Notification

×

Iklan

Iklan

Di Persimpangan Dua Budaya: Pasaman dan Harmoni Minang–Mandailing yang Terjaga Zaman

07 Februari 2026 | 08:00 WIB Last Updated 2026-02-07T01:19:32Z


Pasbana - Di Pasaman, perbatasan bukanlah garis pemisah. Ia justru menjadi ruang perjumpaan—tempat dua kebudayaan besar di Sumatra saling bertaut, berdialog, lalu melahirkan identitas baru yang khas. 

Di wilayah ini, budaya Minangkabau dan Mandailing tidak berdiri berhadap-hadapan, melainkan saling meresap, membentuk harmoni sosial yang unik dan jarang ditemukan di daerah lain.

Pasaman dan Pasaman Barat dikenal sebagai kawasan “lintas budaya” di Sumatra Barat. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Sumatra Utara menjadikan wilayah ini sejak lama menjadi jalur migrasi, perdagangan, dan interaksi antaretnis. Dari proses panjang inilah akulturasi Minang–Mandailing tumbuh, hidup, dan diwariskan lintas generasi.

Dari Marga ke Suku: Identitas yang Lentur


Salah satu fenomena sosial paling menarik di Pasaman adalah perubahan sistem kekerabatan. Mandailing dikenal menganut sistem patrilineal—garis keturunan ayah—sementara Minangkabau memegang teguh sistem matrilineal. Namun di beberapa nagari seperti Buayan dan Simpang Tonang, batas itu menjadi lebih lentur.

Di kawasan ini, masyarakat Mandailing tidak sepenuhnya melepaskan identitas marganya—seperti Lubis, Nasution, atau Siregar—namun mulai mengadopsi pola hidup Minangkabau, termasuk pengakuan terhadap suku dan peran ninik mamak.

Lahir pula identitas lokal seperti “Alak Pangtonang”, sebutan bagi komunitas yang secara kultural Minang, tetapi secara genealogis masih menyimpan akar Mandailing.

Menurut antropolog Koentjaraningrat, akulturasi semacam ini adalah bentuk adaptasi sosial yang sehat, di mana unsur budaya baru diterima tanpa menghilangkan identitas lama. Pasaman menjadi contoh konkret teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa yang Tak Pernah Bertengkar


Di pasar, di lapau kopi, atau di halaman rumah, pemandangan ini jamak terjadi: seseorang bertanya dengan bahasa Mandailing, lalu dijawab dengan bahasa Minangkabau—tanpa kebingungan, tanpa salah paham. Fenomena dwibahasa ini sudah menjadi keseharian masyarakat perbatasan.

Para ahli linguistik menyebutnya sebagai bilingualisme fungsional, di mana masyarakat mampu memahami dua bahasa daerah sekaligus dan menggunakannya secara fleksibel sesuai konteks sosial. Kondisi ini memperkaya kosakata lokal sekaligus memperkuat toleransi budaya sejak tingkat paling dasar: komunikasi.

Pernikahan: Ketika Dua Adat Duduk Bersanding


Akulturasi juga tampak jelas dalam prosesi pernikahan. Di wilayah seperti Ujung Gading, adat Mandailing dan Minangkabau tidak saling meniadakan, melainkan dirangkai menjadi satu.

Prosesi meminang oleh pihak laki-laki—tradisi khas Mandailing—tetap dijalankan. Namun rangkaian upacara berikutnya mengadopsi tata cara Minangkabau, lengkap dengan peran ninik mamak dan musyawarah keluarga. Hasilnya adalah seremoni adat yang kaya makna, mencerminkan kompromi budaya yang elegan.

Ronggiang Pasaman: Seni yang Merangkum Sejarah


Jika budaya memiliki suara, maka Ronggiang Pasaman adalah salah satu yang paling lantang. Kesenian ini merupakan wujud akulturasi paling nyata—menggabungkan unsur Minangkabau, Mandailing, bahkan pengaruh Jawa.

Ronggiang ditampilkan dengan iringan musik tradisional dan pantun berbalas yang jenaka sekaligus reflektif. Dalam satu pertunjukan, penonton bisa menemukan nilai hiburan, kritik sosial, hingga pesan moral yang disampaikan secara ringan.

Di sisi lain, alat musik khas Mandailing seperti Gordang Sambilan juga masih lestari dan dimainkan dalam berbagai upacara adat di Pasaman. Ini menandakan bahwa akulturasi tidak berarti penghapusan, melainkan pelestarian dalam konteks baru.

Dari Dapur ke Meja Makan: Rasa yang Menyatukan


Akulturasi budaya juga menyentuh urusan paling akrab: makanan. Tuk-tuk daun ubi, masakan khas Mandailing berbahan daun singkong tumbuk dengan bumbu khas, kini menjadi menu favorit lintas etnis di Pasaman. Ia dimasak, disajikan, dan dinikmati tanpa label etnis—seolah menjadi milik bersama.

Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), kuliner adalah salah satu medium akulturasi paling efektif karena bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Harmoni yang Relevan di Tengah Zaman


Di tengah menguatnya politik identitas dan gesekan sosial di berbagai daerah, Pasaman justru menawarkan pelajaran penting: keberagaman tidak harus dirayakan dengan slogan besar, cukup dengan praktik hidup yang saling menghormati.

Perpaduan Minang–Mandailing di Pasaman bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi realitas yang terus hidup. Ia tumbuh dalam bahasa, adat, seni, hingga dapur rumah tangga.

 Sebuah harmoni yang tidak dibangun dengan paksaan, melainkan dengan kesadaran bahwa perbedaan adalah ruang untuk saling belajar. Makin tahu Indonesia.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update