Pasbana - Di antara deretan kuliner Minangkabau yang sudah mendunia—rendang, gulai tunjang, dendeng balado—ada satu menu yang kerap disebut dengan nada setengah berbisik, setengah penuh rindu: gulai gajeboh.
Sebagian orang menyebutnya gajebo. Sebagian lagi cukup tersenyum begitu mendengar namanya. Sebab siapa pun yang pernah mencicipinya tahu, ini bukan sekadar gulai biasa. Ini perayaan lemak, kenikmatan yang membuat lidah bahagia, meski jantung perlu diingatkan untuk tetap waspada.
Tak berlebihan jika gulai gajeboh dijuluki sebagai “makanan surga” versi Minangkabau. Surga yang, tentu saja, sebaiknya dikunjungi sesekali saja.
Lemak yang Jadi Bintang Utama
Berbeda dari kebanyakan gulai Padang yang mengandalkan daging atau jeroan, gajeboh justru menjadikan lemak sapi sebagai tokoh utama. Bahan yang digunakan umumnya berasal dari sandung lamur (brisket) atau punuk sapi, bagian yang kaya jaringan lemak kenyal dan serat kolagen.
Dalam tradisi rumah makan Padang, kualitas gajeboh bahkan punya “kelasnya” sendiri.
Para penikmatnya membagi dalam tiga kategori tak resmi:
- Cukup lemak, lebih ramah bagi pemula karena dagingnya masih dominan.
- Lemak berlimpah, keseimbangan antara kenyal dan lumer.
- Lemak semua, kasta tertinggi yang diburu para puritan gajeboh—nyaris tanpa daging, hanya lemak yang meleleh di mulut.
Tekstur inilah yang membuat gajeboh istimewa. Lemaknya tidak keras, melainkan lumer perlahan, menyatu dengan kuah yang kaya rempah.
Kuah Merah, Rasa Berlapis
Sekilas, gulai gajeboh tampak seperti gulai merah khas Padang pada umumnya. Namun begitu diseruput, karakternya langsung terasa berbeda. Kuahnya kental, berwarna merah bata, dengan perpaduan rasa gurih santan, pedas cabai, dan sentuhan asam segar.
Sebagian perantau Minang menyebut rasanya mendekati asam padeh, tetapi banyak versi gajeboh tetap menggunakan santan untuk menjaga kekayaan rasa. Inilah yang membuatnya “berat” namun memuaskan.
Menurut catatan kuliner Minangkabau yang dihimpun dari berbagai literatur gastronomi Nusantara, gajeboh dahulu sering disajikan pada acara adat atau jamuan khusus, bukan menu harian. Alasannya sederhana: bahan bakunya terbatas dan proses memasaknya tidak bisa tergesa-gesa.
Kuliner Langka, Tak Selalu Ada
Di tengah maraknya rumah makan Padang di berbagai kota, gajeboh justru semakin jarang ditemui. Tidak semua restoran menyediakannya setiap hari. Ketersediaan punuk atau brisket berlemak tebal menjadi kendala utama, ditambah waktu memasak yang lama agar lemak benar-benar empuk dan tidak berbau.Karena itu, menemukan gajeboh di etalase rumah makan Padang sering terasa seperti kejutan kecil yang membahagiakan. Tak heran jika media sosial—termasuk TikTok—kerap dipenuhi video berburu gajeboh, lengkap dengan ekspresi bahagia saat sendok pertama menyentuh nasi panas.
Bisa Dibuat di Rumah, Tapi Perlu Sabar
Bagi yang ingin mencoba membuatnya sendiri, resep gulai gajeboh sebenarnya tidak jauh berbeda dari gulai Padang lain. Kuncinya ada pada:- Pemilihan bahan lemak yang segar
- Perebusan awal untuk mengurangi aroma dan membuat tekstur lebih bersih
- Memasak dengan api kecil dalam waktu lama, agar lemak benar-benar lumer dan bumbu meresap
- Tanpa kesabaran, gajeboh tak akan mencapai cita rasa terbaiknya.
Menikmati Gajeboh dengan Bijak
Tak bisa dipungkiri, gulai gajeboh adalah menu tinggi lemak dan kolesterol. Namun, bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Kuncinya ada pada porsi dan keseimbangan.
Beberapa tips alami dan aman setelah menikmati gajeboh:
- Perbanyak air putih hangat untuk membantu metabolisme lemak.
- Konsumsi buah berserat tinggi, seperti pepaya atau apel, setelah makan.
- Minum teh hijau atau teh tawar hangat, yang dikenal membantu proses pencernaan lemak.
- Berjalan santai 10–15 menit, jangan langsung duduk atau rebahan.
- Seimbangkan dengan sayuran pada waktu makan berikutnya.
Menurut berbagai referensi kesehatan, konsumsi makanan berlemak sesekali masih aman bagi orang sehat, selama diimbangi dengan pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang cukup.
Warisan Rasa yang Layak Dijaga
Gulai gajeboh bukan sekadar makanan. Ia adalah warisan rasa, bagian dari identitas kuliner Minangkabau yang jujur, berani, dan apa adanya. Lemaknya tidak disembunyikan, justru dirayakan.
Di tengah tren makanan sehat dan diet ketat, gajeboh hadir sebagai pengingat: bahwa sesekali, menikmati hidup—dan lemak—adalah bagian dari kebahagiaan. Asal tahu kapan berhenti.
Dan mungkin, di situlah kelezatan sejatinya. Makin tahu Indonesia. (*)






