Pasbana - Awal tahun biasanya identik dengan mesin birokrasi yang masih pemanasan. Tapi Januari 2026 menunjukkan cerita berbeda. Pemerintah langsung menginjak pedal belanja cukup dalam.
Hasilnya? APBN mencatat defisit Rp54,6 triliun atau 0,21% terhadap PDB—lebih lebar dibanding Januari tahun lalu yang 0,09%.
Namun, sebelum buru-buru cemas, mari kita lihat gambarnya lebih utuh.
Pendapatan negara tumbuh 9,5% secara tahunan menjadi Rp172,7 triliun. Mesin utamanya adalah pajak yang melonjak 30,7% YoY. Pajak bruto naik 7%, sementara restitusi justru turun 23%. Kombinasi ini membuat setoran bersih pajak terdongkrak signifikan. Kontributor terbesar? PPN dan PPnBM yang naik 7,7% YoY—indikasi konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi masih bergerak.
Di sisi lain, belanja negara melonjak 25,7% YoY menjadi Rp227,3 triliun—nominal Januari tertinggi setidaknya sejak 2019. Pemerintah tampak sengaja “gaspol” di awal tahun. Fokusnya jelas: menjaga daya beli dan menopang pertumbuhan kuartal pertama.
Salah satu pendorongnya adalah program Makan Bergizi Gratis yang sudah menyerap Rp19,5 triliun, jauh melampaui realisasi Januari tahun lalu yang masih puluhan miliar rupiah. Ini bukan sekadar belanja, tapi strategi fiskal: uang negara diputar lebih cepat agar ekonomi ikut berputar.
Jika merujuk proyeksi belanja kuartal I sebesar Rp809 triliun, maka realisasi Januari sudah sekitar 28% dari target tiga bulan. Artinya, pemerintah benar-benar mengubah pola lama yang menumpuk belanja di akhir tahun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis akselerasi ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I ke kisaran 5,5–6% YoY, lebih tinggi dari 5,39% pada kuartal IV 2025.
Tetap saja, defisit yang melebar menjadi pengingat bahwa ruang fiskal harus dijaga. Pemerintah menegaskan komitmennya mempertahankan defisit di bawah 3% PDB sepanjang 2026.
Jadi, apakah defisit ini alarm bahaya? Belum tentu. Untuk saat ini, ini lebih mirip strategi: berani belanja di depan demi menjaga momentum ekonomi. Tantangannya tinggal satu—memastikan gas yang ditekan hari ini benar-benar menghasilkan tenaga pertumbuhan, bukan sekadar angka di laporan. (*)




