekonomi digital, chip adalah “otak” dari hampir semua perangkat modern. Dari mobil listrik sampai kulkas pintar, semuanya bergantung pada rancangan semikonduktor. Negara yang menguasai desain, menguasai nilai tambah.

Pemerintah sebelumnya telah menyiapkan pendanaan awal sebesar US$125 juta pada Januari 2026 untuk membangun ekosistem semikonduktor bersama Arm Ltd. Dana ini menjadi fondasi untuk mencetak talenta sekaligus membangun rantai industri yang lebih mandiri.

Langkah ini patut dibaca sebagai strategi jangka panjang. Alih-alih hanya menarik pabrik perakitan, Indonesia mulai berani masuk ke hulu—ke riset dan desain. Tantangannya tentu tak ringan: kualitas SDM, kesiapan kampus, hingga kesinambungan proyek.

Namun satu hal jelas: investasi pada otak manusia selalu lebih tahan lama dibanding subsidi sesaat. Jika 15.000 engineer ini benar-benar lahir sebagai desainer chip kelas dunia, Indonesia tak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta. Dan di situlah masa depan ekonomi digital ditentukan.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update