Pasbana - Di pasar saham, membeli saham murah sering terdengar sederhana. Tapi kenyataannya, “murah” tidak selalu berarti “layak dibeli”. Banyak investor pemula terjebak saham harga rendah yang tak kunjung naik, seperti membeli buah diskon tapi ternyata sudah busuk.
Mari kita bahas proses sederhana namun efektif untuk mencari saham murah sekaligus investable, berbasis praktik nyata di pasar modal Indonesia.
Pendekatan ini sering disebut bottom-up approach—fokus pada kualitas emiten, bukan sekadar mengikuti tren indeks.
1. Teknikal: Cari Harga Diskon, Bukan Euforia
Langkah awal adalah menyaring saham yang secara teknikal sedang oversold (misalnya RSI dan Stochastic RSI di area rendah) atau sideways dalam beberapa bulan. Artinya, harga sedang tertekan atau belum dilirik pelaku besar.
Kenapa ini penting? Karena membeli saat euforia tinggi berisiko jadi exit liquidity—kita masuk, bandar keluar. Dengan teknikal yang “adem”, peluang buy lower lebih terbuka. Tapi ingat, tidak semua saham oversold akan berbalik arah. Di sinilah kinerja berbicara.
2. Kinerja: Mesin Utama Kenaikan Harga
Saham yang sehat punya pertumbuhan pendapatan dan laba yang konsisten, terutama secara kuartalan (year-on-year). Tidak harus tahunan, karena kita ingin menangkap fase turnaround.
Contoh menarik adalah saat laba tumbuh triple digit, tapi harga saham baru naik belasan persen. Ini bisa jadi hidden gem. Bahkan jika laba turun sementara tapi pendapatan naik, bisa jadi hanya karena biaya temporer—bukan masalah struktural.
Dividen rutin dengan payout ratio wajar adalah bonus. Tapi bila tak ada dividen, investor perlu paham: apakah karena laba dipakai ekspansi atau sekadar emiten “pelit”. Emiten tanpa kejelasan sering membuat investor kehilangan conviction dan tidur tak nyenyak.
3. Valuasi: Murah Itu Relatif
Valuasi bukan sekadar PER di bawah 10x atau PBV di bawah 1x. Pasar biasanya sudah menghargai kinerja bagus. Yang dicari adalah valuasi masuk akal dengan prospek yang belum sepenuhnya dihargai pasar.
Ada beberapa saham yang dijual dengan harga murah, dengan kinerja tumbuh dan momentum industri positif— ini memang langka, tapi nyata. Saham seperti ini naik bukan karena rumor, melainkan kombinasi kinerja dan valuasi yang selaras.
Mencari saham murah dan layak investasi bukan soal cepat-cepat beli, tapi soal sabar menyaring. Banyak saham hanya berakhir di watchlist hingga pasar panik memberi harga diskon. Proses ini butuh stamina mental, tapi hasilnya sepadan.
Teruslah belajar, baca laporan keuangan, dan tingkatkan literasi finansial. Simak juga artikel kami berikutnya tentang cara membaca laporan keuangan tanpa pusing, agar keputusan investasi makin matang. (*)




