Padang Panjang, pasbana - Di sudut Perumahan Gunung Saiyo, Padang Panjang Timur, geliat perubahan itu tumbuh dari rumah sederhana. Namanya Farida. Sehari-hari ia dikenal sebagai kader lingkungan hidup yang aktif di PKK, Dasawisma, hingga Kelompok Wanita Tani di Kelurahan Koto Panjang. Namun bagi warga sekitar, Farida lebih dari sekadar aktivis—ia adalah motor kecil revolusi sampah.
Berbekal kreativitas dan kepedulian, Farida mengubah limbah plastik bekas kemasan minyak goreng menjadi tas belanja yang kuat dan menarik. Tas daur ulang itu dijual seharga Rp20 ribu per buah. “Daripada dibuang dan mencemari lingkungan, lebih baik kita olah jadi barang berguna,” ujarnya.
Tak berhenti di situ. Sampah organik rumah tangga seperti kulit buah dan sisa sayuran ia fermentasi menjadi ECO enzyme—cairan multifungsi yang bisa dimanfaatkan sebagai pembersih alami, pupuk cair, hingga pengurang bau. Produk ini dijual Rp20 ribu untuk kemasan 1.500 ml dan Rp10 ribu untuk 600 ml.
Gerakan kecil ini sejalan dengan semangat pengelolaan sampah berbasis rumah tangga yang juga didorong oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan, lebih dari 30 persen timbunan sampah nasional berasal dari sampah rumah tangga, dengan porsi besar berupa sampah organik dan plastik. Artinya, jika dikelola dari dapur masing-masing, dampaknya bisa signifikan.
Farida juga memperkenalkan ecobrick—botol plastik yang diisi padat dengan sampah non-organik—yang ia sulap menjadi pot bunga cantik. Selain mengurangi residu plastik, ecobrick menjadi sarana edukasi visual bahwa sampah pun bisa “naik kelas”.
Gerakan ini bukan sekadar soal ekonomi tambahan. Lebih dari itu, ia membangun kesadaran kolektif. Warga yang awalnya ragu kini mulai memilah sampah dari rumah. Anak-anak belajar bahwa plastik tak selalu berakhir di sungai.
“Yang penting konsisten,” kata Farida.
“Yang penting konsisten,” kata Farida.
Baginya, perubahan lingkungan tak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Cukup dari satu rumah yang mau bergerak.
Bagi yang ingin mendukung produk daur ulang ini, Farida dapat dihubungi melalui Instagram @_farida.mul atau WhatsApp di 0852-6461-1302. Warga juga bisa datang langsung ke Perumahan Gunung Saiyo Padang Reno No.43 RT 18, Koto Panjang, Padang Panjang Timur.
Di tengah isu darurat sampah yang kian nyata, kisah Farida menjadi pengingat: solusi sering kali lahir dari tangan-tangan sederhana yang memilih untuk peduli. Dan dari Koto Panjang, pesan itu mengalir—bahwa bumi yang lebih bersih selalu dimulai dari rumah sendiri.(*)






